Legenda PSM Kurniawan Dwi Yulianto Jadi Pelatih Timnas Indonesia U-17: Pernah Main di Sampdoria dan Bawa Juku Eja Juara

harianfajar
9 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR – Kurniawan Dwi Yulianto resmi mengemban amanah sebagai pelatih Timnas Indonesia U-17. Penunjukan legenda PSM Makassar ini bertujuan untuk mempersiapkan skuad Garuda Muda menghadapi Piala Asia U-17 2026.

Nama Kurniawan sudah tidak asing di dunia sepak bola Tanah Air. Dia pernah membela klub Italia Sampdoria U-19 dan membawa Juku Eja (julukan PSM) juara Liga Indonesia.

Ujian pertama sosok yang akrab disapa “Si Kurus” ini akan tersaji dalam laga persahabatan melawan China U-17 yang dijadwalkan berlangsung pada 8 dan 11 Februari mendatang.

Informasi penunjukan ini mencuat ke publik melalui unggahan akun Instagram @pemain.keduabelass. “PSSI secara resmi menunjuk Kurniawan DY untuk melatih Timnas U-17 yang akan beruji coba melawan China U-17. Selamat bertugas coach!” bunyi keterangan dalam unggahan akun tersebut.

Untuk menghadapi China U-17, sebanyak 28 pemain berbakat telah dipanggil untuk masuk ke dalam skuad pilihan mantan legenda Timnas Indonesia tersebut.

Rekam Jejak Kepelatihan

Sebelum menerima mandat dari PSSI, Kurniawan sempat menjabat sebagai Direktur Teknis di PSPS Pekanbaru. Berdasarkan data Transfermarkt, posisi tersebut ia duduki dalam waktu singkat, yakni sejak 17 Juni hingga 30 September 2025.

Pengalaman Kurniawan sebagai pelatih kepala tercatat saat ia menangani Sabah FA di kasta tertinggi Liga Malaysia (Super League) pada periode 2019 hingga 2022. Dalam 33 laga bersama klub berjuluk Sang Badak tersebut, ia membukukan 6 kemenangan, 10 hasil imbang, dan 17 kekalahan.

Selain itu, ia memiliki portofolio panjang sebagai asisten pelatih di berbagai level, mulai dari Borneo FC hingga Timnas Indonesia kategori usia U-20, U-23, dan Senior.

Salah satu catatan prestisius dalam kariernya adalah saat ia menjadi asisten pelatih di Como U-19 (Italia) tahun 2021-2024, di mana ia sempat bekerja sama dengan bintang dunia, Cesc Fabregas.

Karier sebagai Pemain

Kurniawan Dwi Yulianto bukan sekadar nama dalam sejarah sepak bola Indonesia. Ia adalah simbol ambisi dan ketajaman di lini depan.

Mengawali mimpinya melalui program PSSI Primavera pada tahun 1993, bakat alaminya langsung tercium oleh pemandu bakat Eropa, membawanya menembus skuat Sampdoria U-19 di Italia setahun berselang.

Namun, karier profesional Kurniawan dimulai dengan gebrakan besar di Swiss. Bersama FC Luzern (1994–1996), ia mencatatkan 12 penampilan dan mencetak 3 gol. Pencapaian ini menjadikannya salah satu pemain Indonesia pertama yang mampu bersaing dan mencetak gol di liga kasta tertinggi Eropa.

Raja Gol Liga Indonesia

Sekembalinya ke tanah air, pemain yang akrab disapa “Si Kurus” ini membuktikan kelasnya sebagai predator kotak penalti. Masa keemasannya tercatat di beberapa klub besar.

Di Pelita Jaya (1996–1999) ia menjadi mesin gol dengan catatan impresif 38 gol dari 44 laga.

Kemudian bersama PSM Makassar (1999–2001) Kurniawan tetap menjaga konsistensi tinggi dengan melesakkan 37 gol.

Ketika bermain untuk PSPS Pekanbaru dan Persebaya, dia Terus menunjukkan tajinya dengan torehan dua digit gol di setiap musimnya.

Kurniawan juga sempat mencicipi atmosfer Liga Malaysia bersama Sarawak (2005–2006). Di sana, ia tampil sangat klinis dengan membukukan 29 gol hanya dalam 31 pertandingan. Ini membuktikan bahwa ketajamannya tidak memudar meski bermain di luar negeri.

Memasuki usia senior, dedikasi Kurniawan terhadap sepak bola tidak surut. Ia berkelana membela berbagai klub papan atas hingga klub daerah, mulai dari Persija Jakarta, PSS Sleman, hingga Persela Lamongan. Bahkan di pengujung kariernya bersama Pro Duta dan Persipon Pontianak (2013), ia tetap mampu menyumbangkan gol-gol krusial bagi tim yang dibelanya.

Tinta Emas Bersama PSM Makassar

Masa bakti Kurniawan di PSM Makassar (1999/2000) dianggap sebagai salah satu babak terbaik dalam kariernya. Di bawah asuhan Syamsuddin Umar dan Henk Wullems, Kurniawan menjadi bagian dari “Miniatur Timnas Indonesia” yang menghuni skuad Juku Eja.

Kala itu, PSM diperkuat barisan bintang seperti Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santoso, hingga legiun asing Carlos de Mello. Kehadiran Kurniawan menyempurnakan lini serang bersama Miro Baldo Bento.

Puncaknya terjadi pada laga final Liga Indonesia melawan Pupuk Kaltim. Kurniawan tampil sebagai pahlawan dengan mencetak dua gol dalam kemenangan 3-2. Trofi tersebut menjadi gelar juara Liga Indonesia ketujuh bagi PSM sekaligus mengukuhkan nama Kurniawan sebagai legenda abadi di hati suporter Makassar.

Kini, dengan segala pengalaman internasional dan domestiknya, Kurniawan diharapkan mampu menularkan mental juara tersebut kepada punggawa muda Timnas Indonesia U-17. (*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sehari Dua OTT di Pajak dan Bea Cukai, Purbaya: Kalau Salah Harus Ditindak
• 23 jam laludisway.id
thumb
Link Live Streaming Proliga Hari Ini: Jakarta Pertamina Enduro vs Electric PLN
• 4 jam lalugenpi.co
thumb
Haris Rusly Moti: Strategi Multi-alignment, Manuver Cerdas Prabowo untuk Palestina Merdeka
• 20 jam lalusuara.com
thumb
Seskab Teddy: Iuran Board of Peace Tak Wajib, Indonesia Belum Bayar
• 8 jam laluokezone.com
thumb
DBS Dorong Strategi Investasi di Tengah Tekanan Fiskal Global
• 15 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.