jpnn.com, KALIMANTAN UTARA - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya perlindungan dan pengelolaan lahan basah berbasis pengetahuan tradisional.
Dia berharap lahan basah menjadi kawasan dengan biodiversitas tinggi dan menjadi sumber ekonomi untuk masyarakat pesisir.
BACA JUGA: Cek Kawasan Bantimurung, Menhut Singgung Perbaikan Fasilitas Dasar Taman Nasional
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Menhut Raja Juli dalam peringatan Hari Lahan Basah Sedunia bertajuk ‘Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Budaya’ di Kalimantan Utara.
Dalam acara turut dihadiri Head of Development Cooperation and Counsellor, Embassy of Canada to Indonesia Ms. Alice Birnbaum, Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang dan jajaran Kementerian Kehutanan.
BACA JUGA: Tampil di Forum London, Menhut Raja Juli Ungkap Komitmen Prabowo Lindungi Gajah Sumatra
“Kami berharap Lahan basah bukan hanya tanah yang basah, tetapi kawasan dengan biodiversitas yang sangat tinggi, sumber ekonomi yang baik, sekaligus memiliki kemampuan penyerapan karbon yang sangat besar,” ujar Menhut di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan, dikutip Sabtu (7/2).
Raja Antoni mengatakan kemajuan ilmu pengetahuan modern telah membawa banyak progres dalam pengelolaan kehutanan dan lingkungan.
BACA JUGA: Menhut Raja Juli Apresiasi Kepala Daerah yang Berkomitmen Menjaga Hutan
Namun, kata dia, kearifan lokal tetap memiliki peran strategis sebagai sumber pengetahuan yang harus diakui dan dirayakan.
“Masyarakat kita sejak dulu sudah sangat terbiasa dengan sistem pasang surut, sistem pertanian di lahan basah, hingga memahami pola migrasi burung di kawasan basah sejak zaman nenek moyang,” jelasnya.
“Hal-hal seperti ini perlu kita institusionalisasikan untuk melengkapi riset-riset yang dilakukan oleh universitas dan lembaga-lembaga kita,” sambungnya.
Lebih lanjut, Menteri Kehutanan menegaskan komitmen Indonesia sebagai anggota Konvensi Ramsar, dengan telah mendaftarkan delapan situs lahan basah penting.
Indonesia, lanjut dia, dianugerahi kekayaan lahan basah yang luar biasa, sehingga perlu adanya kolaborasi semua pihak baik nasional maupun internasional.
“Sekitar 23 persen mangrove dunia berada di Indonesia, dan kita juga memiliki gambut tropis terbesar di dunia. Ini adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus kita jaga bersama-sama,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Head of Development Cooperation and Counsellor, Embassy of Canada to Indonesia Ms. Alice Birnbaum mengatakan pihaknya bangga dapat bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan.
Dia mengaku berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem mangrove dan masyarakat pesisir.
“Mangrove ini tidak hanya indah tapi juga diakui secara global sebagai penopang keanekaragaman hayati dan pondasi bagi ekosistem. Canada sangat bangga dapat bermitra dengan Kementerian Kehutanan dan banyak pihak lainnya. Kami berkomitmen untuk melindungi ekosistem sekaligus memperkuat masyarakat pesisir. Kita di sini hadir ini menjadi babak baru menuju keberlanjutan,” ujar Alice. (ddy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Menhut Raja Antoni Kembali Segel 3 Subjek Hukum Perusak Hutan, Total Jadi 7
Redaktur & Reporter : Dedi Sofian



