JAKARTA, KOMPAS.com - Kemiskinan dan keterbatasan lahan memaksa puluhan warga di Gang Sejahtera, Jelambar, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, bertahan hidup tanpa sistem sanitasi yang layak selama lebih dari 30 tahun.
Di balik hiruk-pikuk ibu kota, mereka menjalani keseharian di permukiman padat penduduk dan masih harus mengandalkan WC umum yang kumuh sehari-hari.
Heni (48), warga asli Gang Sejahtera, adalah salah satu yang tak sanggup membangun septic tank pribadi di rumahnya, meski telah ditinggali selama 30 tahun.
"Belum pernah, belum punya septic tank. Selama 30 tahun ini ya di WC umum sih," ucap Heni saat ditemui Kompas.com di lokasi, Sabtu (7/2/2026).
Bagi Heni yang sehari-hari bekerja membuka warung kecil-kecilan, membangun septic tank adalah kemewahan yang tak terjangkau.
Penghasilannya habis hanya untuk menyambung hidup keluarganya dan membeli kebutuhan sehari-hari.
"Alasannya ya karena biaya. Terkendala biaya. Kita sehari-hari aja masih mikir, jadi enggak nyampe kalau mau bikin septic tank," kata Heni.
Baca juga: Puluhan Warga Jelambar Tak Punya Akses Sanitasi Layak, Terpaksa Andalkan WC Umum
Kondisi ini memaksanya berdamai hidup dengan ketidaknyamanan.
Jika hasrat buang air datang saat tengah malam, ia harus keluar rumah menembus gang yang gelap dan sepi menuju WC umum yang kotor tersebut.
"Iya repot juga sih kalau ke WC, misal entar mengantre. Terus kan lebih agak kotor juga kalau umum. Enggak bebas. Tapi ya gimana? Habis terkendalanya biaya karena bikin kan mahal ya, tapi ya repot juga lah kalau enggak ada WC-nya," kata dia.
Heni pun sangat berharap adanya uluran tangan pemerintah untuk membuatkan septic tank di rumahnya.
"Harapannya semoga pemerintah maulah ngasih bantuan buat orang yang enggak mampu kayak saya biar dikasih gratis gitu septic tank-nya," ucapnya.
Ekonomi dan Keterbatasan LahanKetua RT 05 RW 08, Farida, membenarkan bahwa impitan ekonomi dan bangunan rumah yang sangat kecil membuat warga kesulitan mencari lahan untuk menggali lubang septic tank.
"Mungkin karena pada 30 tahun yang lalu karena mereka ada WC umum, jadi mereka tuh santai gitu kan. 'Ah karena ada WC umum'. Jadi rumah mereka karena keterbatasan ruang lingkupnya, jadi ya sudah menggunakan WC umum saja," jelas Farida.
Saat ini, tercatat tinggal lima rumah warga asli yang belum memiliki septic tank. Namun, beban WC umum tersebut tetap berat karena banyaknya rumah yang dialihfungsikan menjadi kontrakan petak tanpa sarana sanitasi.



