Perbedaan antara Menjadi Tua dan Tumbuh Dewasa

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada hari pertama kuliah, setelah dosen memperkenalkan diri, beliau meminta setiap mahasiswa secara aktif berkenalan dengan satu teman baru.

Saat aku berdiri dan memandang sekeliling, seseorang menepuk bahuku dengan lembut.

Aku menoleh dan melihat seorang wanita lanjut usia, bertubuh kecil, dengan wajah penuh keriput, sedang tersenyum kepadaku. Senyumnya cerah dan hangat.

Dia berkata:  “Hai, anak muda. Namaku Rose, usiaku 87 tahun. Bolehkah aku memelukmu?”

Aku tertawa dan menjawab dengan antusias :  “Tentu saja boleh.”

Dia pun memelukku erat.

Aku bercanda : “Dengan usia semuda ini, kenapa Nenek datang kuliah?”

Dia menjawab dengan nakal :  “Aku ingin mencari suami kaya, punya beberapa anak, lalu pensiun keliling dunia.”

“Serius?” tanyaku, meski tahu itu hanya gurauan.

Aku sangat penasaran, apa yang mendorongnya—di usia senja—untuk kembali ke bangku kuliah.

Dia berkata: “Aku selalu bermimpi mendapatkan pendidikan universitas. Sekarang, akhirnya impian itu terwujud.”

Setelah kelas usai, kami berjalan bersama menuju gedung mahasiswa dan menikmati milkshake cokelat. Sejak hari itu, kami menjadi sahabat karib.

Selama tiga bulan berikutnya, hampir setiap hari kami pulang bersama, mengobrol tanpa henti tentang apa saja.

Rose bagaikan mesin waktu hidup, membagikan kebijaksanaan dan pengalamannya. Dan aku mendengarkan dengan penuh ketertarikan.

Dalam satu tahun akademik, Rose menjadi figur terkenal di kampus. Ke mana pun dia pergi, dia selalu mudah mendapatkan teman baru.

Dia kerap berdandan rapi dan menikmati perhatian hangat dari para mahasiswa.

Di akhir semester, Rose diundang untuk memberi pidato pada jamuan makan malam yang diadakan untuk tim sepak bola kami.

Aku takkan pernah melupakan hadiah berharga yang dia berikan malam itu.

Setelah diperkenalkan oleh pembawa acara, Rose melangkah kecil menuju podium. Tepat saat hendak berbicara, catatan pidatonya terjatuh ke lantai.

Beberapa detik dia tampak kikuk dan malu, namun segera dia berkata dengan nada santai ke mikrofon :  “Maaf, akhir-akhir ini aku sering menjatuhkan barang. Tadi aku berniat minum bir untuk menenangkan diri, tapi malah minum wiski. Ternyata itu hampir membunuhku. Sepertinya aku tak ingat apa yang sudah kusiapkan—jadi aku akan membicarakan hal yang paling kukenal.”

Di tengah tawa hadirin, dia berdeham lalu berkata: “Kita bukan berhenti bermain karena menjadi tua; kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada satu rahasia untuk tetap muda, bahagia, dan berhasil: seringlah tertawa dan miliki selera humor. Dan yang terpenting—teruslah bermimpi. Saat seseorang kehilangan mimpinya, dia seolah telah mati. Di sekitar kita, banyak orang hidup seperti mayat berjalan, tanpa mereka sadari.”

Dia melanjutkan: “Ada perbedaan besar antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Semua orang akan menjadi tua, tetapi tidak semua orang akan menjadi dewasa. Menjadi dewasa berarti terus menemukan peluang untuk bertumbuh di setiap perubahan—dan memanfaatkannya.”

“Jika ingin hidup tanpa penyesalan: orang yang telah berusia lanjut jarang menyesali apa yang telah mereka lakukan; mereka justru menyesali hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan saat muda. Hanya mereka yang menyimpan penyesalanlah yang takut akan kematian.”

Pada akhir tahun itu, Rose akhirnya menyelesaikan pendidikan universitasnya.

Seminggu setelah kelulusan, dia meninggal dengan tenang dalam tidurnya.

Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri pemakamannya.

Kami berkumpul untuk mengenang dan memberi hormat kepada wanita yang mengajarkan kami—dengan teladan hidupnya—bahwa selama kita bertekad, tak ada kata terlambat untuk mewujudkan mimpi.

Hikmah Cerita

Rose menunjukkan bahwa usia boleh menua, tetapi hati tak harus ikut menua. Cara pandangnya terhadap hidup—optimis, ceria, dan penuh humor—patut kita teladani.

Hidup memang seharusnya demikian: belajar sepanjang hayat. Saat seseorang berhenti belajar dan berhenti menyerap hal baru, yang menua bukan hanya usia—pikiran pun ikut berhenti.

Ungkapan Rose bahwa “ketika seseorang kehilangan mimpi, dia seolah mati dan hidup seperti mayat berjalan” memberi kita sudut pandang baru tentang kehidupan.

Semoga setelah membaca kisah ini, kita menemukan kembali mimpi-mimpi kita, dan menjalani hidup dengan semangat, optimisme, serta humor.(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ribuan Prajurit Korps Pasgat Jalani Latihan Tempur Hardha Marutha I
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Enok Jatuh ke Sungai Usai Kamar Mandi Jebol Terseret Arus, Korban Ditemukan Tewas di Jembatan BBS
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Bandung Zoo Disegel Pemkot, Akses Wisata Ditutup selama 3 Bulan
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Suraj Chavan, Sosok “Justin Bieber India” yang Bersinar di Media Sosial
• 5 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Prabowo Tunjuk Juda Agung jadi Wamenkeu, Adies Kadir Resmi Jabat Hakim MK
• 5 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.