Museum Mpu Tantular, Kabupaten Sidoarjo, menyimpan banyak cerita sejarah. Di dalamnya, terdapat benda-benda kuno peninggalan kerajaan hingga kolonial.
Salah satu benda bersejarah yang menarik perhatian yakni Meriam Lela. Sebuah meriam berjumlah 3 buah dengan ukuran yang berbeda-beda.
Meriam Lela itu masih tersimpan rapi dengan diberi rantai pembatas yang ditopang oleh dudukan dari kayu.
Kasi Preparasi dan Bimbingan Edukasi Museum Mpu Tantular, Ariyanti, mengatakan Meriam Lela ini sebelumnya milik Hariowald Von Faber atau lebih dikenal dengan Von Faber adalah warga Surabaya kebangsaan Jerman.
Ia merupakan seorang kolektor barang-barang bersejarah. Sepeninggal Von Faber pada tanggal 29 September 1955, Meriam Lela itu diserahkan ke pemerintah yang kemudian dipajang di Museum Mpu Tantular sebagai salah satu koleksi negara.
"Ini hibahan dari Von Faber. Von Faber itu kan kolektor pribadi, terus habis itu meninggal dikasihkan ke pemerintah," kata Ariyanti saat ditemui di lokasi, Kamis (5/2).
"Jadi kalau asal-usulnya dari mana? Mereka kan mencari sendiri kalau kolektor. Disebutkan di berita acara itu hanya dari Von Faber," tambahnya.
Secara sejarah Meriam Lela ini berasal dari Pasuruan pada masa akhir Kerajaan Islam menuju masa kolonial yang telah digunakan pada tahun 1609 Masehi atau abad ke-17.
"Ini ada gini (tulisan Arab) ini biasanya masih Islam ke kolonial. Tapi bukan yang Islam pure, pergantian akhir-akhir," ucapnya.
Dulu, meriam jenis ini, hanya dibunyikan pada saat upacara tertentu misalnya:
1. Pada acara pengangkatan/penggantian seorang raja
2. Dalam acara menerima tamu khusus
3. Sewaktu ada kematian orang terpandang dalam masyarakat
Meriam yang sederhana ini dihiasi candra sengkala yang berbunyi Janma Kaya Buta Rupa, yang berarti meriam tersebut telah digunakan mulai tahun 1609 M atau tahun 1531 Saka
Saat ini, kata Ariyanti, meriam jenis itu masih digunakan sebagai mas kawin di salah satu suku di Maluku.
"Ini di Maluku masih (dipakai) tapi tidak semua suku ya. Kemarin itu ada yang ke sini suku tertentu kemarin itu kan. Jadi mereka mas kawin-nya masih pakai gini. Kalau dulu zaman dulu kan hanya untuk penanda penobatan raja tapi dengan perjalanan waktu ada yang (digunakan) mas kawin," katanya.
"Kalau di Jawa mungkin ya untuk penobatan raja, tapi kalau di luar kan berarti punya pribadi. Kalau mereka buat mas kawin kan untuk pribadi berarti. Pribadi tapi dengan status sosial yang berbeda," tambahnya.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5109360/original/096914700_1737819482-IMG_20250125_174616.jpg)


