Perdagangan RI Surplus pada 2025, AS Jadi Negara Penyumbang Terbesar

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) membeberkan Amerika Serikat (AS) menjadi negara dengan penyumbang surplus terbesar dari perdagangan Indonesia sepanjang 2025.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), perdagangan Indonesia-AS surplus sepanjang 2025 sebesar USD 18,11 miliar atau setara dengan Rp 305,69 triliun (dengan kurs Rp 16.880 per dolar AS).

“Yang terjadi pada tahun 2025 justru surplus kita kalau dulu biasanya yang pertama India, ya, tapi sekarang justru nomor dua India dan nomor satu Amerika,” kata Budi dalam Konferensi Pers di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Jumat (6/2).

Kemudian negara penyumbang surplus kedua terbesar adalah India yaitu USD 13,49 miliar atau Rp 227,71 triliun, Filipina USD 8,42 miliar atau Rp 142,12 triliun, Belanda USD 4,81 miliar atau Rp Rp 81,19 triliun dan Vietnam USD 4,47 miliar atau Rp 75,45 triliun.

Secara keseluruhan, surplus perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 tercatat sebesar USD 41,05 miliar atau naik USD 9,72 miliar dari Januari-Desember 2024 sebesar USD 31,33 miliar.

China masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia pada 2025 dengan nilai perdagangan mencapai USD 67,04 miliar, meningkat 6,85 persen dibandingkan 2024 yang sebesar USD 62,74 miliar.

Posisi kedua ditempati Amerika Serikat dengan nilai perdagangan USD 30,96 miliar, tumbuh 16,66 persen secara tahunan. Kemudian India mencatat nilai perdagangan USD 18,32 miliar, turun 10,09 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Jepang di posisi keempat dengan nilai perdagangan USD 17,61 miliar, turun 15,01 persen dari 2024. Singapura menempati peringkat kelima dengan nilai perdagangan USD 13,70 miliar, tumbuh 12,24 persen.

Tingginya Ekspor ke AS karena Kemampuan Diplomasi Prabowo

Budi mengakui banyaknya ekspor Indonesia ke AS salah satunya dipengaruhi oleh kemampuan diplomasi Presiden Prabowo Subianto. Sehingga meski hingga saat ini masih berurusan soal tarif resiprokal, ekspor masih tercatat tumbuh.

“Jadi, ya, sangat sangat dipengaruhi tentunya, ya, diplomasi yang selama ini dilakukan oleh Bapak Presiden, saya pikir kita semua tahu, ya, bagaimana kiprah Bapak Presiden di dalam diplomasi internasional,” jelasnya.

Ekspor RI ke Swiss Meroket 225%, Perhiasan Mendominasi

Kemendag juga mencatat ekspor ke Swiss melonjak 225 persen sepanjang 2025 menjadi USD 4,9 miliar dari tahun sebelumnya sebesar USD 1,5 miliar dengan didominasi oleh komoditas perhiasan dan permata.

“Swiss ini, kan, karena 92 persen kita ekspor perhiasan. Jadi, kan, emas, kan, rate-nya tinggi. Jadi makanya kenapa Swiss ini ekspornya meningkat sangat tajam yaitu 225 persen, ya,” imbuhnya.

Nomor dua peningkatan ekspor terbesar adalah Singapura dengan yang tumbuh 31,40 persen, Uni Emirat Arab tumbuh 31,28 persen, Thailand tumbuh 28,82 persen, dan Bangladesh tumbuh 28,27 persen.

Secara kawasan, pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi tercatat ke Asia Tengah dengan peningkatan 59,39 persen, Afrika Barat yang naik 56,66 persen, Eropa Barat naik 43,95 persen, Amerika Selatan naik 33,54 persen, dan Afrika Timur 32,61 persen.

Indonesia mencatatkan nilai ekspor nonmigas USD 25,09 miliar pada Desember 2025, naik 15,93 persen dibandingkan USD 21,64 miliar pada November 2025.

Secara kumulatif, nilai ekspor nonmigas sepanjang 2025 tercatat sebesar USD 269,84 miliar, naik 7,66 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

RI Selamatkan Rp 7,38 T, Menangkan Kasus Sengketa Dagang Global

Budi juga mengatakan pada 2025 Indonesia telah memenangkan sederet kasus sengketa perdagangan global dengan akses pasar senilai USD 437,34 juta atau setara Rp7,38 triliun yang berhasil diselamatkan dari berbagai hambatan perdagangan.

Sederet kasus sengketa perdagangan tersebut adalah DS593-Certain measures concerning palm oil and oil palm crop-based biofuels oleh Uni Eropa, Anti-Dumping Produk Cold Rolled Stainless Flat Steel Products oleh Turki dengan nilai USD 60,11 juta.

Kemudian Anti-Dumping Produk Certain Uncoated Writing/Printing Paper(SR) oleh Pakistan dengan nilai USD 57,23 jutal Safeguard Produk Non Alloy and Alloy Flat Steel Productoleh India USD 44,311,039 Hambatan Teknis Perdagangan-Quality Control Order Produk Viscose Staple Fiber (VSF) senilainya USD 110,72 juta.

Selanjutnya Anti Dumping Produk Cellulose Fibre Reinforced Cement Flat and Pattern Sheet (Expedited Review) oleh Malaysia - USD2,613,430 Anti-Dumping Produk Steel Wire Rods oleh Malaysia, nilainya USD 106,23 juta. Kemudian Anti-Dumping Produk Clear Float Glass (Revocation Review) oleh Australia - USD461,504 Anti-Dumping Produk Hot-rolled Deformed Steel Reinforcing Bar (Rebar), nilainya USD 55,65 juta.

“Tetapi di tahun 2025 kan banyak yang kita menangkan. Nah kita ingin kasus-kasus yang saya sampaikan di sini juga dapat kita selesaikan,” jelas Budi.

Sementara secara keseluruhan, per Januari 2026 ada 33 kasus hambatan perdagangan yang menjerat produk Indonesia di 13 negara mitra dagang.

“Jadi kita ada beberapa hambatan ya produk kita di beberapa negara lain, ya seperti dumping di Amerika, kemudian safeguard di Afrika Selatan, dumping di Brazil. Ini sebenarnya hal yang wajar ya,” ujarnya.

Hambatan perdagangan itu seperti dengan AS yang tengah menyelidiki dugaan dumping dan subsidi terhadap sejumlah produk Indonesia, di antaranya crystalline silicon photovoltaic cells dan hardwood decorative plywood.

Kemudian Afrika Selatan juga meneken kebijakan safeguard untuk produk baja Indonesia dan melakukan penyelidikan dugaan dumping gypsum plasterboard. Selain itu masih ada hambatan perdagangan dari India, Brazil, Kanada, Turki, Mesir, Pakistan, Thailand, Uni Eropa, Vietnam, Meksiko, dan Filipina.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menkes: Kurang Aktivitas Fisik Masuk 5 Besar Masalah Kesehatan Masyarakat
• 12 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Mencekam! Bentrok Warga Pecah di Agats Papua Selatan, 5 Orang Luka-Luka
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Relawan Solidarity for Humanity Jhonlin Group Pulihkan Akses Jalan Utama di Aceh Tamiang
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Spesial Jetour T2 di IIMS 2026
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Titiek Soeharto: Indonesia Malu, 70 Persen Kedelai Masih Impor
• 3 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.