Mengapa Orang yang Ngutang Lebih Galak Saat Ditagih?

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di Indonesia, praktik berutang sering dianggap sebagai solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan mulai dari yang mendesak hingga dorongan gaya hidup. Namun paradoksnya, banyak orang yang berutang kerap lebih galak dan agresif saat ditagih. Mengapa hal ini terjadi?

Psikiater dr Riati Sri Hartini mengatakan respons galak dan agresif saat ditagih utang berkaitan erat dengan stres finansial dan ancaman terhadap harga diri. Dari sisi psikologis dan neurosains, penagihan utang dapat memicu tekanan berat yang mengikis kemampuan seseorang dalam mengelola emosi.

Baca Juga
  • Prilly Latuconsina Minta Maaf atas Kontroversi ‘Open to Work’ di LinkedIn
  • 'Jangan Ada Lagi Nyawa Anak Hilang karena tak Mampu Beli Buku'
  • Baru 35 Tahun, Takato Ishida Jadi Gubernur Termuda di Jepang

Secara biologis, lanjut dr Riati, tekanan tersebut mengaktifkan amigdala yaitu bagian otak yang berperan sebagai pusat deteksi ancaman. Selain itu juga melemahkan fungsi prefrontal cortex yang bertanggung jawab terhadap penilaian rasional dan regulasi emosi.

"Jadi perilaku galak saat ditagih utang bukan semata-mata persoalan sikap. Itu adalah respons psikologis-biologis terhadap stres, rasa malu, dan ancaman identitas diri dalam kondisi finansial yang tertekan," kata dr Riati dalam keterangan tertulis dikutip pada Rabu (4/2/2026).

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Dia menegaskan reaksi galak tersebut tidak serta-merta menandakan gangguan kejiwaan. la mengategorikan galak saat ditagih utang sebagai respons stres akut, yaitu reaksi normal tubuh dan otak saat menghadapi tekanan berat atau ancaman mendadak.

Respons serupa dapat muncul ketika seseorang merasa terancam secara psikologis, menghadapi frustrasi, konflik interpersonal intens, atau kelelahan fisik dan emosional. "Masalah keuangan membuat tubuh dan pikiran berada dalam kondisi stres. Ketika ditagih, perasaan malu, takut, dan terpojok bisa muncul bersamaan, sehingga orang bereaksi dengan emosi tinggi. Ini lebih mirip refleks orang yang kaget, bukan karena sakit jiwa," kata dia.

Meski begitu menurutnya, stres keuangan, termasuk tekanan akibat utang, memang dapat meningkatkan risiko gangguan mental seperti kecemasan dan depresi. Namun, utang bukanlah penyebab tunggal gangguan mental.

"Penyebab gangguan mental bersifat multifaktor, melibatkan aspek biologis, ekonomi, sosial, dan psikologis," kata dia.

la menyebut respons saat ditagih juga dipengaruhi siapa yang menagih. Jika teman atau orang dekat, reaksi biasanya muncul sebagai rasa malu atau tersinggung karena harga diri dan hubungan sosial terancam. Sementara jika debt collector, situasi lebih sering dipersepsikan sebagai ancaman, sehingga memicu agresi lebih besar.

Terkait cara menghadapi orang yang galak saat ditagih utang, dr Riati menyarankan untuk tidak melawan atau menekan. Biasanya, kemarahan mereka muncul karena tekanan dan kewalahan, bukan niat mencari keributan.

Pendekatan terbaik adalah menenangkan situasi, berbicara dengan nada tenang, tidak menyudutkan, dan mengajak mencari solusi bersama. Cara ini membantu menurunkan emosi sehingga pembicaraan bisa berlangsung lebih rasional.

"Intinya, orang yang galak saat ditagih utang bukan perlu dimarahi, tetapi ditenangkan dan diajak mencari jalan keluar agar masalah tidak semakin besar," kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ameera Network (@ameeranetwork)

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tanggapan Mensos Soal Kematian Siswa SD di NTT: Ini Bukan Kasus Individual, Data Kita Bocor!
• 17 jam lalusuara.com
thumb
Prabowo Dijadwalkan Bertemu Donald Trump di AS, Bahas Tarif Impor dan Board of Peace
• 16 jam lalusuara.com
thumb
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah 2026 sebesar Rp50 Ribu per Jiwa
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Pemerintah Serahkan DIM Revisi UU P2SK ke DPR untuk Dibahas Panja
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Kim Seon-ho Diduga Gunakan Perusahaan Keluarga untuk Menghindari Pajak
• 3 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.