BANJIR yang mengepung kawasan Jabodetabek sejak akhir Januari 2026 masih belum sepenuhnya surut. Hingga Kamis pagi (29/1), BPBD DKI Jakarta mencatat 17 RT dan dua ruas jalan masih tergenang akibat luapan Kali Ciliwung.
Wilayah Jakarta Timur menjadi titik terberat. Sebanyak 14 RT terdampak, tersebar di Cawang (5 RT), Bidara Cina (4 RT), Kampung Melayu (4 RT), dan Cililitan (1 RT). Di sejumlah lokasi, ketinggian air bahkan mencapai 150 sentimeter, setara dada orang dewasa.
Situasi ini mengingatkan kembali pada puncak banjir yang terjadi 23 Januari lalu, ketika 143 RT dan 16 ruas jalan di Jakarta terendam secara bersamaan. Kondisi serupa juga terjadi di Bekasi, 51 desa di 17 kecamatan tergenang, dengan air setinggi lutut orang dewasa di kawasan Babelan.
Baca juga : Pramono: Besok Jakarta Diprediksi Hujan Lebat, Modifikasi Cuaca Masih Berlangsung
BMKG pun tak memberi banyak jeda. Potensi hujan lebat hingga ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung di wilayah Jabodetabek hingga 30 Januari.
Peringatan BMKG Masih BerlakuBMKG telah mengeluarkan status siaga hingga awas untuk cuaca ekstrem. Artinya, banjir susulan masih sangat mungkin terjadi, terutama di wilayah rawan luapan sungai.
Dengan Bendung Katulampa dan Pintu Air Karet yang masih berada di status siaga 3, warga yang tinggal di bantaran sungai diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Tak heran, pencarian informasi soal cara mencegah air masuk ke rumah kini semakin meningkat—bukan sebagai reaksi, melainkan bentuk antisipasi.
Baca juga : Pramono: Besok Jakarta Diprediksi Hujan Lebat, 200 Ekskavator Siaga Cegah Banjir Jangka Menengah
Di balik kerusakan rumah dan perabot, ada satu kerugian yang sering baru disadari setelah air surut: dokumen penting.
Sertifikat tanah, ijazah, akta kelahiran, buku nikah, hingga album foto keluarga umumnya disimpan di laci bawah lemari atau kardus di lantai. Tempat-tempat ini justru menjadi zona paling rentan saat banjir datang.
Berbeda dengan barang elektronik yang bisa diganti atau diklaim asuransi, dokumen-dokumen tersebut tidak tergantikan. Bahkan genangan 30 sentimeter saja sudah cukup untuk merusaknya secara permanen, apalagi jika air naik hingga lebih dari satu meter seperti yang terjadi di Jakarta Timur.
Kecepatan Air Masuk vs Waktu EvakuasiPola banjir akibat luapan Kali Ciliwung menunjukkan satu karakter utama: air bisa naik sangat cepat, bahkan dalam hitungan menit. Status siaga di Katulampa dan Karet menandakan debit air masih tinggi dan bisa meluap kapan saja.
Dalam kondisi seperti ini, kesiapsiagaan menjadi penentu. Rumah tangga yang sudah menyiapkan rencana darurat, mulai dari lokasi penyimpanan dokumen, jalur pemindahan barang, hingga alat penahan air, memiliki peluang lebih besar untuk meminimalkan kerugian.
Langkah Preventif yang Bisa DilakukanPemprov DKI Jakarta saat ini terus melakukan modifikasi cuaca untuk menekan intensitas hujan ekstrem. BPBD juga berkoordinasi dalam penyedotan genangan dan distribusi bantuan agar air cepat surut.
Namun, di tingkat rumah tangga, langkah sederhana bisa menjadi garis pertahanan pertama. Salah satunya adalah penggunaan barrier penyerap air di titik masuk seperti pintu depan atau garasi.
Produk seperti Anti Flood Kit memanfaatkan teknologi SAP (Super Absorbent Polymer) yang mampu menyerap hingga 20 kilogram air, membentuk penghalang sementara yang memperlambat aliran air masuk ke rumah.
Prinsipnya sederhana: bukan menghentikan banjir, karena itu nyaris mustahil, melainkan membeli waktu. Setiap menit yang tertahan adalah kesempatan tambahan untuk menyelamatkan dokumen, foto keluarga, dan barang berharga dari lantai dasar.
Jika Anda ingin memastikan perlindungan rumah yang lebih menyeluruh, bukan hanya dari banjir, tetapi juga berbagai risiko lainnya, mengonsultasikan perlindungan rumah Anda bisa menjadi langkah awal yang bijak. (Z-10)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5493574/original/038788200_1770259093-ramos_horta_dan_megawati.jpg)

