Mengapa Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 Lebih Berbahaya bagi Mata?

mediaindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita

FENOMENA Gerhana Matahari Cincin (GMC) akan kembali menyapa Bumi pada Selasa, 17 Februari 2026. Meskipun menawarkan pemandangan "Cincin Api" yang memukau, para peneliti dan dokter mata memberikan peringatan keras: fenomena gerhana matahari cincin 17 Februari medatang secara teknis lebih berbahaya bagi mata manusia dibandingkan Gerhana Matahari Total.

Ketiadaan Fase Totalitas yang Aman

Perbedaan utama yang membuat Gerhana Matahari Cincin lebih berisiko adalah ketiadaan fase totalitas. Pada Gerhana Matahari Total, ada jendela waktu singkat ketika Bulan menutupi Matahari sepenuhnya, sehingga korona matahari yang redup aman dilihat dengan mata telanjang selama beberapa detik.

Namun, pada Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026, Bulan berada di titik terjauh dari Bumi (apogee). Hal ini menyebabkan piringan Bulan tampak lebih kecil dan tidak mampu menutupi seluruh permukaan Matahari. Akibatnya, sekitar 8 hingga 12 persen cahaya matahari tetap terpancar di pinggiran piringan bulan.

Baca juga : Gerhana Matahari Cincin 17 Februari Jadi Penanda Alam Awal Ramadan 2026

Cahaya yang tersisa pada fase cincin tetap membawa radiasi ultraviolet (UV) dan inframerah yang sangat intens. Menatapnya tanpa pelindung dapat membakar jaringan mata secara permanen dalam hitungan detik.

Ancaman Solar Retinopathy Tanpa Rasa Sakit

Bahaya terbesar dari menatap Gerhana Matahari Cincin secara langsung adalah kondisi medis yang disebut solar retinopathy. Ketika mata menatap langsung ke arah matahari, lensa mata akan memfokuskan sinar UV tepat ke retina, jaringan sensitif cahaya di bagian belakang mata.

Paparan radiasi ini memicu reaksi kimia yang merusak sel batang dan sel kerucut pada retina. Yang paling mengkhawatirkan, retina manusia tidak memiliki saraf perasa sakit. Hal ini berarti seseorang tidak akan merasa perih atau sakit saat matanya sedang "terbakar" oleh radiasi matahari.

Baca juga : Gerhana Matahari Cincin 17 Februari Lebih Berbahaya dari Gerhana Total, Benarkah?

Gejala kerusakan penglihatan biasanya tidak muncul seketika, melainkan baru terasa 12 hingga 24 jam setelah terpapar. Gejala tersebut meliputi:

  • Pandangan kabur atau berbayang.
  • Munculnya bintik hitam (scotoma) tepat di tengah penglihatan.
  • Distorsi warna atau kesulitan melihat detail objek.
Cara Mengamati yang Benar

Meskipun fenomena 17 Februari 2026 ini tidak melintasi wilayah Indonesia, edukasi mengenai pengamatan yang aman tetap krusial. Berikut adalah perbandingan alat pengamatan:

Metode / Alat Tingkat Keamanan Kacamata Gerhana ISO 12312-2 Sangat Aman Proyeksi Lubang Jarum (Pinhole) Sangat Aman Kacamata Hitam Biasa Berbahaya Film Rontgen / Disket Lama Sangat Berbahaya

Para ahli menyarankan masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena ini untuk menggunakan kanal siaran langsung (live streaming) resmi dari lembaga antariksa dunia guna menghindari risiko kesehatan mata. (H-3)

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pramono Tawari Andra Soni Bantu Angkut Sampah Tangsel: Kalau Bersama Lebih Gampang
• 12 jam lalukompas.com
thumb
16 Ormas Islam Setuju Indonesia Gabung Board of Peace untuk Kemerdekaan Palestina
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Potret Kebakaran Hutan Hanguskan 50.000 Hektare Lahan, Status Darurat
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hari Ketiga Pencarian Longsor Tambang, Satu Korban Masih Belum Ditemukan
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
TBM Pustaka Gema Ilmu Resmi Dibuka di Kebonagung, Dorong Literasi dan Pemberdayaan Masyarakat
• 10 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.