Megaproyek Kilang Tuban Rp377 Triliun Butuh Pemodal Baru

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA —  PT Pertamina (Persero) memberi sinyal bertambahnya pemodal baru dalam megaproyek Kilang Tuban atau Grass Root Refinery (GRR) Tuban.

Proyek Tuban rencananya akan digarap oleh mitra asal Rusia, Rosneft dan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Namun, sejak tahun lalu, rencana investasi pada megaproyek ini masih dikaji ulang oleh pemerintah.

Proyek yang berlokasi di Jawa Timur ini masih mandek lantaran Rosneft, yang merupakan perusahaan asal Rusia mendapat sanksi dari negara-negara Barat imbas invasi ke Ukraina.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan investasi dari proyek Kilang Tuban cukup fantastis. Terlebih, belakangan nilai investasinya membengkak.  

Tercatat, nilai investasi proyek tersebut kini berada di angka US$23 miliar atau setara Rp377,38 triliun (asumsi kurs Rp16.408 per US$). Angka ini naik dari rencana awal yang senilai US$13,5 miliar atau Rp205,05 triliun.  

"Sampai dengan sekarang kita lagi melakukan evaluasi terhadap investasinya. Memang investasinya cukup gede di awal itu," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta beberapa waktu lalu.

Baca Juga

  • Pertamina Groundbreaking Kilang Bioavtur Kapasitas 6.000 Barel di Cilacap Besok
  • RI-Rusia Hitung Ulang Investasi Megaproyek Kilang Tuban Rp377 Triliun
  • Investasi Kilang Tuban Bengkak Jadi Rp377 Triliun, Ini Sebabnya

Kendati demikian, dia memastikan proyek Kilang Tuban akan segera dieksekusi. Dia mengatakan, pemerintah bersama Pertamina akan fokus untuk mengeksekusi proyek tersebut karena salah satu kebutuhan untuk ketahanan energi nasional.

“Menyangkut kilang yang selama ini kerja sama antara Pertamina dan Rosneft, sekarang masih dalam tetap masih on progress bahwa plan A plan B semuanya akan dalam pembahasan,” ujarnya.

Bahlil juga masih menilai sanksi yang dikenakan AS ke Rosneft tidak akan berdampak pada proyek Kilang Tuban. Menurut Bahlil, Kilang Tuban belum jalan karena pemerintah masih menghitung keekonomian dari proyek itu.  

“Nah, sekarang kenapa belum jalan? Setelah dihitung kembali antara investasi dan nilai ekonominya masih terjadi review kembali lah," kata Bahlil.

Mitra Baru

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menyebut, Rosneft berpeluang ditemani oleh mitra kerja tambahan untuk proyek kilang yang terletak di Jawa Timur itu.

Dia menjelaskan, pihaknya membutuhkan capital expenditure (capex) besar untuk membangun Kilang Tuban. Oki menyebut, saat ini proses keputusan investasi atau final investment decision (FID) oleh Rosneft masih berlangsung.

Pihaknya berharap proses FID segera rampung. Pertamina, kata Oki, secara umum bakal mempercepat penambahan kapasitas kilang yang dimiliki, salah satunya dengan menggaet mitra-mitra baru, tak terkecuali pada proyek GRR Tuban.

"Baru kemarin kami dari Pak Menteri [ESDM] dan juga Pak Dirjen [Migas] kita selalu ada arahan-arahan untuk tentunya mempercepat penambahan kapasitas ini. Jadi akan ada additional partners yang akan bergabung untuk memperkuat ketahanan energi di Indonesia," kata Oki dalam acara 'Energy Outlook 2026' di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Adapun, FID Kilang Tuban sebelumnya ditargetkan rampung pada kuartal IV/2025. Namun, hingga saat ini, proses tersebut masih berjalan.

Memutus Kerja Sama

Rencana PT Pertamina (Persero) membuka peluang menggaet mitra baru untuk menggarap proyek proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban dinilai menjadi sinyal positif. Namun, Pertamina dinilai perlu mempertimbangkan untuk melepas kerja sama dengan Rosneft.

