Kisah Sutaji, Nabung Puluhan Tahun dari Jualan Kerupuk Keliling demi Naik Haji

kumparan.com
20 jam lalu
Cover Berita

Kerutan wajahnya semakin tampak. Raganya terlihat tak lagi muda. Berbekal sepeda ontel tua, ia berkeliling dari satu desa ke desa lainnya menjajakan kerupuk dagangannya. Rutinitas itu ia lakukan untuk menyambung hidup, juga satu tujuan yang selalu ia impikan: bisa naik haji.

Pria itu adalah Sutaji (66 tahun), pedagang kerupuk keliling asal Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tahun ini, ia dipastikan bisa berangkat ke tanah suci.

Berjualan Kerupuk Sejak Era Orde Baru

Sutaji telah menekuni profesi sebagai pedagang kerupuk keliling sejak tahun 1980-an. Meski perkembangan zaman membuat banyak pedagang beralih ke kendaraan bermotor, Sutaji tetap setia menggunakan sepeda untuk menjajakan dagangannya, menyusuri wilayah Peterongan hingga Mojongapit, Jombang.

“Setiap hari saya berkeliling membawa sekitar 5 kilogram kerupuk. Saya ambil dari pabrik di Desa Senden. Alhamdulillah, biasanya habis dalam waktu satu jam,” ujar Sutaji, Kamis (5/2).

Hasil jualan itu ia sisihkan sedikit demi sedikit untuk menabung haji. Penghasilan Sutaji saat dahulu mulai berjualan hanya berkisar Rp 1.000 per hari. Ia disiplin menyisihkan Rp 200 khusus tabungan haji. Seiring bertambahnya penghasilan, ia tetap tekun menyisihkan untuk tabungan haji.

Dengan pola tersebut dia memegang prinsip hidup sederhana. Separuh penghasilannya disisihkan untuk tabungan, termasuk untuk haji, sementara sisanya digunakan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Niat haji sudah ada sejak saya menikah dengan istri saya, Siti Hana, pada awal 1980-an. Prinsip saya, yang penting niat, bisa menahan diri, dan tidak boros,” tuturnya.

Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Sang istri, Siti Hana (62), lebih dahulu mendaftar haji pada tahun 2012. Sementara Sutaji menyusul mendaftar beberapa tahun setelahnya.

Pasangan suami istri tersebut tercatat sebagai calon jemaah haji (CJH) asal Kabupaten Jombang yang dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada tahun 2026.

Sutaji berharap kisah hidupnya dapat menjadi motivasi bagi masyarakat luas bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk menunaikan rukun Islam kelima.

“Siapa pun yang punya niat baik, semoga Allah SWT memudahkan jalannya,” pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harga Rp3,7 sampai 4,2 Juta, Ini Keunggulan Samsung Galaxy A26 5G di 2026! Masih Relevan dan Worthy
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Jakarta Pertamina Enduro Kunci Kemenangan Telak atas Electric PLN di Proliga 2026
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Koleksi Kolaborasi Birkenstock x Danielle Frankel
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
KPK Ungkap Mulai Ada Tren Emas Jadi Alat Suap
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Eksekusi Rumah di Cakung Jakarta Timur Ricuh, Sejumlah Penghuni Melawan hingga Menangis Histeris
• 13 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.