JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto memerintahkan atap-atap seng diganti lewat gentengisasi. Bagaimana dengan asbes?
Alasan gentengisasi atau penggantian atap seng dengan atap genteng adalah untuk estetika yang menunjang pariwisata.
“Saya ingin semua atap (rumah) di Indonesia pakai genteng ya. Gerakannya adalah gerakan proyek gentengisasi,” ucap Prabowo di mimbar pidato Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026).
Baca juga: Mensesneg: Gentengisasi untuk Dorong Kebersihan dan Keindahan Pariwisata
Prabowo juga menyoroti produksi atap seng di pidato itu. Penggunaan atap seng membuat penghuni bangunan menjadi kegerahan di bawah seng berkarat.
“Maaf, saya tidak tahu, dari dulu ini industri alumunium dari mana ya? Maaf, bikin yang lain-lain deh (selain seng -red),” kata Prabowo yang bicara soal gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, Indah atau disingkat ASRI.
Terlepas dari seng yang dikritisi Prabowo, ada bahan lain yang juga dipakai di masyarakat sebagai atap, yakni asbes.
Asbes jelas berbahaya. Apakah asbes juga harus diganti? Sudah adakah peraturan yang memerintahkan penghentian pemakaian asbes demi kesehatan masyarakat?
Masyarakat tak disarankan pakai asbesPemerintah tidak merekomendasikan penggunaan asbes untuk atap masyarakat, karena asbes termasuk material B3, yakni Bahan Berbahaya dan Beracun.
Kompas.com bertanya ke Kementerian Kesehatan perihal bahaya asbes dan aturannya.
“Kemenkes sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perumahan dan Kementerian Lingkungan Hidup yang menyampaikan bahwa asbes termasuk dalam B3 dan tidak merekomendasikan penggunaan sebagai atap,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman, kepada Kompas.com, Jumat (6/2/2026).
Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, Bambang Setiaji, menulis di situs resmi lembaganya soal bahaya asbes.
Baca juga: Potret Buruh Asbes Karawang, Terjebak di Antara Ekonomi dan Ancaman Penyakit Paru
Dia menjelaskan bahwa asbes menyebabkan penyakit mematikan seperti kanker paru dan mesothelioma, jenis kanker lagresif yang menjangkiti jaringan tipis mesotelium di paru-paru.
Serpihan asbes yang muncul karena rusak, lapuk, digergaji, atau dipotong, berupa serat-serat halus yang nyaris tidak terlihat.
Serpihan asbes itu akan terhirup dan masuk ke paru-paru, menetap di dalamnya seumur hidup.
Akibatnya, paru-paru menjadi keras atau disebut sebagai asbestosis, muncul kanker paru, dan mesothelioma.
Baca juga: Ada Serat Asbes di Bak Pasir, 71 Sekolah Australia Langsung Ditutup



