Bung Karno dikenal sebagai pemikir dan orator ulung, pada zamanya ketika radio menjadi alat komunikasi yang efektif maka cara paling mungkin untuk berkomunikasi dengan rakyat dan massa adalah dengan bahasa-bahasa oratorial yang menarik, "menggebu, menyentuh perasaan banyak orang, dan membangun kesadaran"
Namun, agak lucu kalau Bung Karno dinilai dengan parameter zaman kita, ketika media telah bertransformasi dari sekadar suara menjadi gambar, video, bahkan bisa live streaming atau mungkin dikonstruksikan AI, tapi bukan berarti Bung Karno ketinggalan zaman!
Sebaliknya pikiran bung karno tetap relevan, hanya caranya yang mungkin akan berbeda. Gugatan-gugatan bung karno sangat berbobot dalam mengkritik praktik imperialisme dan kolonialisme, perbudakan rakyat dan kaum marhaen, alias petani gurem.
Bung Karno tidak hanya mengkritik ia membangun formula sintesis dalam berpikir, mengajak kita bertamasya ke taman pemikiran dan literasi aktual pada zamannya, berpikir tentang tiga kerangka ideologis yang sedang tumbuh; Nasionalisme, Agama (khususnya Pan Islamisme) dan Sosialisme-Komunis. Ketiganya dilihat sebagai energi zaman untuk melawan imperialisme dan kolonialisme di Indonesia dan negara-negara dunia ketiga.
Apakah pikiran ini relevan dengan era sekarang? Jauh ketika kemerdekaan dunia ketiga sudah berumur hampir 50-60 tahun, ketika komunisme sebagai entitas politik global telah sirna, dan dunia dibangun dalam fondasi perdagangan yang saling kait mengait?
Tentu saja, masih sangat relevan, hanya narasinya pasti akan berubah, Bung Karno akan melihat ketimpangan global sebagai problem masalah, seperti dalam analisa Thomas Piketty, bahwa dunia mengalami ketimpangan yang makin ekstrem akibat ekstrasi keuntungan dari negara-negara kaya dan orang terkaya, absennya regulasi global yang mendorong distribusi kekayaan menjadi akar masalahnya.
Kolonialisme dan imperialisem telah berubah arah, dari penjajahan satu bangsa terhadap bangsa lain menjadi cara pikir ekonomi yang eksploitatif dan hegemonik, investasi memang dibutuhkan sebagai pendorong ekonomi tapi bukan berarti investasi akan menghabisi kekuatan ekonomi bawah, sebaliknya investasi sedianya memperkuat kapasitas otentik dari ekonomi rakyat, terlebih di dunia yang serba digital prekariatisasi menjadi masalah besar, seakan lebih banyak orang bekerja dengan basis fleksibilitas, namun di sisi lain mereka terkungkung dalam ruang sempit survivalitas, di tengah dunia yang gegap gempita bertumbuh atraktif.
Kaum ojol dan kurir online, serta para pembungkus paket dan reseller kecil sejatinya kaum marhaen baru di abad digital ini, mereka yang memiliki alat produksi tapi hanya cukup untuk bertahan hidup, kalau sedikit saja terganggu maka hancurlah hidupnya dan keluarganya.
Menarasikan kembali Indonesia dan Pancasila di Abad DigitalDalam pidatonya di depan Majelis Umum PBB, Bung Karno sangat bangga dengan dasar Indonesia merdeka "believe of God, nasionalism, humanism, democracy, and social justice", ia mendapat tepuk tangan riuh dari semua hadirin, uniknya Pancasila kalaupun dibicarakan sekarang tetap relevan, ia hidup nyata sebagai cermin kehidupan dan tujuan sebuah bangsa, masyarakat dan komunitas terkecil sekalipun. 3 sila pertama menunjukkan identifikasi diri, integritas di hadapan tuhan, welas asih pada sesama yang beradab, termasuk menjaga kelestarian lingkungan, nasionalisme yang mempersatukan beribu-ribu perbedaan identitas dan cara pandang.
Sedangkan sila keempat dan kelima menempati posisi sebagai Jalan dan Tujuan, jalannya adalah demokrasi yang menjunjung permusyawatatan yang dipandu Hikmat dan Kebijaksanaan, ini jelas arahnya bukan demokrasi liberal yang asal menang-menangan, ini lebih pada kedewasaan akal budi manusia untuk mencari jalan terbaik bagi semua, atau meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara Leiderschap Democratie atau demokrasi yang dipimpin akal budi.
Terakhir tujuan kita hidup bersama tak lain mewujudkan keadilan sosial, bukan sama rasa sama rata, tapi lebih adil secara substantif dan distributif, yang kuat membantu yang lemah, yang lemah menghormati yang kuat dengan setara. Cita-cita ini beberapa dekade kemudian dikenal menjadi "Welfare State", negara kesejahteraan yang dicerminkan dengan redistribusi dan jaminan kehidupan yang layak bagi semua warganya.
Transformasi Gagasan Bung KarnoBung Karno memang jadi presiden sejak 1945-1966, tapi kepemimpinannya relatif pendek, mulai dekrit preside 1959-1966 saja, sisanya era parlementer. Sialnya, dia memulai dengan kerumitan di tengah perpecahan dan ketidakpuasan yang melahirkan gerakan militer, dan diakhiri dengan huru-hara politik yang lagi-lagi menaikkan militer ke panggung politik.
