Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong pengembangan industri manufaktur dan industri hijau.
Dirinya mengatakan hingga kuartal ketiga tahun 2025 sektor manufaktur membukukan pertumbuhan PDB sebesar 5,54% secara tahunan, dan memberikan kontribusi sebesar 19,15% terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga: Menko Airlangga Dorong Percepatan Transformasi Pasar Modal
Industri yang mencatat pertumbuhan tertinggi pada kuartal ketiga tahun 2025 adalah industri logam dasar sebesar 14,91%, mesin dan peralatan sebesar 11,74%, dan industri kimia, farmasi, dan obat-obatan tradisional sebesar 11,65%. Hal ini menggarisbawahi peran penting para insinyur dalam memperkuat sektor riil ekonomi.
Ini disampaikan Menko Airlangga dalam acara Stakeholders Networking: World Engineering Day 2026 di Jakarta, Rabu (4/02/2026).
“Kemudian sektor yang tadi Pemerintah dorong adalah padat karya itu menjadi penting. Karena hampir seluruh industri yang besar tentu lebih pada capital intensive. Mempekerjakan sedikit tenaga kerja, tapi tenaga kerjanya adalah yang gaji atau honornya pasti lebih tinggi. Jadi ini betul-betul high value job. Tapi kita tetap butuh labor intensive,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Jumat (6/2).
Menko Airlangga menambahkan bahwa salah satu labor intensive yaitu pada industri tekstil. Pemerintah bersama para pemangku kepentingan telah menyusun peta jalan untuk menjaga keberlanjutan industri tekstil ke depan.
“Nah ini kita dorong karena industri ini menjadi high fashion, menjadi lifestyle dan terus tumbuh. Indonesia kuat dan punya potensi yang besar. Bapak Presiden Prabowo Subianto mengumumkan kita akan siapkan dana untuk revitalisasi industri ini sebesar USD6 miliar. Jadi kita akan reform industri di midstream,” ujar Menko Airlangga.
Selain industri manufaktur, Pemerintah mendorong pengembangan industri hijau dan energi bersih, termasuk proyek waste to energy di berbagai daerah serta percepatan transisi energi melalui pemanfaatan skema pembiayaan internasional, seperti JETP. Pemerintah juga bekerja sama dengan sektor swasta dan investor global untuk memastikan proyek-proyek Konversi Sampah Kota menjadi Listrik dilaksanakan dengan transparansi dan keberlanjutan.
Menko Airlangga juga mengatakan di sektor industri transportasi, perlu untuk mengendalikan emisi dan mencapai target Net Zero Emissions. Hingga tahun 2025, industri perakitan kendaraan listrik telah melibatkan lebih dari 80 entitas bisnis, dengan kapasitas produksi total melebihi 2,58 juta unit per tahun. Di sektor ini, kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dipandang sebagai faktor kunci karena Indonesia telah memiliki ekosistem EV yang terintegrasi.
Ekosistem tersebut tidak hanya mendukung pengembangan industri EV, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi pemanfaatan energi terbarukan. Dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia, serta arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong transisi energi, Indonesia melihat peluang untuk mempercepat pencapaian target Net Zero Emissions.
Pemerintah turut menyiapkan langkah strategis pengembangan industri semikonduktor nasional, baik pada sisi desain, perakitan, hingga penguatan ekosistem sumber daya manusia. Kerja sama internasional dengan sejumlah institusi global, terus diperluas seiring dengan komitmen investasi Pemerintah untuk memperkuat industri berbasis teknologi tinggi di dalam negeri. Seluruh agenda tersebut didukung oleh penguatan ekosistem sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM), termasuk rencana pembangunan universitas baru serta kolaborasi dengan perguruan tinggi kelas dunia.
“Jadi semikonduktor ini kita siapkan bukan hanya desainnya saja, tetapi juga SDM-nya. Nah memang dari jumlah startup AI Indonesia baru 5. Sementara Malaysia sekitar 20, Vietnam ada 20, dan Singapura 200. Jadi ini yang harus kita kejar ke depan. Maka kita butuh para insinyur untuk kembali pada profesi insinyurnya,” ujar Menko Airlangga.
Menutup sambutannya, Menko Airlangga menyampaikan optimistisme Pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan melalui penguatan ekonomi hijau, industri berteknologi tinggi, dan integrasi ekonomi digital, salah satunya ASEAN DEFA. Menko Airlangga juga menyampaikan rasa bangga bahwa Indonesia melalui Persatuan Insinyur Indonesia (PII), akan menjadi tuan rumah dalam gelaran “World Engineering Day for Sustainable Development 2026” yang akan dilaksanakan pada 4 Maret 2026.





