Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara mengenai keputusan strategis pertukaran posisi (switch) antara Juda Agung yang kini menjabat wakil menteri keuangan dan Thomas Djiwandono yang bergeser menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Purbaya menegaskan bahwa 'tukar guling' jabatan antara dua pejabat tersebut merupakan desain yang disengaja untuk mempererat koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
"Itu makanya ada switch, supaya kita dengan BI semakin dekat. Jadi jangan diceritakan macam-macam, ini memang desain supaya kita dengan BI semakin dekat lagi ke depan," ungkapnya dalam acara perdana Kemenkeu yang dihadiri Juda Agung di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Bendahara negara menekankan bahwa sinergi yang solid antara Lapangan Banteng (Kemenkeu) dan Thamrin (BI) menjadi krusial saat ini. Pasalnya, sentimen negatif di pasar keuangan menuntut respons kebijakan yang selaras antara penjaga APBN dan penjaga stabilitas nilai tukar.
Dia menilai latar belakang Juda yang lama berkecimpung di bank sentral akan membawa perspektif baru dalam pengelolaan keuangan negara. Menurutnya, pengalaman Juda dalam menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar akan menjadi aset berharga saat kini harus banting setir mengawal kesehatan APBN.
"Kehadiran Pak Juda tentunya akan memperkuat perspektif kita serta koordinasi di sektor keuangan," jelas Purbaya.
Baca Juga
- Rombak Pejabat DJP, Purbaya Pasang Target Tax Ratio hingga 12% Tahun Ini
- Purbaya Rombak 40 Pejabat Eselon II DJP, Ini Daftarnya
- Moody's Beri Outlook Negatif Utang RI, Purbaya Bakal Sisir Anggaran MBG
Sebagai informasi, Juda Agung resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (5/2/2026). Dia mengisi kursi wakil menteri keuangan yang ditinggalkan Thomas Djiwandono.
Sebaliknya, Thomas telah lebih dulu disetujui oleh DPR pada akhir Januari 2026 untuk menyeberang ke Bank Indonesia mengisi pos deputi gubernur yang sebelumnya ditempati Juda.
Senada, sebelumnya Juda juga mengaku telah diberi pesan khusus dari Presiden Prabowo yang ingin agar ada koordinasi antar kebijakan yang efektif dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
"Tapi intinya dari Presiden bahwa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mencapai program-program pemerintah yang sudah dicanangkan, tentu saja perlu koordinasi antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter, dan juga tentu saja kebijakan di sektor riil," ujar Juda usai dilantik di Istana Negara pada Kamis (5/2/2026).
Dia mengatakan koordinasi antar kebijakan itu akan menjadi efektif dalam upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.