Bung Karno ingin Indonesia jadi bangsa besar, makanya ia berjuang untuk memperkuat militer; darat, laut dan udara, melalui diplomasi taktisnya ia mendapat dukungan dari dua superpower sekaligus AS dan Uni Soviet, pun demikian dari China, tapi militer yang ingin dibangun bung Karno bukanlah militer yang memainkan intrik politik, melainkan militer yang menjaga jalannya revolusi dan demokrasi Indonesia, tapi lagi-lagi Bung Karno hidup di zaman serba gonjang-ganjing ketika perang dingin sedang riweh-riwehnya.
Lalu, bagaimana transformasinya di era sekarang ketika dunia sedang gonjang ganjing dalam kisruh terbaru yang dipicu oleh urakannya seorang "Donald Trump", jawabannya tidak sederhana tapi cukup menarik; Berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) yang harus diwujudkan dengan kedaulatan politik, kedaulatan ekonomi dan kedaulatan budaya.
Bukan berarti berdaulat secara politik kita asyik sendiri, sebaliknya harus pro aktif merumuskan strategi diplomasi sekaligus memastikan positioning yang tepat untuk memperkuat pembangunan nasional. Seperti bung Karno yang lincah bergaul dengan Keenedy dan Kruschev sekaligus, berbincang mesra dengan raja saud dan mao zedong sekaligus, menjadi jembatan komunikasi sekaligus mendorong kepentingan nasional Indonesia, semuanya tercermin dalam Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok, poros dunia ketiga yang sangat diperhitungkan dunia.
Kedua, Berdaulat secara ekonomi artinya memang mengutamakan kemandirian domestik, proyek-proyek industri strategis dirancang Bung Karno terutama atas dukungan teknologi Uni Soviet, seperti pabrik pupuk untuk pertanian dan pabrik baja. Nasionalisasi industri migas dilakukan, hingga ekonomi benteng yang mendorong kewirausahaan pribumi untuk bangkit mengambil alih perusahaan belanda masa itu.
Namun sayangnya, banyak yang belum terselesaikan, konflik politik dan mental inlandeer menjadikan reformasi ekonomi belum usai, akibatnya justru Indonesia menghadapi krisis dan inflasi ekstrem hingga 650% pada 1966 yang bersamaan dengan el nino sehingga banyak gagal panen, sementara tekanan internasional membuat stok pangan dari Kamboja dan Thailand dihentikan.
Kedaulatan ekonomi memang belum terwujud era bung karno, tapi fondasi pemikirannya cukup relevan; kedaulatan pangan dan energi menjadi kunci sebelum melangkah maju ke sektor lainnya, tanpa keduanya sangat mudah krisis diciptakan terutama dari sisi moneter. Inflasi pangan dan energi sumber kesengsaraan rakyat banyak.
Ketiga, Kedaulatan Budaya, walau bung karno dikritik sebagai presiden anti ngak ngik ngok, nyatanya ia bersandiwara untuk membangun kedekatan dengan rakyat malaya lewat Koes Plus, sebagaimana dikisahkan Pak Hendropriyono sayangnya operasi gagal. Bung Karno bangga dengan tradisi dan budaya bangsa, mencoba mengangkat banyak hal termasuk resep masakan yang dikurasinya "mustika rasa".
Bung Karno dengan jeli memahami setiap langkahnya dibarengi dengan pengokohan budaya termasuk saat operasi melawan belanda di Irian Barat, selain miliyer dan diplomasi kekuatan kuncinya adalah strategi kebudayaan menyentuh pemimpin-pemimpin lokal untuk berpihak pada Indonesia.
Jika hari ini dunia berada dalam ruang kosmopolitan, sehingga anak muda terbiasa dengan K-Pop dan lagu-lagu barat, tak mengapa bukan berarti harus tertutup, sebaliknya waktu yang tepat untuk menyajikan ulang budaya dan tradisi secara populer, karena kecintaan pada budaya harus dimulai dengan menikmatinya baru memasuki fase kedalaman makna, akan susah orang mencerna lakon dan sosok dalam wayang, ketika tak ada dalang seno (alm) yang membuat wayang menarik lewat sosok bagong.
Eksperimen budaya harus terus dilakukan memadukan kekayaan budaya Indonesia dengan kerja sama lintas budaya di Asia untuk memenangkannya di pasar global, tujuannya bukan semata ekonomi tapi sebagai upaya diplomasi budaya, membangun kembali kesadaran otentik bangsa melalui jati dirinya.
Eko-Marhaenis dan Jalan Kelestarian Ekologis NusantaraHal yang mungkin relevan walau terkesan tak banyak diangkat bung karno masa itu adalah soal kelestarian ekologis, belum banyak menjadi concern masa itu, tapi banyak refleksi pemikiran bung karno tak jauh dari alam, pantai, hutan, sawah, sungai dan seterusnya. Ia lahir bersama dengan ruang ekologisnya, ia menarasikan marhaen dan manusia Indonesia sebagai manusia yang lahir dalam untaian ekologisnya, ini yang menjadikannya berbeda dengan gagasan marxisme leninisme dan stalinisme yang berorientasi pada industrialisasi, Bung Karno menandaskan marhaenisme sebagai jiwa sosialisasmenya di mana sosialisme hidup dalam ruang refleksi manusia dan alam hidupnya. Ini sangat menarik ditransformasikan ulang menjadi gagasan kunci untuk membangun keselarasan pembangunan ekonomi, manusia dan keselarasannya dengan alam.




