JAKARTA, KOMPAS.TV - Psikolog keluarga Alissa Wahid dalam program ROSI menyoroti bagaimana media sosial menciptakan benchmark atau standar yang begitu tinggi tentang bagaimana seorang anak “seharusnya” menjadi.
“Dulu anak yang tinggal di desa tidak tahu apa yang dilakukan anak seusianya di kota. Sekarang benchmark itu ada di kepalanya. Lalu ketika itu tidak bisa terwujud, itu menjadi beban,” ujar Alissa.
Menurutnya, jarak antara realitas dan standar yang dilihat di media sosial bisa terasa sangat jauh. Bahkan bagi orang dewasa, kondisi seperti itu sudah berat. Apalagi bagi anak usia 10 tahun.
Di usia tersebut, anak sebenarnya sedang memasuki masa praremaja (pre-teen). Hormon menuju kedewasaan mulai muncul, sementara kematangan emosional belum sepenuhnya terbentuk.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2022–2027, Margaret Aliyatul Maimunah, menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, pengasuhan berkualitas bukan sekadar kebutuhan, melainkan hak anak.
“Persoalannya sekarang adalah bagaimana anak mendapatkan haknya itu,” tegas Margaret.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/fXp27lsQ16U
**diskusi ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahli.
Penulis : Elisabeth-Widya-Suharini
Sumber : Kompas TV
- alissa wahid
- kpai
- siswa
- ntt
- tewas


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5494262/original/002677900_1770282457-Bali_United_Vs_Persebaya_Surabaya.jpg)
