Jakarta, VIVA – Sekretaris Jenderal DPD RI Mohammad Iqbal menegaskan pentingnya penerapan sistem merit, kompetisi sehat, dan peningkatan kinerja dalam pengelolaan sumber daya manusia di lingkungan Sekretariat Jenderal DPD RI.
Hal itu disampaikannya saat memberikan arahan pada acara pelantikan pimpinan tinggi pratama dan pejabat fungsional di lingkungan DPD RI.
Iqbal mengawali sambutannya dengan mengucapkan selamat kepada para pejabat pimpinan tinggi pratama dan fungsional yang baru dilantik. Iqbal menekankan bahwa kepercayaan yang diberikan negara harus dijawab dengan profesionalisme dan tanggung jawab.
“Pertama-tama dan terutama, saya mengucapkan selamat kepada pejabat pimpinan tinggi pratama dan pejabat fungsional yang telah dilantik dan diambil sumpah pada hari ini,” ujar Iqbal di Gedung DPD RI, Jakarta, Jumat 6 Februari 2026.
Iqbal mengingatkan bahwa manajemen aparatur sipil negara harus dijalankan berdasarkan sistem merit sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Menurutnya, pengisian jabatan tidak boleh didasarkan pada like and dislike, tetapi pada kompetensi dan kinerja yang terukur.
“Penempatan sosok yang tepat di posisi yang tepat bukan berdasarkan intuisi atau kedekatan, melainkan hasil pengukuran potensi secara objektif,” kata dia.
Iqbal menegaskan bahwa seluruh pejabat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang selama menunjukkan kinerja terbaik. Dia bahkan menyatakan tidak segan melakukan evaluasi jika dalam waktu tertentu tidak terlihat profesionalisme.
“Kalau tiga bulan tidak menunjukkan profesionalisme, tentu akan dievaluasi. Tetapi saya yakin semua yang dilantik hari ini sudah melalui proses yang objektif,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Iqbal juga menekankan pentingnya budaya kerja berbasis data dan kinerja berkelanjutan. Iqbal mengutip prinsip manajemen bahwa apa yang diukur akan dikelola.
“What gets measured gets managed. Karena itu, kita harus membiasakan diri bekerja dengan data, bukan sekadar persepsi,” ucapnya.
Selain menyoroti aspek kinerja, Iqbal mengingatkan pentingnya kerja sama dan etika dalam organisasi. Menurutnya, kecerdasan saja tidak cukup tanpa kemampuan bekerja dalam tim. “Organisasi tidak hanya butuh orang pintar, tetapi orang yang bisa bekerja sama, menghargai orang lain, dan menjaga kepercayaan,” katanya.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5494743/original/081560000_1770333740-b3fdd0ca-b25f-4408-a92e-b7ef138c5e46.jpeg)

