Kelistrikan Asia Terancam Usai RI Akan Hentikan Sementara Ekspor Batu Bara

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Perusahaan utilitas listrik di berbagai negara Asia mulai bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan setelah penambang di Indonesia, produsen batu bara terbesar dunia, berencana menghentikan sementara ekspor batu bara spot. Langkah tersebut merupakan bentuk protes terhadap rencana pemerintah Indonesia yang berencana membatasi produksi melalui skema kuota.

Dikutip dari Reuters, Kamis (5/2), seorang pejabat industri pertambangan Indonesia menyatakan ekspor yang terikat kontrak jangka panjang masih berjalan. Namun, pengiriman spot akan dibatasi hingga pemerintah menetapkan keputusan final terkait kuota produksi. Ia juga mengingatkan sebagian kontrak jangka panjang berisiko terganggu apabila kondisi di lapangan memburuk.

Indonesia menyuplai sekitar separuh dari total ekspor batu bara termal global pada 2025 dan menjadi pemasok utama bagi sejumlah importir besar seperti China, India, Vietnam, dan Filipina. Namun, tekanan harga global yang lemah dalam beberapa waktu terakhir mendorong pemerintah mengkaji pemangkasan produksi guna menopang harga ekspor dan meningkatkan penerimaan negara.

Rencana tersebut menuai penolakan dari pelaku industri. Sejumlah perusahaan tambang memperingatkan pembatasan produksi dapat memicu pemutusan hubungan kerja dan penutupan tambang, sehingga menambah tekanan bagi pemerintah untuk segera mencari titik temu sebelum aktivitas ekspor terganggu lebih jauh.

Indonesia sebelumnya pernah menghentikan ekspor batu bara pada 2022 akibat kekurangan pasokan untuk pembangkit listrik domestik. Kebijakan itu sempat memicu lonjakan tajam harga batu bara global. Dampak serupa mulai terlihat kembali, dengan harga batu bara termal Asia naik sekitar 9 persen dan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari setahun.

"Pelaku pasar memperkirakan harga masih berpotensi menguat apabila gangguan pasokan dari Indonesia berlanjut, seiring negara-negara importir berupaya mengamankan pasokan alternatif dari eksportir lain," kolumnis Reuters, Gavin Maguire.

Ketergantungan Tinggi

Data perusahaan komoditas Kpler menunjukkan, 16 negara mengimpor sedikitnya 1 juta metrik ton batu bara termal dari Indonesia sepanjang 2025. Negara-negara tersebut mencakup sebagian besar konsumen batu bara terbesar di dunia.

Meski China dan India masih mengandalkan produksi domestik untuk memenuhi mayoritas kebutuhan batu bara, sejumlah negara Asia Tenggara dan Asia Selatan hampir sepenuhnya bergantung pada impor. Sistem kelistrikan di negara-negara tersebut juga masih menjadikan batu bara sebagai sumber utama listrik.

"Tekanan pasokan ini datang pada saat utilitas listrik Asia menghadapi lonjakan permintaan musiman dan masih mengandalkan batu bara untuk lebih dari separuh total produksi listrik regional," kata Maguire.

Negara Paling Rentan

Filipina, Bangladesh, Vietnam, dan Malaysia dinilai sebagai negara yang paling rentan terdampak. Filipina tercatat mengimpor sekitar 98 persen kebutuhan batu baranya dari Indonesia pada 2025, sementara batu bara menyumbang sekitar 57 persen dari total produksi listrik negara tersebut.

Bangladesh juga memperoleh lebih dari 90 persen impor batu baranya dari Indonesia dan mencatat porsi batu bara dalam bauran listrik ke level tertinggi sepanjang sejarah. Malaysia dan Vietnam masing-masing mengandalkan Indonesia untuk lebih dari separuh impor batu bara tahunan mereka, dengan ketergantungan batu bara mencapai 40 persen atau lebih dalam bauran listrik nasional.

Dampak Meluas

Gangguan pasokan juga berpotensi menjalar ke pasar yang relatif kurang bergantung pada impor, seperti China dan India. Sejumlah pembangkit listrik besar di kedua negara tersebut berlokasi dekat pelabuhan dan selama ini mengandalkan batu bara impor karena efisiensi biaya.

Jika harga batu bara internasional terus naik, pembangkit-pembangkit tersebut dapat beralih ke pasokan domestik, namun dengan biaya logistik yang lebih tinggi akibat penggunaan transportasi darat.

"Dengan demikian, meskipun negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan kemungkinan menjadi pihak pertama yang merasakan dampak, gangguan ekspor batu bara Indonesia berisiko memengaruhi stabilitas pasokan listrik di seluruh Asia," terangnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Lestari Moerdijat Dorong Kewaspadaan Dini Antisipasi Ancaman Virus Nipah
• 22 jam laludetik.com
thumb
Pertamina Resmi Integrasikan Tiga Anak Usaha Hilir
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Marc-Andre Ter Stegen Operasi Hamstring, Absen Bela Girona Selama Dua Bulan
• 14 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Dua Warga Boyolali Menangi Hadiah Undian Tabungan Bima Bank Jateng Rp75 Juta
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Mantan Direktur Penyidikan dan Penindakan Bea Cukai Terjaring OTT KPK!
• 20 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.