Gawai di Sekolah: Mendukung Pembelajaran atau Sumber Distraksi?

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Penggunaan gawai di lingkungan sekolah kembali menjadi perbincangan hangat. Di satu sisi, perangkat seperti ponsel pintar dan tablet dianggap mampu mendukung proses pembelajaran yang lebih modern dan fleksibel. Namun di sisi lain, kehadirannya dinilai berpotensi mengganggu fokus siswa dan menimbulkan masalah baru di dunia pendidikan.

Seiring pesatnya perkembangan teknologi, sekolah-sekolah di Indonesia tak bisa sepenuhnya menghindari gawai. Aplikasi pembelajaran, buku digital, hingga akses informasi yang luas menjadi alasan utama mengapa gawai mulai dilibatkan dalam aktivitas belajar mengajar.

“Anak-anak sekarang adalah generasi digital. Menutup akses gawai sepenuhnya justru membuat sekolah tertinggal,” Agung salah satu guru SDN CIBADAK BOGOR.

Menurutnya, gawai dapat menjadi alat bantu belajar yang efektif jika digunakan dengan pengawasan dan aturan yang jelas. Siswa bisa mengakses materi pembelajaran, menonton video edukatif, hingga mengerjakan tugas secara daring.

Ketika Gawai Menjadi Distraksi

Namun, tidak semua pihak sepakat. Beberapa orang tua dan pendidik menilai gawai lebih sering menjadi sumber distraksi dibandingkan manfaatnya. Media sosial, gim daring, dan konten hiburan kerap mengalihkan perhatian siswa dari pelajaran.

“Awalnya untuk mencari materi, tapi ujung-ujungnya main gim,” keluh seorang orang tua siswa sekolah dasar.

Data dari berbagai survei pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan gawai tanpa kontrol dapat menurunkan konsentrasi belajar, memicu ketergantungan digital, bahkan memengaruhi interaksi sosial anak di lingkungan sekolah.

Di Tengah Pro dan Kontra, Di Mana Solusinya?

Sejumlah sekolah mencoba mengambil jalan tengah. Alih-alih melarang total, sekolah menerapkan kebijakan penggunaan gawai terbatas misalnya hanya digunakan saat pembelajaran tertentu dan disimpan kembali setelah selesai.

Dalam berbagai laporan kebijakan pendidikan digital, UNESCO menegaskan bahwa tantangan utama bukan ada-tidaknya teknologi, tetapi kesiapan guru, literasi digital siswa, dan pengawasan berkelanjutan.

“Gawai adalah alat. Baik atau buruknya sangat tergantung pada cara kita menggunakannya,” ujar Reza seorang dosen.

Penggunaan gawai di sekolah pada dasarnya bukanlah persoalan hitam dan putih. Di satu sisi, gawai memiliki potensi besar untuk mendukung pembelajaran melalui akses informasi yang luas, metode belajar yang lebih interaktif, serta penguatan literasi digital siswa. Di sisi lain, tanpa pengawasan dan aturan yang jelas, gawai dapat berubah menjadi sumber distraksi yang mengganggu konsentrasi, menurunkan kualitas belajar, dan memengaruhi perilaku sosial siswa.

Oleh karena itu, solusi yang paling relevan bukanlah pelarangan total maupun pembebasan penuh, melainkan pengelolaan yang bijak dan terarah. Sekolah, guru, dan orang tua perlu bekerja sama dalam menetapkan kebijakan penggunaan gawai yang proporsional, disertai dengan pendidikan literasi digital dan pembentukan karakter. Dengan pendekatan tersebut, gawai dapat dimaksimalkan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan menjadi penghambat dalam proses pendidikan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polda Metro Jaya Panggil Pandji Pragiwaksono Buntut Laporan Soal "Mens Rea": Kami Minta Klarifikasi
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
5 Cara Sederhana untuk Menjadi Orang yang Lebih Baik
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Israel Terus Serang Gaza di Tengah Gencatan Senjata, Apa Langkah Konkret Board of Peace?
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
NATO Siapkan Misi Baru di Arktik Buntut Ambisi Trump Rebut Greenland
• 14 jam laludetik.com
thumb
Siswa SD NTT Bunuh Diri, Komisi X: Tamparan Keras Dunia Pendidikan
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.