Bisnis.com, JAKARTA – Pasar modal baik saham maupun obligasi dilanda sentimen negatif bertubi-tubi dalam dua pekan terakhir. Berawal dari pengumuman MSCI terhadap saham Tanah Air yang melemahkan IHSG hingga revisi outlook peringkat Indonesia dari Moody's.
Kedua sentimen itu pun membebani pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada akhir pekan ini. Belum lagi, dari dalam negeri investor mencermati perkembangan kepemimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup terkoreksi sebesar 2,08% atau 168,61 poin menuju 7.935,26 pada perdagangan Jumat (6/2/2026).
Sementara itu, kurs rupiah ditutup melemah 0,20% ke level Rp16.876 per dolar AS. Adapun, indeks dolar AS menguat 0,03% ke 97,85.
Sentimen negatif pekan ini utamanya berasal dari pengumuman lembaga pemeringkat utang Moody's Ratings yang menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif, dari sebelumnya di stabil.
Alasannya, kredibilitas pemerintah terhadap penyusunan kebijakan dan pengelolaan fiskal relatif rendah sehingga berimbas ke turunnya kepercayaan investor. Faktor lain yang dikeluhkan adalah tata kelola fiskal yang kurang ideal lantaran terlalu banyak meminta bantuan moneter untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai dalam jangka pendek hasil peringkat Moody's Ratings itu menjadi sentimen negatif di pasar karena memperkuat persepsi perlambatan ekonomi dan risiko fiskal.
"Dampaknya bisa berupa tekanan arus dana asing, volatilitas meningkat, dan rotasi ke saham defensif. Namun, efeknya cenderung lebih bersifat psikologis dan jangka pendek, selama fundamental emiten besar tetap solid," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (6/2/2026).
Di sisi pasar modal, David menilai agar persepsi investor membaik otoritas perlu fokus pada konsistensi kebijakan, kredibilitas komunikasi, dan penguatan tata kelola pasar. Menurutnya, investor sangat sensitif terhadap ketidakpastian regulasi, sehingga stabilitas aturan dan roadmap yang jelas menjadi kunci.
Pekan sebelumnya, pasar saham tertekan usai pengumuman penyedia indeks global MSCI Inc. yang membekukan rebalancing untuk saham-saham asal Indonesia. Alhasil, IHSG kini meninggalkan level 8.000 dan kembali diperdagangkan di level 7000-an.
"Selain itu, penegakan hukum terhadap manipulasi pasar dan saham gorengan harus lebih tegas agar meningkatkan kepercayaan terhadap fairness pasar," tegasnya.
Selanjutnya, David melihat dari sisi makro otoritas juga perlu menjaga disiplin fiskal, stabilitas rupiah, dan koordinasi kebijakan moneter–fiskal untuk mengurangi risiko sistemik.
Terakhir, pendalaman pasar melalui peningkatan free float, likuiditas, dan peran investor institusi domestik penting untuk membuat pasar lebih resilien terhadap arus dana asing.
Dari domestik, pemilihan pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi salah satu perhatian utama pasar saat ini. Sosok yang terpilih akan mempertaruhkan integritas dalam mengelola pasar.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, tiga petinggi OJK telah mengundurkan diri dari posisinya setelah IHSG ambrol usai pengumuman MSCI. Ketiganya adalah Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara serta Anggota Dewan Komisioner OJK Inarno Djajadi.
Namun, di tengah proses pembentukan panitia seleksi (pansel) saat ini muncul salah satu nama politisi yang diisukan menjadi pimpinan OJK, yaitu Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun. Sebagai informasi, Misbakhun merupakan politisi dari Partai Golkar.




