Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melantik dan mengambil sumpah jabatan 54 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama serta satu pejabat fungsional Ahli Utama di lingkungan Kementerian Pertanian, Jumat, 6 Februari 2026.
Pelantikan yang berlangsung di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, tersebut menegaskan komitmen penerapan sistem meritokrasi berbasis kinerja sekaligus percepatan program strategis sektor pertanian nasional.
Amran menegaskan, mayoritas pejabat yang dilantik merupakan hasil promosi berdasarkan penilaian kinerja, termasuk pengisian jabatan eselon II di 33 provinsi. Kebijakan ini, menurutnya, menjadi bagian dari reformasi birokrasi Kementerian Pertanian yang sejalan dengan perhatian besar Presiden terhadap penguatan sektor pertanian dan kesejahteraan petani.
“Hari ini kita melantik putra-putri terbaik Kementerian Pertanian. Ini bukan hadiah, melainkan buah dari kerja keras. Penilaian dilakukan secara objektif, bebas dari korupsi, kolusi, dan intervensi,”kata Amran dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 Februari 2026.
Dalam arahannya, Amran menitipkan sejumlah agenda strategis yang harus dikawal secara ketat oleh para pejabat baru. Di antaranya penguatan peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di bawah koordinasi Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), percepatan optimalisasi lahan (oplah), program cetak sawah, brigade pangan, serta penguatan hilirisasi pertanian. Ia juga menekankan pentingnya disiplin pelaporan Luas Tambah Tanam (LTT) yang dievaluasi setiap hari.
“PPL adalah garda terdepan. Mereka harus dipimpin dan diberdayakan dengan baik agar kebijakan dan inovasi benar-benar sampai ke petani hingga pelosok,”lanjutnya.
Amran turut menyoroti berbagai capaian sektor pertanian dalam beberapa tahun terakhir. Untuk pertama kalinya sejak kemerdekaan, Indonesia mencatat lompatan kinerja pertanian, mulai dari perbaikan tata kelola keuangan kementerian dari Wajar Dengan Pengecualian (WDP) menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), peningkatan produksi, hingga kontribusi Indonesia dalam menekan harga beras dunia.
“Ketika Indonesia tidak lagi mengimpor beras, harga pangan global ikut terkoreksi. Ini adalah capaian historis hasil kerja keras seluruh insan pertanian,”tambahnya.
Ke depan, Amran menargetkan pencapaian yang lebih ambisius, antara lain ekspor beras, swasembada gula putih tanpa impor, serta hilirisasi pertanian yang berjalan nyata di lapangan. Ia mengingatkan seluruh jajaran untuk menjaga integritas, memastikan bantuan pertanian tepat sasaran, serta mengawasi harga pupuk agar sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Tidak boleh ada praktik jual beli bantuan atau pungutan apa pun. Jika ada yang melanggar, saya pastikan akan diberhentikan. Prioritaskan petani yang paling membutuhkan,” tegasnya.
Menutup arahannya, Amran mengajak seluruh pejabat yang dilantik untuk terus meningkatkan kinerja dan menjaga semangat petani agar tetap kuat.
“Kita harus bekerja lebih baik dari hari kemarin. Amanah ini bukan hanya untuk institusi, tetapi untuk negara, petani, dan masa depan pertanian Indonesia,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews





