Penulis: Fityan
TVRINews-Dakka, Bangladesh
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dhaka menerbitkan peringatan keamanan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) menjelang pelaksanaan pemilihan umum perdana Bangladesh pasca-jatuhnya pemerintahan Sheikh Hasina.
Otoritas diplomatik Indonesia di Bangladesh meminta seluruh warga negaranya untuk meningkatkan kewaspadaan seiring mendekatnya jadwal pemungutan suara nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Februari 2026.
Langkah antisipasi ini diambil mengingat signifikansi politik pemilu kali ini, yang menjadi tonggak demokrasi baru di Bangladesh setelah gejolak politik hebat pada pertengahan 2024 lalu.
Peningkatan Kewaspadaan dan Keamanan Diri
Dalam pernyataan resminya, KBRI Dhaka menekankan pentingnya bagi para WNI untuk terus memantau dinamika situasi keamanan di wilayah masing-masing.
Meski aktivitas publik saat ini dilaporkan masih berjalan normal, potensi konsentrasi massa selama periode kampanye hingga hari pemungutan suara menjadi perhatian utama.
“Sehubungan dengan rencana pelaksanaan pemilu Bangladesh pada 12 Februari 2026, KBRI Dhaka mengimbau kepada WNI di Bangladesh untuk senantiasa memonitor perkembangan situasi dan perlu tetap meningkatkan kehati-hatian serta kewaspadaan,” tulis pernyataan resmi KBRI Dhaka yang dikutip pada Sabtu 7 Februari 2026.
Instruksi Protokol Keselamatan
KBRI juga memberikan poin-poin arahan khusus bagi WNI sebagai langkah preventif, di antaranya:
- Menghindari Titik Keramaian: WNI diminta menjauhi pusat-pusat massa atau lokasi yang menjadi titik kumpul kampanye politik guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
- Pemantauan Informasi: Mengikuti perkembangan berita hanya dari kanal informasi resmi dan sumber yang dapat dipercaya.
- Komunikasi Darurat: Menyimpan kontak penting dan segera menghubungi hotline KBRI Dhaka di nomor +880-1614-444-452 jika berada dalam situasi mendesak.
Konteks Politik: Transisi Pasca-Rezim
Pemilu mendatang diprediksi akan melibatkan lebih dari 100 juta pemilih sah.
Menurut analisis dari berbagai lembaga internasional termasuk media Anadolu, pemilu ini merupakan momen krusial yang akan menentukan arah masa depan Bangladesh setelah runtuhnya kekuasaan Sheikh Hasina.
Lanskap politik kali ini mengalami pergeseran signifikan setelah Partai Liga Awami dilarang berpartisipasi.
Persaingan ketat kini berpusat pada dua kekuatan utama, yakni Partai Nasional Bangladesh (BNP) dan Partai Jamaat-e-Islami.
Masa kampanye yang telah dimulai sejak 22 Januari akan berakhir pada 10 Februari mendatang.
Selain pemilihan parlemen, warga Bangladesh juga akan mengikuti referendum konstitusi secara serentak, yang diprediksi akan membuat proses penghitungan suara akhir memakan waktu lebih lama dari biasanya.
Editor: Redaktur TVRINews




