Cerita Kamis Pon di DIY: Saat Pelajar Pakai Busana Jawa Gagrak Ngayogyakarta

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Kamis Pon dalam kalender Jawa menjadi hari yang istimewa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Para pelajar di provinsi tersebut berbondong-bondong berangkat sekolah dengan mengenakan pakaian adat Jawa Gagrak Ngayogyakarta.

Kamis Pon jatuh setiap selapan atau 35 hari sekali. Di hari itu, jalanan pagi di Yogyakarta akan dipenuhi pelajar-pelajar yang berangkat sekolah dengan baju adat.

Ada yang berangkat sendiri, ada pula yang diantar orang tuanya dengan sepeda motor.

Pemandangan pelajar berbusana adat juga tampak di SD Muhammadiyah Suronatan, Ngampilan, Kota Yogyakarta.

Sekolah yang didirikan KH Ahmad Dahlan —pendiri organisasi Muhammadiyah— pada 1918 itu telah bertahun-tahun menjalankan program yang nguri-uri atau melestarikan budaya Jawa.

Kamis (5/2) pagi, para pelajar SD Muhammadiyah Suronatan berangkat lebih pagi. Pukul 06.30 WIB mereka harus tiba di sekolah dan berkumpul di lapangan sekolah.

Dengan antusias, mereka mengikuti pentas budaya. Di sekolah ini tak hanya sekadar mengenakan busana adat Jawa tetapi juga diimplementasikan di kegiatan bernama Kamis Berbudaya.

Mereka berkumpul dan tampil tiap-tiap kelas. Menari sembari menyanyikan lagu-lagu Jawa.

"Acaranya di sekolah kami setiap Kamis Pon bukan sekadar hanya pakai baju Gagrak Jawa tetapi ada namanya Kamis Berbudaya," kata Kepala SD Muhammadiyah Suronatan, Muhammad Slamet Riyanto.

Kamis Berbudaya ini diawali dengan apel pagi yang diikuti semua guru, karyawan, dan siswa. Lalu dilanjutkan dengan sambutan kepala sekolah tentang unggah-ungguh atau sopan santun serta melestarikan budaya Jawa.

"Penampilan anak-anak dari kelas 1 sampai kelas 6. Anak-anak menyanyikan lagu-lagu Jawa supaya mengenal, supaya tidak tergerus zaman," ujarnya.

Slamet mengatakan Kamis Pon selalu disambut antusias tak hanya para siswa tetapi juga orang tua murid.

"Menanamkan kecintaan pada budaya lokal, kearifan lokal, khususnya budaya Ngayogyakarta," katanya.

Dalam kegiatan ini digunakan pula bahasa Krama Inggil atau bahasa Jawa halus.

Slamet mengatakan kebijakan ini juga selaras dengan ajaran KH Ahmad Dahlan yang senantiasa melestarikan budaya Jawa. Apalagi ini sekolah pertama yang didirikan KH Ahmad Dahlan.

"Kami selaras dengan apa yang dicita-citakan KH Ahmad Dahlan," katanya.

"Jadi ini juga merupakan salah satu sekolah unggulan, sekolah favorit nasional. Alhamdulillah kami untuk siswa, untuk tiga tahun mendatang sudah penuh untuk SPMB. Bahkan inden sudah sampai lima tahun mendatang dan pakai seleksi," jelasnya.

Jadi MC Berbahasa Jawa

Antusias juga tampak di wajah salah satu siswa yakni Jelo Feka Banyu Afinna (9 tahun). Apalagi hari ini dia bertugas sebagai pembawa acara berbahasa Jawa atau pranatacara. Sudah tiga kali ini Jelo mendapat tugas tersebut.

"Suka banget (Hari Kamis Pon) jadi kaya ada hari yang dinanti," kata Jelo.

"Sudah tiga kali jadi MC. Suka. (Bahasa Jawa halus) mudah kalau dilatih," katanya.

Jelo mengaku dalam keseharian dirinya masih menggunakan bahasa Jawa. Sementara untuk menyambut Kamis Pon dia telah memiliki dua setel baju adat.

"Memang pemakaian agak ribet. Tapi akhir-akhir ini nyaman saja kok," ujarnya.

Selain Jelo, Aisah Ailani Nasha (9 tahun) juga bertugas menjadi MC. Sehari-hari dia jarang menggunakan bahasa Jawa tapi demi tampil hari ini dirinya berlatih.

"Senang bisa terpilih menjadi MC. Latihan cuma dua hari," kata Aisah.

