Jakarta, VIVA - Pendiri Yayasan Pusat Edukasi Rumah Perubahan Rhenald Kasali menyoroti pentingnya pemanfaatan big data untuk mencari dan memastikan informasi yang kredibel di tengah derasnya arus komunikasi digital.
Menurutnya, saat ini terdapat dua model komunikasi yang berjalan bersamaan. Pertama, komunikasi massa yang dilakukan media arus utama dengan pola kerja yang jelas, mulai dari wartawan hingga editor.
Kedua, komunikasi publik yang berlangsung di ranah media, termasuk media sosial, di mana masyarakat atau netizen memproduksi sekaligus menyebarkan informasi.
"Komunikasi publik ini sekarang dipercayai lebih cepat ketimbang yang yang melalui proses ini (redaksi), cepat, spontan, dan selalu mengoreksi," ujarnya, Sabtu, 7 Februari 2026.
Ia mengaku sekitar separuh informasi yang beredar bisa benar, sementara sisanya meragukan, belum terverifikasi, atau bahkan salah dan mengandung hoax. Bahkan, sebagian konten diproduksi oleh robot atau akun otomatis yang seolah-olah tampak seperti manusia.
Dalam situasi tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEB-UI) ini menilai big data menjadi instrumen penting untuk memilah dan memverifikasi informasi.
Menurutnya, melalui analisis data, publik dapat menelusuri sumber informasi, tingkat kredibilitas penyampaian, hingga proporsi akun manusia dan robot yang terlibat dalam penyebaran suatu isu. Ia mencontohkan isu-isu seperti kepercayaan masyarakat terhadap rupiah atau kabar tentang dampak suatu produk terhadap kesehatan.
Dengan big data, dapat dianalisis siapa yang menyampaikan informasi tersebut, apakah memiliki kompetensi, serta seberapa luas dan masif penyebarannya.
"Bisa jadi satu kebohongan, tapi kalau didapat oleh jutaan orang, itu dianggap satu kebenaran. Jadi itu berbahaya, maka harus ada counter narasi. Jadi big data singkatnya itu bisa mencari kebenaran dan bisa menarasikan pertarungan antar media ini," jelas Rhenald Kasali.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Rumah Perubahan hadir sebagai ruang pembelajaran untuk memahami, membaca, dan melakukan perubahan. Lembaga tersebut tidak hanya mengajarkan teori transformasi, tetapi juga praktik langsung dalam berbagai bidang.
Ia mengaku sejak 1998 sudah melatih kewirausahaan yang terus tumbuh dan berkembang menjadi pengembangan kewirausahaan sosial. Selanjutnya, konsep disrupsi diperkenalkan sebagai respons atas perubahan zamann. "Maka, orang bisa melihat bahwa kami sendiri juga melakukan perubahan," tuturnya.



