Apakah Kesulitan Finansial Bisa Menjadi Pemicu Tindakan Nekad Seperti Bunuh Diri?

viva.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA –Kasus meninggalnya siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah menyita perhatian publik. Siswa berinisial YBR berusia 10 tahun itu ditemukan tak bernyawa usai diduga bunuh diri. YBR memilih tindakan tersebut lantaran disebut-sebut orang tuanya tak mampu membelikan buku tulis dan pulpen untuknnya.

Kabar kematian bocah 10 tahun itu pun menuai perhatian sejumlah pihak termasuk psikolog. Diungkap psikolog, Astrid Wen dalam program Apa Kabar Indonesia Pagi, Kamis 5 Februari 2026 menyebut dalam berbagai jurnal penelitian anak usia 5 hingga 14 tahun bisa meninggal karena bunuh diri. Disebutnya ada berbagai faktor yang menyebabkan hal tersebut salah satunya adalah faktor kemiskinan.

Baca Juga :
Istana Respons Siswa SD Gantung Diri di NTT, Perintahkan Kades Proaktif Pantau Kelompok Rentan
Tragedi Anak SD Bunuh Diri di NTT, Puan Minta Sistem Pendidikan RI Dievaluasi

“Kalau dari yang saya liat di jurnal-jurnal penelitian sebenarnya anak usia 5 tahun sampai 14 tahun bisa meninggal karena bunuh diri. Faktornya beragam, kemiskinan jadi salah satu factor,” kata dia dikutip dari saluran YouTube TVOne, Kamis 5 Februari 2026.

Lebih lanjut, Astrid Wen menjelaskan bahwa kemiskinan bukanlah faktor utama, tetapi bisa menjadi pemicu atau trigger bagi seseorang atau anak untuk melakukan tindakan ‘nekat’. Ia menekankan bahwa semakin lama seseorang berada dalam garis kemiskinan, semakin tinggi risiko bagi mereka melakukan hal ‘nekat’.

“Kemiskinan bukan factor utama, triggernya mungkin. Kemiskinan itu bukan status miskinnya tapi durasi miskinnya yang memengaruhinya. Mungkin kalau kita struggle setahun dua tahun anak bisa bertahan, tapi kalau terus menerus ini yang sangat sulit sekali,” jelas dia.

Sementara itu, terkait dengan alasan YBR mengakhiri hidupnya lantaran diduga orang tuanya tak mampu membelikan buku dan alat tulis, Astrid Wen punya penjelasannya.

“Buku dan pulpen itu identitas dirinya sebagai siswa. Meski itu trigger, proses dia merasa sendiri mungkin, dia mungkin merasa punya masalah koneksi sama anggota keluarganya.  Anak-anak di bawah remaja yang meninggal karena bunuh diri biasanya karena ada masalah relasi dengan anggota keluarganya. Kemudian ada masalah regulasi diri, jadi masalah mungkin gangguan focus atau riwayat kekerasan,” kata dia.

Catatan Redaksi: Berita ini memuat isu sensitif terkait bunuh diri. Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami tekanan emosional, pikiran untuk menyakiti diri sendiri, atau gangguan kesehatan mental, segera cari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, atau fasilitas layanan kesehatan terdekat. Anda tidak sendirian, dan dukungan yang tepat dapat membantu melewati masa sulit.

Baca Juga :
Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, KPAI Soroti Kegagalan Pemenuhan Hak Pendidikan Anak
Kasus Bocah SD di NTT Bunuh Diri, Istana Minta Kepala Desa Aktif Pantau Kelompok Rentan
6 Fakta Mengerikan Siswa SD di Ngada NTT Bunuh Diri di Pohon Cengkih

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bulog pastikan jaga stabilitas harga dan stok pangan jelang Ramadhan
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Foto: Hangtuah Jakarta Kalahkan Satya Wacana di IBL 2026
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Whip Pink, Gas Tertawa Bikin Bahaya
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
[FULL] Situasi kala Banjir Karawang Belum Surut-Ratusan Hektare Sawah Terendam | KOMPAS SIANG
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
UNICEF Puji Keseriusan Indonesia Bangun Generasi Masa Depan Lewat MBG
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.