KEPALA Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya membangun learning organization bagi aparatur sipil negara (ASN) sebagai fondasi penguatan kinerja dan daya adaptasi organisasi.
Yusharto mengatakan, konsep learning organization tidak terlepas dari pemikiran Peter Senge dalam buku The Fifth Discipline, yang menekankan lima disiplin utama agar organisasi mampu terus bertumbuh dan beradaptasi menghadapi perubahan.
“Konsep learning organization menjadi sangat relevan bagi BSKDN sebagai organisasi kebijakan yang dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, dan memperbaiki kualitas kinerjanya. Fifth discipline dari Peter Senge bisa kita pelajari guna menjadikan organisasi untuk terus bertumbuh," ungkap Yusharto dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas ASN di Lingkungan BSKDN bertema “Membangun Learning Organization ASN melalui Teamwork Kolaboratif dan Kepemimpinan Transformatif” di Sentul, Kab. Bogor (6/2).
Baca juga : ASN Jatim Diajak Bangun Kebijakan Cerdas Berbasis SDM dan Teknologi Digital
Dia menjelaskan, disiplin pertama yang ditekankan adalah personal mastery, yakni penguasaan penuh atas bidang tugas masing-masing ASN. Menurutnya, baik ASN struktural maupun fungsional dituntut untuk memahami dan menguasai perannya secara profesional sebagai dasar terbentuknya organisasi pembelajar.
"Di setiap posisi ini, kita harus mastery menguasai bidang tugas dan ini menjadi salah satu prasyarat untuk kita bisa melakukan learning organization," ujarnya.
Disiplin kedua adalah mental model, yaitu keselarasan cara berpikir individu dengan visi dan misi organisasi yang menekankan pentingnya menyatukan tujuan individu dengan tujuan organisasi agar seluruh elemen memiliki komitmen yang sama dalam mencapai kinerja terbaik.
Baca juga : Mayoritas ASN Khawatir Efisiensi Anggaran Berdampak pada Kualitas Layanan Publik
Selanjutnya, shared vision menjadi disiplin ketiga yang dinilai krusial. Yusharto menegaskan kesamaan visi dari pimpinan hingga pelaksana hanya dapat dibangun melalui komunikasi dan koordinasi yang konsisten, sehingga tidak terjadi perbedaan arah dalam menjalankan kebijakan. Berikutnya, disiplin keempat, team learning, menempatkan kerja tim sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran organisasi. ASN didorong untuk saling belajar, berbagi pengetahuan, dan bersama-sama mencapai tujuan organisasi secara kolektif.
Adapun disiplin kelima, system thinking, menuntut ASN untuk berpikir komprehensif dan tidak terjebak pada satu sudut pandang atau metode tertentu. Pendekatan ini memungkinkan penggabungan berbagai perspektif sebagai dasar pengambilan kebijakan yang lebih tepat.
Sementara itu, Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Tri Widodo W. Utomo menegaskan kendati konsep learning organization telah lama diperkenalkan, isu tersebut tetap relevan hingga saat ini. Pasalnya, masih banyak instansi dan ASN yang belum sepenuhnya memahami dan menerapkan prinsip organisasi pembelajar.
“Modal kapital itu bukan lagi segalanya. Yang menjadi penentu utama adalah skill, capabilities, dan knowledge of people,” ungkapnya, mengutip pemikiran Arie de Geus.
Dia menambahkan, tingginya kinerja suatu organisasi tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Oleh karena itu, penguatan kapasitas ASN melalui pembelajaran berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan organisasi sektor publik. (M-3)





