Penjualan gerai sejenis dan laba operasional Pizza Hut sama-sama mencatat penurunan tahunan pada kuartal keempat 2025
Mary Prenon
EtIndonesia. Pizza Hut, jaringan pizza global yang dikenal dengan pizza loyang dan pinggiran berisi keju, akan menutup hingga 250 gerai pada paruh pertama 2026.
Dalam paparan kinerja keuangan pada 4 Februari, perusahaan induknya, Yum Brands Inc., mengumumkan penutupan gerai-gerai yang dinilai “berkinerja buruk” di berbagai negara. Perusahaan juga memperkirakan laba operasional inti Pizza Hut pada kuartal pertama akan merosot sekitar 15 persen akibat biaya restrukturisasi.
Meski penjualan internasional Pizza Hut tahun lalu naik 1 persen—terutama didorong oleh kawasan Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia—penjualan di pasar domestik justru stagnan. Pada November, Yum Brands meluncurkan program terarah baru di Amerika Serikat bernama Hut Forward, yang diklaim sebagai rencana percepatan jangka panjang bagi merek tersebut.
“Tim Pizza Hut telah bekerja keras menghadapi tantangan bisnis dan kategori, namun kinerja Pizza Hut menunjukkan perlunya langkah tambahan agar merek ini dapat mewujudkan nilai penuhnya, yang mungkin lebih efektif dilakukan di luar Yum! Brands,” kata CEO Yum Brands, Chris Turner, dalam pernyataan November.
“Untuk benar-benar memanfaatkan kekuatan merek yang telah kami bangun dan peluang ke depan, kami memutuskan untuk memulai peninjauan menyeluruh atas berbagai opsi strategis.”
Direktur Keuangan Yum Brands, Ranjith Roy, menambahkan bahwa program tersebut mencakup penyelarasan strategi pemasaran yang lebih agresif, modernisasi teknologi tertentu, serta penyesuaian perjanjian waralaba.
“Kami yakin pada tim Pizza Hut dan langkah-langkah yang mereka ambil. Dari sisi jumlah unit, kami memperkirakan pembukaan gerai kotor yang kuat secara global, yang secara musiman biasanya terjadi pada paruh kedua tahun ini.”
Roy juga menyebutkan bahwa Yum akan memberikan dukungan pemasaran satu kali. Ia mengungkapkan bahwa belanja modal bersih Pizza Hut untuk 2025 mencapai 293 juta dolar AS, terdiri dari 78 juta dolar hasil refranchising dan 371 juta dolar belanja modal kotor. Meski demikian, perusahaan tetap mampu mengembalikan hampir 1,35 miliar dolar AS kepada para pemegang saham tahun lalu.
Dalam pernyataan 4 Februari, Yum Brands mencatat bahwa Pizza Hut membuka 443 restoran baru secara kotor pada kuartal keempat 2025 dan 1.184 gerai baru di 65 negara sepanjang tahun. Namun, penjualan gerai sejenis turun 3 persen, sementara laba operasional inti merosot 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Pada akhir 2025, Yum Brands melaporkan total 19.941 gerai Pizza Hut, turun dari 20.225 gerai pada akhir 2024. Penjualan gerai sejenis Pizza Hut hanya tumbuh 1 persen tahun lalu, dibandingkan pertumbuhan 4 persen pada 2024. Margin laba juga menyusut menjadi 33,6 persen, dari 37 persen pada tahun sebelumnya.
Saat ini, masih terdapat sekitar 6.700 gerai Pizza Hut di seluruh Amerika Serikat.
Sementara itu, untuk merek Yum lainnya—Kentucky Fried Chicken (KFC), Taco Bell, dan Habit Burger & Grill—Roy mengatakan kinerjanya memenuhi bahkan melampaui ekspektasi penjualan.
“Kami memperkirakan margin restoran Taco Bell di Amerika Serikat berada di kisaran 24–25 persen,” ujarnya.
Turner menambahkan bahwa KFC mencatat “kinerja luar biasa sepanjang 2025” dengan rekor pembukaan gerai baru. “Para pemegang waralaba kami sangat kuat di KFC Internasional,” katanya.
Yum Brands Inc., yang berbasis di Louisville, Kentucky, bersama anak perusahaannya mengoperasikan sekitar 62.000 restoran di lebih dari 155 negara. Pada 2024, perusahaan ini masuk dalam Dow Jones Sustainability Index North America serta daftar America’s Most Responsible Companies versi Newsweek. Selain itu, KFC, Taco Bell, dan Pizza Hut memimpin daftar Top Global Franchises 2024 versi Entrepreneur.




