”Siapa Pun Presidennya, Menterinya Prof Yusril”

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Gibran melontarkan pujian itu dalam acara ”Peluncuran Delapan Buku, Satu Jejak Pengabdian: Rekam Jejak 70 Tahun Prof Dr Yusril Ihza Mahendra”, di Jakarta, Sabtu (7/2/2026). Peluncuran buku juga bagian dari rangkaian peresmian Prof Dr Yusril Ihza Mahendra's Collections, sebuah arsip intelektual tiga lantai yang telah diresmikan pada 25 Agustus 2025 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 

Delapan buku yang diluncurkan adalah The Untold Stories of Prof Dr Yusril Ihza Mahendra, dan Testimoni Kolega (Editor M Saleh Mude dkk, 926 halaman), The Autobiography of Prof Dr Yusril Ihza Mahendra, Testimoni Kolega, dan Hadiah Puisi (Editor M Saleh Mude, 492 halaman); Islam, Democracy, and Human Rights in Contemporary Indonesia (Editor Prof Dr Yusril Ihza Mahendra dan Prof Dr Hafid Abbas, 192 halaman); dan Pemikiran Politik Yusril Ihza Mahendra: Islam, Negara, dan Demokrasi (Herdito Sandi Pratama, 322 halaman).

Empat buku lainnya adalah Prof Dr Yusril Ihza Mahendra: Keadilan yang Memulihkan (Ahmadie Thaha, 460 halaman); The Landmark Cases of Prof Dr Yusril Ihza Mahendra (Fitra Arsil dan Qurrata Ayuni, 540 halaman); Lebih Dekat dengan Prof Dr Yusril Ihza Mahendra: Pandangan Tokoh dan Sahabat (Randy Bagasyudha dkk, 112 halaman); dan Di Mana Bumi Dipijak: Novel Biografis (Andre Syahreza, 188 halaman).

Kembali ke pujian Gibran kepada Yusril, apa yang dikatakan Gibran tidak berlebihan. Yusril memang banyak dipercaya menjadi menteri di bawah beberapa presiden RI.

Yusril mengemban jabatan menteri, mulai dari Menteri Hukum dan Perundang-undangan di era Presiden keempat Abdurrahman Wahid, Menteri Hukum dan HAM di era Presiden kelima Megawati, dan Menteri Sekretaris Negara di era Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Kini, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Yusril ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas).

”Sehingga, yang Bapak Presiden (Prabowo) sampaikan di kata pengantar beliau, pengabdian Prof Yusril bukan semata soal jabatan, tapi sebuah pengabdian yang berkesinambungan, lintas rezim, yang hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang memiliki integritas, kejernihan berpikir, dan kesetiaan kepada negara, bukan pada kekuasaan sesaat,” kata Gibran.

Baca JugaYusril Ihza Mahendra, Wakafkan 14.000 Buku 

Gibran juga menyebut Yusril sebagai tokoh yang serba bisa. Selain menjadi guru besar hukum tata negara di usia 42 tahun, Yusril berkiprah di berbagai bidang, baik keagamaan, hukum, tata negara, maupun politik.

”Sebagai anak muda, saya harus banyak belajar dari beliau, dari pengalaman-pengalaman beliau,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Yusril mengatakan delapan buku yang diluncurkan tersebut ditulis oleh banyak orang, bukan oleh dirinya. Buku-buku itu menceritakan kehidupannya sejak berusia 20 tahun, yakni ketika Yusril muda mulai berkecimpung dalam pergerakan politik hingga 50 tahun sesudahnya.

Menurut Yusril, buku-buku tersebut merupakan catatan perjalanan sejarah yang cukup panjang. Tidak hanya menyangkut pribadinya, buku-buku itu juga memotret perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara.

Bisa diunduh siapa pun

Yusril menyampaikan, masing-masing buku tersebut telah dicetak sebanyak 1.000 eksemplar. Selain berbentuk fisik, buku-buku tersebut juga diunggah ke situs web yusril.ihzamahendra.com dan dapat diunduh secara bebas oleh siapa pun.

”Memang tidak diperjualbelikan. Siapa yang mau men-download, silakan saja. Jadi, semakin banyak buku dibaca orang, semakin bagus dan tersebarlah ide-ide yang ada di dalam buku-buku itu,” kata Yusril.

Tak hanya Gibran Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim yang sambutannya dibacakan oleh Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato' Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin juga memuji sosok Yusril.

Yusril disebut sebagai figur politisi sekaligus pemikir Islam moderat, pakar hukum tata negara, pakar ilmu politik, serta ahli filsafat. Dalam konteks itu, Yusril dipandang menempatkan Islam sebagai norma dan nilai universal yang dapat menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pemikiran Yusril juga disebut sama dengan gurunya, Mohammad Natsir. Mereka dinilai sebagai para tokoh yang tidak berhenti hanya sebagai teoretikus di antara tumpukan buku, tetapi juga terlibat secara langsung dalam praktik penyelenggaraan negara. Hal itu yang membuat mereka paham bahwa dunia politik yang nyata memerlukan solusi yang nyata pula, bukan sekadar teori dan idealisme berpikir dalam dunia yang abstrak.

