Rhenald Kasali Soroti Ancaman Komunikasi Publik: Ketika Hoax Menang dari Fakta

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita


Jakarta, VIVA - Pendiri Yayasan Pusat Edukasi Rumah Perubahan Rhenald Kasali menyoroti pentingnya pemanfaatan big data untuk mencari dan memastikan informasi yang kredibel di tengah derasnya arus komunikasi digital.

Menurutnya, saat ini terdapat dua model komunikasi yang berjalan bersamaan. Pertama, komunikasi massa yang dilakukan media arus utama dengan pola kerja yang jelas, mulai dari wartawan hingga editor.

Baca Juga :
Guru Besar UI Khawatir Kasus Pertamina Buat Anak Muda Takut Berbisnis dengan Negara
Jamu Mulai Digemari Anak Muda, Rhenald Kasali Kasih Tips Pelaku Industri agar Tetap Cuan di Tengah Lesunya Ekonomi

Kedua, komunikasi publik yang berlangsung di ranah media, termasuk media sosial, di mana masyarakat atau netizen memproduksi sekaligus menyebarkan informasi.

"Komunikasi publik ini sekarang dipercayai lebih cepat ketimbang yang yang melalui proses ini (redaksi), cepat, spontan, dan selalu mengoreksi," ujarnya, Sabtu, 7 Februari 2026.

Ia mengaku sekitar separuh informasi yang beredar bisa benar, sementara sisanya meragukan, belum terverifikasi, atau bahkan salah dan mengandung hoax. Bahkan, sebagian konten diproduksi oleh robot atau akun otomatis yang seolah-olah tampak seperti manusia.

Dalam situasi tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEB-UI) ini menilai big data menjadi instrumen penting untuk memilah dan memverifikasi informasi.

Menurutnya, melalui analisis data, publik dapat menelusuri sumber informasi, tingkat kredibilitas penyampaian, hingga proporsi akun manusia dan robot yang terlibat dalam penyebaran suatu isu. Ia mencontohkan isu-isu seperti kepercayaan masyarakat terhadap rupiah atau kabar tentang dampak suatu produk terhadap kesehatan.

Dengan big data, dapat dianalisis siapa yang menyampaikan informasi tersebut, apakah memiliki kompetensi, serta seberapa luas dan masif penyebarannya.

"Bisa jadi satu kebohongan, tapi kalau didapat oleh jutaan orang, itu dianggap satu kebenaran. Jadi itu berbahaya, maka harus ada counter narasi. Jadi big data singkatnya itu bisa mencari kebenaran dan bisa menarasikan pertarungan antar media ini," jelas Rhenald Kasali.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Rumah Perubahan hadir sebagai ruang pembelajaran untuk memahami, membaca, dan melakukan perubahan. Lembaga tersebut tidak hanya mengajarkan teori transformasi, tetapi juga praktik langsung dalam berbagai bidang.

Ia mengaku sejak 1998 sudah melatih kewirausahaan yang terus tumbuh dan berkembang menjadi pengembangan kewirausahaan sosial. Selanjutnya, konsep disrupsi diperkenalkan sebagai respons atas perubahan zamann. "Maka, orang bisa melihat bahwa kami sendiri juga melakukan perubahan," tuturnya.

Baca Juga :
Rhenald Kasali Kritik Gaya Pidato Menteri Pariwisata: Jangan Baca Teks, Pemimpin Harus Menginspirasi!
Rhenald Kasali Kecam Hinaan Gus Miftah ke Penjual Es Teh, Soroti Mudahnya Dapat Gelar Tokoh Agama
Teknologi Canggih Ini bikin Iklan Kamu Enggak Sia-sia

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Chris Hemsworth Rahasiakan Idap Alzheimer, Takut Karier Thor Redup
• 2 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Strategi Belajar ala Pelajar Korea yang Bisa Kamu Tiru di Rumah
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Akhirnya Klarifikasi Soal Kabar Perceraian, Minta Semua Pihak Berhenti Sebarkan Hoaks
• 10 jam lalugrid.id
thumb
PBI BPJS Kesehatan Nonaktif? Begini Cara Reaktivasinya
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Menekraf Teuku Riefky: Ekonomi Kreatif Adalah Mesin Baru Perekonomian Nasional
• 3 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.