Aisah juga telah mengoleksi dua baju adat Jawa untuk digunakan di Kamis Pon. "Sukanya gagrak yang warna biru," katanya.

Orang Tua Merasa Bangga

Salah satu orang tua siswa, Surya Adi Lesmana, mengaku bangga dengan kebijakan baju adat di Kamis Pon. Ini membantunya mengenalkan budaya Jawa kepada anaknya Mekahayu yang duduk di kelas 2 SD Muhammadiyah Suronatan.

"Karena anakku juga hari ini memakai dan kebetulan siswa sini, anakku antusias. Baju yang dipakai itu sejak kelas satu dan mulai kekecilan. Sudah berhari-hari dia mengejar-ngejar minta baju yang baru untuk Kamis Berbudaya," kata Surya.

Surya pun menjanjikan pulang sekolah nanti akan membelikan baju adat yang baru untuk Mekahayu. Menurutnya sang anak sangat antusias dengan Kamis Pon.

"Antusias banget anaknya. Kalau dari aku sendiri aku sangat mendukung karena meski sekolah berbasis agama tetapi dia juga nguri-uri budaya," katanya.

Meski diterapkan 35 hari sekali, Surya tak pernah takut anaknya salah seragam. Pasalnya pihak sekolah selalu mengingatkan sebelum Kamis Pon tiba.

"Biasanya itu h-1 atau h-2 sudah diingatkan guru kelasnya melalui WA grup wali. Jadi aman," katanya.

Juga Diterapkan di Bantul

Karena merupakan kebijakan provinsi, penggunaan baju adat di Kamis Pon juga dilaksanakan di kabupaten tak hanya di kota. Misalnya saja di Kabupaten Bantul.

"Termasuk salah satu tujuannya adalah nguri-uri kabudayan Jawa. Selain itu juga mengingat juga menghormati sejarah Hadeging Nagari Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat. Juga supaya siswa bangga mengenakan busana adat Jawa," kata guru SMP N 1 Pandak, Kabupaten Bantul, Lusi Suharyati.

Lusi mengatakan kebijakan pakaian adat Jawa selama ini tidak memberatkan. Jika tak ada baju lurik, siswa diperkenankan pula pakai kebaya.

"Terus kemudian juga bagi yang tidak memiliki selop, ya boleh memakai sepatu sekolah. Yang penting tidak sendal jepit," katanya.

Para guru di SMP N 1 Pandak juga mengenakan baju adat seperti para siswanya. Momen Kamis Pon juga kerap dijadikan ajang foto bersama antara wali kelas dengan para siswanya.

"Respons siswa-siswa malah kadang jika pas Kamis Pon itu suka minta foto bersama wali kelasnya. Mengabadikan momen," kata Lusi.

Kata Pemda DIY

Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Madya (Koordinator Humas) IKP Dinas Kominfo DIY, Ditya Nanaryo Aji, mengatakan penggunaan baju tradisional Jawa Gagrak Yogyakarta kini diwajibkan setiap Kamis Pon. Sebelumnya dilaksanakan Kamis Pahing berdasarkan Surat Edaran Sekda DIY No. 400.5.9.1/40.

"Kebijakan ini menyasar ASN, pegawai, dan pelajar untuk melestarikan budaya dan memperingati berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat," kata Ditya.

"Pemilihan Kamis Pon didasarkan pada peristiwa bersejarah 13 Maret 1755, saat Pangeran Mangkubumi memproklamirkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang bertepatan dengan weton tersebut," jelas Ditya.

Penggunaan baju adat ini tidak hanya setiap Kamis Pon saja, tetapi juga di tanggal-tanggal tertentu untuk memperingati waktu tertentu. "Contohnya Hari Jadi DIY setiap tanggal 13 Maret," pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gubernur Khofifah Jadi Pembicara Kunci Sarasehan Nasional MPR RI tentang Obligasi Daerah
• 5 menit lalutvonenews.com
thumb
KPK Sita Rp 1 Miliar saat OTT Pejabat Pajak di Kalsel
• 4 jam laludetik.com
thumb
Indonesia Gabung BoP, Cak Imin: PKB Dukung Keputusan Prabowo
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Menteri PU Tinjau Jembatan Way Bungur, Bupati Lampung Timur Sampaikan Terima Kasih ke Presiden
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Polisi Gagalkan Peredaran Vape Isi Narkoba di Jakbar dan Tangerang, 2 Orang Ditangkap | KOMPAS MALAM
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.