”Dunia nyata tidaklah steril dari pergolakan dan benturan pemikiran dan kepentingan. Karena itu, kompromi-kompromi politik sering kali harus dilakukan demi menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa yang majemuk,” tutur Dato' Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin.

Baca JugaRamai-ramai Menteri Tampil di Hadapan Mahkamah Konstitusi 

Pada kesempatan itu, koordinator penerbitan delapan buku tersebut, Hafid Abbas, mengatakan, delapan buku yang diluncurkan merupakan pengingat bahwa warisan terpenting seseorang bukanlah jabatan, melainkan gagasan, keteladanan, dan keberanian menjaga prinsip.

Hafid berharap, di tengah perubahan zaman dan dinamika politik yang cepat, buku-buku itu dapat menjadi ruang belajar tentang bagaimana ilmu, kekuasaan, dan etika dapat berjalan beriringan.

Berikut gambaran singkat dari setiap buku dimaksud:

  1. The Untold Stories of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, dan Testimoni Kolega (Editor M. Saleh Mude dkk., 926 halaman), menghadirkan kisah-kisah yang selama ini berada di balik layar sejarah resmi. Melalui testimoni kolega dari berbagai latar belakang, buku ini memperlihatkan bagaimana keputusan-keputusan besar sering lahir dari proses sunyi, perdebatan intelektual, dan keteguhan menjaga prinsip.
  2. The Autobiography of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Testimoni Kolega, dan Hadiah Puisi (Editor M. Saleh Mude, 492 halaman), membawa pembaca memasuki ruang refleksi personal. Autobiografi ini tidak berhenti pada kronologi jabatan, melainkan mengisahkan pergulatan batin, pilihan-pilihan sulit, serta makna pengabdian yang dipahami sebagai tanggung jawab moral, bukan sekadar kekuasaan.
  3. Islam, Democracy, and Human Rights in Contemporary Indonesia (Editor Prof Dr Yusril Ihza Mahendra dan Prof Dr Hafid Abbas, 192 halaman), merekam dialog panjang antara Islam, demokrasi, dan hak asasi manusia. Buku ini menunjukkan upaya konsisten Yusril menempatkan nilai-nilai keislaman dalam kerangka konstitusional yang menghormati pluralitas dan martabat manusia.
  4. Pemikiran Politik Yusril Ihza Mahendra: Islam, Negara, dan Demokrasi (Dr Herdito Sandi Pratama, 322 halaman). Buku ini menelusuri konsistensi pemikiran politik Yusril dari masa ke masa, terutama dalam memperjuangkan aspirasi politik Islam melalui jalur hukum dan demokrasi, tanpa mengorbankan prinsip negara kebangsaan.
  5. Prof Dr Yusril Ihza Mahendra: Keadilan yang Memulihkan (Ahmadie Thaha, 460 halaman). Buku ini menempatkan hukum bukan semata sebagai instrumen penghukuman, melainkan sebagai sarana memulihkan relasi sosial, martabat manusia, dan rasa keadilan publik.
  6. The Landmark Cases of Prof Dr Yusril Ihza Mahendra (Prof Dr Fitra Arsil dan Dr Qurrata Ayuni, 540 halaman), mendokumentasikan perkara-perkara konstitusional penting yang pernah melibatkan Prof. Yusril. Melalui kasus-kasus tersebut, pembaca diajak memahami bagaimana argumentasi hukum dapat mengubah tafsir undang-undang dan memengaruhi arah perkembangan hukum tata negara Indonesia.
  7. Lebih Dekat dengan Prof Dr Yusril Ihza Mahendra: Pandangan Tokoh dan Sahabat (Randy Bagasyudha dkk., 112 halaman). Kesaksian para sahabat dan tokoh menghadirkan potret tentang konsistensi, keberanian, dan kesetiaan pada prinsip, yang sering kali justru paling terasa dalam relasi personal.
  8. Di Mana Bumi Dipijak: Novel Biografis (Andre Syahreza, 188 halaman). Dengan pendekatan sastra, novel ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan hidup Yusril dari kampung pesisir di Belitung hingga pusat kekuasaan negara.

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Konflik Masyarakat Adat Vs AMNT Terus Bergulir, Pemerintah Didesak Kaji Pembatalan Konsensi
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Wali Kota Eri Cahyadi Gandeng Kejati Jatim Lakukan Audit Independen Keuangan PD TSKBS
• 10 jam lalurealita.co
thumb
VinFast Soroti Tantangan dan Peluang Industri Industri Otomotif
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Penjelasan di Balik Gempa Pacitan, Jumat 6/2/2026
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Wi Ha Joon dan 7 Perannya di Drama Thriller yang Wajib Ditonton
• 12 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.