Tanggal 24 Januari 2026 menandai 50 tahun hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Republik Suriname. Momentum ini dipandang sebagai tonggak sejarah yang dirayakan melalui rangkaian kegiatan budaya, ekonomi, dan diplomasi.
Perayaan Golden Jubilee ini menguatkan kembali ikatan bilateral yang unik, berakar dari sejarah panjang diaspora Jawa di Suriname sebagai dampak dari kolonalisme Belanda dan berlanjut setelah kedua negara merdeka serta semakin diperkuat dengan kerja sama yang terus berkembang di berbagai bidang. (Liputan 6)
Sejarah dan Fondasi HubunganHubungan Indonesia–Suriname secara resmi dimulai pada 24 Januari 1976 setelah pembentukan kedutaan dan pengakuan diplomatik kedua negara. Kedua negara sama-sama pernah menjadi bagian dari wilayah jajahan Belanda dan sejarah hubungan ini juga diperkuat dari pertama kali orang Jawa bermigrasi ke Suriname pada tahun 1890 di bawah kolonialisme Belanda.
Hal ini menciptakan diaspora Jawa yang kini menjadi bagian penting dari masyarakat Suriname. Seperti dimuat Jakarta Post, komunitas keturunan orang Jawa di Suriname kini diperkirakan mencapai sekitar 14 persen dari total populasi, dengan banyak yang memegang peran penting di ranah sosial, budaya, dan pemerintahan di Paramaribo dan sekitarnya.
Dirilis oleh Kabarindo, rangkaian kegiatan memperingati 50 tahun hubungan diplomatik digelar mulai akhir 2025 hingga awal 2026, termasuk Indofair 2025 yang diadakan di Paramaribo dan menyedot lebih dari 12.000 pengunjung, baik warga Suriname, diaspora Indonesia, maupun pelaku usaha dari kedua negara.
Acara ini bukan hanya menjadi ajang perdagangan, melainkan juga menunjukkan perpaduan budaya yang kuat, termasuk musik dan tarian tradisional Indonesia yang dinikmati oleh masyarakat lokal.
Pada resepsi diplomatik utama di Hotel Yogh Hospitality tanggal 24 Januari 2026, seperti diberitakan oleh Liputan 6, Duta Besar Indonesia untuk Suriname, Agus Priono, menyampaikan bahwa peringatan Golden Jubilee tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menegaskan komitmen bersama untuk memajukan kemitraan ke depan yang inklusif dan berdampak positif bagi kedua bangsa.
Kerja Sama Nyata dan Prospek Masa DepanSelama lima dekade hubungan diplomatik, kerja sama Indonesia–Suriname telah meluas dari politik dan budaya ke berbagai sektor strategis.
Pertama, di sektor ekonomi dan perdagangan. Pasar Suriname dilihat Indonesia sebagai pintu masuk strategis ke Amerika Latin, terutama dalam hal ekspor barang, investasi, dan kerja sama infrastruktur.
Indonesia juga menyatakan minatnya untuk berpartisipasi dalam proyek infrastruktur yang didukung oleh lembaga internasional, seperti Islamic Development Bank. (The Jakarta Post)
Kedua, dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Kerja sama di bidang pendidikan terus diperkuat, termasuk program beasiswa dan kolaborasi akademik antara universitas di kedua negara.
Kegiatan seperti webinar internasional yang diselenggarakan oleh Pusat Unggul Iptek (PUI) Javanologi UNS—tentang sejarah 133 tahun diaspora Jawa di Suriname yang diikuti peserta dari 10 negara—menunjukkan komitmen bersama dalam pelestarian budaya dan pertukaran wawasan akademik.
Kegiatan ini juga menyoroti urgensi bahwa hubungan budaya tetap menjadi tulang punggung kedekatan kedua negara. Kegiatan seni, festival Jawa–Suriname, dan kolaborasi diaspora Jawa di lingkup bilateral dan bahkan internasional dapat memperkuat jaringan sosial lintas negara yang tak hanya bersifat formal, tetapi juga emosional dan historis.
Ketiga, dalam sektor sumber daya manusia dan pembangunan berkelanjutan, salah satu contohnya adalah kegiatan yang dilakukan oleh delegasi dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang telah melakukan kunjungan resmi untuk membahas beasiswa dan pelatihan sumber daya manusia, termasuk peluang riset dan pengembangan kapasitas di sektor pendidikan dan sains.
Hal ini juga mempertegas kerja sama dua negara yang juga berfokus pada aspek pembangunan berkelanjutan, seperti pendidikan inklusif, kesetaraan, dan aksi iklim membuka ruang baru kerja sama masa depan.
Tantangan dan Peluang StrategisProspek kerja sama Indonesia–Suriname ke depan dipengaruhi oleh dinamika global dan potensi kawasan. Hal tersebut memunculkan tantangan seperti logistik global, trade facilitation, dan integrasi diaspora dua negara, yang tentunya memerlukan strategi kebijakan yang matang.
Di sisi lain, potensi besar tetap ada, termasuk peran Suriname sebagai hub perdagangan di Amerika Latin dan Indonesia sebagai negara berkembang dengan hubungan sejarah yang kuat.
Selain itu, kerja sama melalui rezim internasional—seperti World Trade Organization (WTO) dan Forum East Asia-Latin America Cooperation—memperluas ruang diplomasi ekonomi kedua negara di kancah global.
Peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Suriname menegaskan bahwa hubungan kedua negara bukan sekadar formalitas politik, melainkan juga sebuah kemitraan yang kuat dan terus berkembang dalam berbagai dimensi—sejarah, budaya, pendidikan, dan ekonomi.
Rangkaian perayaan Golden Jubilee ini memberikan momentum yang tidak hanya bertujuan untuk mengenang masa lalu, tetapi juga memperjelas visi bersama menuju masa depan yang lebih produktif melalui kolaborasi yang inklusif, strategis, dan berdampak nyata bagi kedua bangsa.




