Liputan6.com, Jakarta - Anggota DPR Komisi VII Novita Hardini menilai keberhasilian transformasi industri hijau (green industry) tidak hanya diukur dari efisiensi energi atau capaian produksi.
Namun, katanya, dari sejauh mana industri mampu bertahan ditengah krisis global, menjaga lingkungan, dan juga menciptakan keadilan bagi ekonomi.
Advertisement
"Kalau tidak berani berubah sekarang, industri nasional bukan hanya kalah bersaing, tetapi bisa tergilas oleh krisis global," katanya. Dikutip dari Antara, Selasa 3 Februari 2026.
Ketidakpastian ekonomi global menekan industri nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga energi hingga ketegangan geopolitik menjadi kombinasi ancaman yang serius bagi keberlanjutan sektor industri dalam negeri.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah langkah dari PT Japfa Comfeed Indonesia di Provinsi Lampung. Novita menegaskan bahwa tekanan ekonomi global kini telah berdampak langsung, tidak hanya di industri besar, tetapi juga ke tingkat rumah tangga dan petani.
"Tekanan ekonomi hari ini nyata dirasakan masyarakat dan pelaku industri. Kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya produksi. Tanpa transformasi yang serius dan berkelanjutan, industri nasional berisiko stagnan bahkan tergerus krisis global," ucap Novita.