Praktisi Migas Hadi Ismoyo menilai, Rosneft sudah diberi banyak kesempatan, tetapi hasilnya tidak ada kemajuan yang berarti.

“Menurut pendapat saya, Rosneft perlu diganti investor baru. Dari negara yang tidak kena sanksi AS. Selama Rosneft masih di sana, permasalahan akan terus terjadi dan pembangunan kilang menjadi tidak jelas,” ucap Hadi kepada Bisnis, Kamis (5/2/2026).

Asal tahu saja, selama ini Rosneft memang masih dikenakan sanksi oleh AS. Kendati, pemerintah menilai sanksi itu tidak akan berdampak pada pembangunan Kilang Tuban.

Hadi pun berpendapat, saat ini pembangunan Kilang Tuban menjadi hal yang penting. Pembangunan kilang di Jawa Timur itu bisa menopang produksi demi mengejar target swasembada energi.

Mantan sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) itu menjelaskan, kapasitas produksi BBM nasional adalah 1,28 juta barel per hari (bph) setelah RDMP Balikpapan full speed. Sementara, kebutuhan nasional mencapai 1,6 juta bph.  

Artinya, terdapat gap impor sebesar 0,32 juta bph. Hadi menilai, terdapat sejumlah solusi untuk swasembada BBM.

Pertama, untuk jenis solar, produksi dari kilang dikombinasikan dengan program B40 dan B50. Ini dengan asumsi untuk menutup 0,16 juta bph tenaga surya. Kedua, untuk bensin, paling tidak harus ada satu kilang lagi dengan kapasitas 0,16 juta bph.

“Jadi pembangunan Kilang Tuban atau RDMP Dumai menjadi titik kritikal untuk program swasembada BBM di tahun 2030 paling tidak. Dalam rangka ketahanan energi nasional,” imbuh Hadi.

Melansir laman resmi Kementerian ESDM, proyek Kilang Tuban merupakan proyek strategis karena pembangunan kilang minyak akan terintegrasi dengan petrokimia, dengan kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 300.000 barel minyak per hari dan produksi petrochemical mencapai 4.250 kilo ton per annum (ktpa).

Selain itu, Kilang Tuban juga akan memproduksi bahan bakar minyak (BBM) dengan kualitas Euro V (BBM ramah lingkungan) yaitu gasoline sebesar 80.000 barel per hari dan diesel sebesar 98.000 barel per hari. Nilai capex untuk proyek tersebut sebesar US$ 16 miliar.

Proyek Kilang Tuban ditargetkan menyerap tenaga kerja sebanyak 20.000 orang pada saat konstruksi dan 2.500 pada saat mulai beroperasi.

Dalam rangka mendukung terlaksananya Proyek Kilang Tuban, Pemerintah memberikan penugasan kepada Pertamina melalui Kepmen ESDM Nomor 807 Tahun 2016 tentang Penugasan kepada PT Pertamina dalam Pembangunan dan Pengoperasian Kilang Minyak di Tuban, Jawa Timur. Selain itu Pemerintah juga telah memberikan alokasi gas domestik dan fasilitasi untuk memberi kemudahan perizinan yang dibutuhkan oleh Pertamina.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gus Ipul dan Kepala Daerah Komitmen Buka 8 Sekolah Rakyat Baru
• 12 jam laludisway.id
thumb
Gempa M 6,2 di Pacitan Turut Dirasakan di DIY, 14 Perjalanan Kereta Api Sempat Berhenti
• 15 jam lalukompas.id
thumb
Kebiasaan Hemat yang Mungkin Belum Pernah Kamu Pikirkan
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
BPS Sebut Jumlah Penduduk Miskin di Jakarta Menurun, Ini Jumlahnya
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Hasil Babak Pertama Semifinal Piala Asia Futsal 2026: Gol Samuel Eko Pimpin Timnas Indonesia atas Jepang
• 23 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.