Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai 5,11% dinilai menjadi katalis positif bagi pasar keuangan, khususnya obligasi korporasi.
Kinerja ekonomi tersebut mencerminkan pemulihan yang solid pascapandemi sekaligus membuka ruang ekspansi pembiayaan bagi dunia usaha ke depan.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai capaian pertumbuhan tersebut relatif baik dan mendekati target pemerintah. Hampir seluruh sektor ekonomi tercatat mengalami pertumbuhan, menandakan fase pemulihan telah bergeser menuju fase ekspansi.
Dengan pertumbuhan tersebut dan harapan pemerintah agar pertumbuhan ekonomi pada 2026 sebesar 6%, otomatis ekspektasi pergerakan ekonomi akan semakin kuat.
Menurut Ramdhan, prospek ekonomi yang membaik akan meningkatkan kebutuhan pendanaan korporasi, baik untuk pengembangan usaha maupun ekspansi baru. Kondisi tersebut berpotensi mendorong peningkatan penerbitan surat utang korporasi di pasar obligasi.
“Dengan kondisi ekonomi yang baik ini otomatis permintaan dari masyarakat di pasar keuangan akhirnya bisa disalurkan ke penerbitan surat utang ini. Sehingga ini akan menimbulkan sinergi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Di sisi lain, masyarakat dan investor institusi juga membutuhkan instrumen keuangan untuk menempatkan dana secara optimal. Sinergi antara kebutuhan pendanaan korporasi dan permintaan investor terhadap instrumen pendapatan tetap diyakini akan menciptakan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Perusahaan membutuhkan pendanaan, sementara investor membutuhkan instrumen investasi. Kalau ini berjalan seimbang, dampaknya bisa jangka panjang selama pertumbuhan ekonomi stabil,” jelasnya.
Ramdhan juga menyinggung target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang lebih agresif hingga kisaran 8% pada 2029–2030. Target tersebut diyakini akan mendorong aktivitas ekonomi yang lebih besar dan memperkuat sisi penawaran serta permintaan di pasar keuangan.
“Kalau kondisi global tidak berkepanjangan, saya perkirakan penerbitan obligasi korporasi tahun ini masih bisa tumbuh sekitar 10%–15% dibanding tahun lalu,” katanya.
Sementara itu, Investment Advisor at Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian mengatakan dampak rilis data ekonomi terhadap pasar Surat Berharga Negara (SBN) bersifat netral. Namun, arah kebijakan Bank Indonesia (BI) ke depan akan menjadi penentu utama pergerakan yield obligasi dan arus dana asing.
Menurutnya, apabila BI memilih untuk tidak terburu-buru menurunkan suku bunga acuannya, terdapat potensi kenaikan yield SBN dalam jangka pendek. Sikap kehati-hatian BI tersebut dipandang sejalan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global.
Di sisi lain, membaiknya pertumbuhan ekonomi domestik diharapkan dapat memberikan bantalan positif bagi rupiah. Stabilitas nilai tukar menjadi faktor krusial dalam menarik kembali minat investor asing, khususnya ke pasar obligasi pemerintah.
“Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih solid, rupiah berpotensi lebih stabil dan pada akhirnya dapat mendorong masuknya kembali dana asing ke pasar SBN,” terangnya.




