MSCI Jadi Palu Godam, Reli IHSG Awal 2026 Kehabisan Tenaga

idxchannel.com
13 jam lalu
Cover Berita

Setelah mencatat kinerja solid sepanjang 2025 dan membuka 2026 dengan reli kuat, pasar saham Indonesia mendadak kehilangan momentum.

MSCI Jadi Palu Godam, Reli IHSG Awal 2026 Kehabisan Tenaga. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Setelah mencatat kinerja solid sepanjang 2025 dan membuka 2026 dengan reli kuat, pasar saham Indonesia mendadak kehilangan momentum.

Pengumuman dari pengelola indeks global MSCI pada akhir Januari lalu, tepatnya pada 28-29 Januari, menjadi titik balik yang menekan IHSG secara signifikan, memangkas hampir 20 persen kapitalisasi pasar hanya dalam dua hari perdagangan dan sempat menyebabkan penghentian sementara perdagangan (trading halt).

Baca Juga:
Cadangan Devisa RI Turun Jadi USD154,6 Miliar per Januari 2026

BCA Sekuritas mencatat, MSCI menyoroti isu transparansi pasar yang langsung memicu aksi jual besar-besaran, terutama pada saham-saham konglomerasi yang sebelumnya menjadi penopang utama IHSG dan digadang-gadang sebagai MSCI play.

Tekanan ini dinilai bukan sekadar koreksi teknis, melainkan sinyal risiko struktural yang lebih dalam.

Baca Juga:
Pasar Global Terpolarisasi di 2026, Sektor Mana Jadi Pemenang?

Menurut BCA Sekuritas, langkah MSCI bisa menjadi ‘puncak gunung es’ yang membuka kerentanan fundamental pasar Indonesia, khususnya di sisi makro.

Meski pemerintah merespons cepat, pasar global masih menunggu bukti konkret untuk memulihkan kepercayaan.

Baca Juga:
IHSG Tertekan Dibayangi Outlook Moody’s, Deretan Big Cap Ini Jadi Beban

BCA Sekuritas menilai, rentang waktu yang tersedia diperkirakan hanya sekitar tiga bulan ke depan.

Di luar faktor MSCI, risiko lain datang dari stabilitas nilai tukar rupiah dan arah aliran dana asing.

Defisit transaksi berjalan diproyeksikan melebar ke sekitar 1,2 persen dari PDB pada 2026, ditambah potensi deviasi kebijakan moneter Indonesia dengan global, yang dapat menekan rupiah.

Dalam kondisi tersebut, BCA Sekuritas tetap bullish pada saham komoditas yang dinilai diuntungkan oleh pelemahan rupiah.

Sebaliknya, sektor perbankan dipandang netral karena minim katalis pertumbuhan kredit maupun inovasi yang mampu mendorong re-rating.

Sektor ritel masih dinilai menarik, seiring potensi efek lanjutan dari reli komoditas terhadap daya beli di daerah penghasil.

Namun, ketidakpastian kebijakan pemerintah turut menjadi sorotan.

Sejumlah keputusan yang dinilai inkonsisten, mulai dari kasus tambang emas Martabe, mundurnya pimpinan OJK dan BEI, hingga isu perubahan direksi bank Himbara, menambah beban sentimen pasar.

Dengan minimnya katalis di pasar obligasi dan tekanan berlanjut di pasar saham, BCA Sekuritas menyimpulkan bahwa tiga bulan ke depan akan menjadi fase yang menantang bagi IHSG, meskipun sempat mencatat reli kuat pada tiga pekan pertama Januari 2026. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Investasi Kabupaten Bekasi Capai Rp61,8 Triliun, Ekosistem Hunian Terpadu Terus Berkembang
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Purbaya Janji Bereskan Masalah Pertamina Niaga soal Cukai Ethanol dalam Seminggu
• 8 jam lalukatadata.co.id
thumb
Megawati Usul PBB Segera Buat Hukum Internasional soal AI
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Ketimpangan Kaya dan Miskin di Jakarta Menipis, BPS: Pertumbuhan Ekonomi Merata
• 12 jam laludisway.id
thumb
3 Doa Menyambut Ramadan 2026 Seperti yang Diajarkan Rasulullah, Lengkap dengan Bacaan Latin dan Artinya
• 18 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.