Penulis: Makmur Hamdalah
TVRINews, Cirebon
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kembali dilanda banjir yang merendam permukiman warga di sejumlah kecamatan. Luapan beberapa sungai setelah hujan deras berintensitas tinggi menyebabkan aktivitas masyarakat lumpuh dan memaksa warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Salah satu wilayah terdampak berada di Desa Klayan, Kecamatan Gunungjati. Luapan Sungai Pekik menggenangi kawasan perumahan Villa Intan I, Villa Intan II, dan Villa Intan III dengan ketinggian air berkisar 60 hingga 80 sentimeter, bahkan sempat mencapai sekitar satu meter. Kondisi tersebut membuat warga kesulitan beraktivitas, termasuk untuk mengeluarkan kendaraan dari rumah.
Hampir 80 persen kawasan perumahan di wilayah tersebut terendam banjir. Warga menilai banjir kali ini cukup parah karena air bertahan lama dan tidak cepat surut.
Sebagian warga memilih meninggalkan rumah dan mengungsi ke kediaman kerabat, sementara lainnya bertahan dengan menjadikan masjid sebagai tempat istirahat sekaligus posko pengungsian sementara.
Salah seorang warga Villa Intan III, Nunung, mengatakan banjir kerap terjadi baik saat hujan deras maupun ketika ada kiriman air dari sungai. Menurutnya, genangan air biasanya baru surut setelah empat hingga lima hari.
“Kadang tidak hujan saja bisa banjir kalau ada kiriman air dari sungai. Sekarang sudah mulai surut, tapi sebelumnya air sampai sedada orang dewasa. Warga banyak yang mengungsi dan saat ini kami membutuhkan obat-obatan,” ujarnya, Sabtu, 7 Februari 2026
Sementara itu, banjir dengan ketinggian hingga satu setengah meter juga terjadi pada Jumat, 6 Februari 2026, dan melanda sedikitnya lima kecamatan di Kabupaten Cirebon.
Desa Gamel, Kecamatan Plered, menjadi salah satu titik terparah setelah air datang secara tiba-tiba dan merendam rumah warga.
Derasnya arus banjir memaksa warga segera menyelamatkan diri. Dengan kondisi air yang terus meningkat, warga memilih mengungsi karena khawatir membahayakan keselamatan.
Selain Plered, banjir juga merendam ribuan rumah di Kecamatan Plumbon, Tengah Tani, Kedawung, dan Kecamatan Sumber.
Warga menyebut banjir kali ini merupakan kejadian ketujuh sejak awal tahun 2026. Banjir yang datang mendadak membuat sebagian warga tidak sempat menyelamatkan harta benda.
Warga Desa Gamel, Afipa, mengatakan banjir sangat mengganggu aktivitas sehari-hari dan berisiko terhadap keselamatan.
“Airnya sudah sepinggang dan arusnya deras, berbahaya kalau memaksakan bertahan. Sejak Januari sudah tujuh kali banjir terjadi di desa kami,” katanya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan. Penanggulangan banjir dinilai mendesak agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan warga yang selama ini menjadi langganan bencana.
Editor: Redaktur TVRINews





