1. Rusia Klaim Operasi AS Memaksa Perusahaan Rusia Keluar dari Venezuela
Pada 5 Februari 2026, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov mengeluarkan pernyataan tajam terkait situasi bisnis Rusia di Venezuela setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat pada awal Januari 2026. Lavrov menilai tindakan itu berdampak langsung, membuat perusahaan-perusahaan Rusia yang terlibat dalam sektor energi di Venezuela terpaksa menarik diri karena tekanan Washington.
Dijelaskan bahwa langkah tersebut bukan sekadar mekanisme pasar bebas, melainkan akibat intervensi secara politik dan ekonomi oleh Amerika Serikat, menurut wawancara Lavrov yang dipublikasikan pada 5 Februari 2026. Dia menyayangkan bahwa sejumlah perusahaan migas Rusia, yang sebelumnya beroperasi melalui lima usaha patungan dengan Petróleos de Venezuela S.A. (PDVSA), kini menghadapi tekanan terbuka untuk hengkang.
Lavrov juga menyoroti sanksi yang masih diberlakukan AS terhadap perusahaan energi Rusia seperti Rosneft dan Lukoil serta ancaman tarif terhadap negara-negara yang membeli produk energi Rusia, meski perang Rusia–Ukraina diklaim sudah mendekati akhir.
Peristiwa ini terjadi dalam konteks intervensi militer Amerika di Venezuela pada 3 Januari 2026, ketika Presiden Maduro dan istrinya ditangkap dan dipindahkan ke AS dengan tuduhan narkotrafik. Sejak itu, Washington mendorong perusahaan energi AS berinvestasi hingga 100 miliar dolar untuk membangun kembali industri minyak Venezuela.
Analis internasional menilai gelombang ini merupakan sinyal kuat bahwa pemerintahan Presiden AS, Donald Trump berupaya memangkas pengaruh Rusia dan Tiongkok di Amerika Latin — sebuah strategi yang menggemakan kembali prinsip lama “Doktrin Monroe”, yang menegaskan dominasi AS di wilayah tersebut.
2. Ukraina Blokir Sistem Starlink Militer Rusia, Ganggu Komunikasi dan Serangan
Pada 5 Februari 2026, pihak Ukraina mengumumkan keberhasilan menonaktifkan ratusan terminal sistem internet satelit Starlink yang sebelumnya digunakan oleh pasukan Rusia di medan perang. Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov mengatakan langkah ini dilakukan setelah koordinasi dengan SpaceX, operator layanan Starlink, untuk memblokir perangkat yang digunakan tanpa izin di wilayah Ukraina.
Pemutusan layanan satelit ini berimbas besar pada operasi militer Rusia di garis depan — khususnya komunikasi unit dan pengendalian drone. Tanpa koneksi Starlink, sebagian besar koordinasi komando mereka terhambat, sementara kemampuan serangan darat dan udara menurun signifikan.
Menurut laporan media internasional, pemutusan akses Starlink juga menyebabkan kepanikan di kalangan pasukan Rusia, yang sangat bergantung pada jaringan ini untuk komunikasi taktis secara real-time, terutama dalam kendali drone militer. Akibatnya, operasi ofensif terhambat dan beberapa unit dilaporkan mengalami disorientasi komando yang serius.
Keberhasilan ini dianggap oleh Ukraina sebagai “pencapaian besar” dalam perang komunikasi yang semakin menentukan hasil di medan konflik.
3. Penangkapan Perwira Angkatan Udara Yunani Terkait Spionase Tiongkok
Selain ketegangan di Amerika Latin dan keterpurukan strategi militer Rusia, Eropa juga diguncang oleh pengungkapan kasus intelijen. Pada 5 Februari 2026, otoritas Yunani menangkap seorang kolonel aktif Angkatan Udara yang dituduh membocorkan informasi yang sangat sensitif kepada Republik Rakyat Tiongkok (PKT).
Penangkapan dilakukan di dalam area militer di Athena setelah penyelidikan intensif oleh Badan Intelijen Nasional Yunani (EYP), berkat informasi awal dari badan intelijen sekutu barat. Kolonel tersebut — dilaporkan berusia sekitar 50 tahun — mengaku telah melakukan aktivitas spionase dan mengirimkan dokumen militer dan intelijen NATO kepada pihak yang diduga merupakan jaringan intelijen Tiongkok.
Menurut laporan media Yunani dan internasional:
- Dia bekerja sebagai ahli dalam sistem komunikasi dan elektronik, sehingga memiliki akses ke data operasi militer dan sistem pertahanan NATO yang sangat rahasia.
- Selama beberapa bulan di bawah pengawasan, dia dicurigai menggunakan perangkat elektronik untuk memotret dokumen rahasia dan mengirimkannya melalui perangkat lunak terenkripsi kepada kontak asing.
- Dalam beberapa laporan media, kasus ini dimasukkan oleh pejabat sebagai salah satu pelanggaran keamanan paling serius yang pernah ditemui Yunani dalam beberapa tahun terakhir.
Penangkapan ini juga terjadi bersamaan dengan operasi intelijen di Prancis terhadap dua warga Tiongkok yang diduga mencoba mencegat data komunikasi satelit, termasuk data Starlink, dari sebuah lokasi di Gironde.
4. Gambaran Umum – Tren Geopolitik dan Keamanan Global
Ketiga peristiwa penting yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat singkat ini — ketegangan antara Rusia dan AS di Amerika Latin, perang teknologi komunikasi antara Ukraina dan Rusia, serta pengungkapan jaringan spionase yang melibatkan Tiongkok— memperlihatkan betapa kompleksnya peta geopolitik dunia pada awal 2026.
Perubahan-perubahan ini bukan hanya sekadar peristiwa lokal, tetapi menunjukkan:
- Diplomasi keras dan konfrontasi antara kekuatan besar dunia semakin intens, dengan implikasi pada aliansi strategis dan dominasi ekonomi global.
- Perang modern tidak hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga melalui teknologi komunikasi, intelijen, dan keamanan informasi.
- Ketegangan antara AS, Rusia, Tiongkok, dan negara-negara sekutu lainnya semakin mempengaruhi stabilitas global, terutama di kawasan yang secara tradisional menjadi arena persaingan geopolitik.
Kesimpulan
Berita besar pada 5–6 Februari 2026 ini mencerminkan perubahan signifikan dalam dinamika global:
- Rusia menuduh AS memaksa keluar perusahaan energi mereka dari Venezuela, menandai eskalasi baru dalam persaingan geopolitik.
- Ukraina berhasil mengganggu kemampuan militer Rusia melalui tindakan memblokir akses Starlink, memperlihatkan peran penting teknologi komunikasi dalam konflik modern.
- Yunani menangkap seorang kolonel militer yang diduga membocorkan data NATO ke Tiongkok, menggarisbawahi risiko keamanan dan spionase di tengah persaingan global.
Ketegangan ini diperkirakan akan terus mendominasi agenda diplomatik, militer, dan keamanan dunia pada bulan-bulan mendatang.





