Din Syamsuddin: Board of Peace Berpotensi Perparah Konflik Timur Tengah

merahputih.com
4 jam lalu
Cover Berita

MerahPutih.com - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, menilai prakarsa Board of Peace (BOP) yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai bentuk baru neo-kolonialisme dan imperialisme.

Menurut Din, konsep tersebut tidak merepresentasikan upaya perdamaian sejati, melainkan menyimpan agenda politik jangka panjang yang berpotensi memperparah ketidakstabilan kawasan Timur Tengah.

Din menjelaskan, neokolonialisme — meminjam istilah Bung Karno — merupakan bentuk penjajahan gaya baru yang dilakukan tidak selalu melalui pendudukan teritorial, tetapi melalui pengaruh politik, ekonomi, dan kekuasaan global.

Dalam konteks ini, Board of Peace dinilai sejalan dengan praktik imperialisme modern yang memperluas kendali dan kepentingan satu negara atas negara lain secara tidak langsung.

Baca juga:

Alwi Shihab Ungkap Sikap Prabowo soal Board of Peace dan Palestina, Tegaskan Dukungan Two-State Solution

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menilai prakarsa Trump sarat standar ganda. Amerika Serikat, kata dia, dinilai bungkam terhadap agresi dan kekerasan Israel yang masih berlangsung di Palestina, namun pada saat yang sama mendorong inisiatif yang diklaim bertujuan membangun kembali Gaza.

“Naif dan ironis jika berbicara rekonstruksi Gaza tanpa melibatkan tokoh-tokoh Palestina, sementara Perdana Menteri Israel justru dilibatkan. Ini menunjukkan bahwa Board of Peace bukan ditujukan untuk keadilan, melainkan menguntungkan Israel dalam jangka panjang,” ujar Din dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (7/2).

Ia juga meragukan kapasitas Donald Trump sebagai pencipta perdamaian. Menurut Din, rekam jejak kebijakan Trump di sejumlah kawasan global justru menunjukkan peran sebagai pengganggu stabilitas internasional. Karena itu, Board of Peace dinilainya hanya kamuflase dengan agenda tersembunyi.

Baca juga:

Seskab Teddy Akui Status Keikutsertaan RI di Board of Peace Tidak Bersifat Tetap

Din memperkirakan penolakan terhadap prakarsa tersebut akan terus menguat, baik di tingkat global maupun di dalam negeri Amerika Serikat. Ia menyebut telah muncul peringatan dari sejumlah anggota Senat dan Kongres AS terkait potensi konsekuensi politik terhadap Trump.

Eks Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu juga menyerukan agar para pemimpin negara-negara Islam yang terlanjur bergabung dalam Board of Peace melakukan refleksi mendalam.

“Hati nurani akan membisikkan kebenaran,” ujarnya, seraya mengingatkan amanat konstitusi Indonesia untuk menghapus segala bentuk penjajahan dan mewujudkan perdamaian abadi. (Pon)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mariah Carey Tampil Membawakan Lagu Italia untuk Pertama Kalinya di Pembukaan Olimpiade Milano-Cortina 2026
• 2 jam lalupantau.com
thumb
AHY Tegaskan Transformasi Transmigrasi Instrumen Pembangunan Nasional 
• 13 jam lalueranasional.com
thumb
Guru SD di Sebatik Diduga Dikucilkan Rekan Kerja, Tunjangan Setahun Tak Cair
• 18 jam laludetik.com
thumb
Lahan Basah Harus Jadi Sumber Biodiversitas dan Ekonomi Pesisir
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Lengkap, 6 Penyebab Aki Mobil Tekor dan Cara Mengatasinya
• 13 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.