Hasil Sementara Final Piala Asia Futsal 2026: Drama di Indonesia Arena, Garuda Unggul 4-3 atas Iran

harianfajar
13 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, JAKARTA — Indonesia Arena bergemuruh. Di bawah sorot lampu dan riuh ribuan suporter, partai final Piala Asia Futsal 2026 menjelma menjadi panggung ketegangan yang nyaris tak memberi jeda napas. Timnas Futsal Indonesia dan Iran saling berbalas gol dalam tempo tinggi, menghadirkan drama yang membuat waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.

Hingga pertengahan babak kedua, skuad Garuda untuk sementara unggul 4-3 atas raksasa Asia tersebut.

Pertandingan baru berjalan tiga menit ketika Iran menunjukkan kedigdayaannya. Tim asuhan Vahid Shamsaee langsung mengambil inisiatif serangan. Tekanan bertubi-tubi mereka akhirnya berbuah hasil lewat sepakan Hossein Tayebibidgoli. Gol cepat itu sempat membuat Indonesia Arena terdiam. Iran memimpin 1-0.

Namun Indonesia tidak datang ke final untuk sekadar menjadi penonton kejayaan lawan.

Sebelum gol Iran tercipta, Rio Pangestu sebenarnya sempat mengirimkan tembakan kejutan yang memaksa kiper Bagher Mohammadi bekerja keras. Peluang itu seperti menjadi alarm bagi Iran—dan sekaligus pemantik semangat bagi tuan rumah.

Momentum berbalik di menit ketujuh. Reza Gunawan mencetak gol penyama kedudukan setelah memanfaatkan bola muntah hasil sepakan Dewa Rizki. Indonesia Arena pun meledak. Skor berubah menjadi 1-1.

Hanya berselang satu menit, Israr Megantara membalikkan keadaan. Dengan penyelesaian cepat dan tenang, ia membawa Indonesia unggul 2-1. Iran yang semula dominan, mendadak berada dalam tekanan.

Israr belum berhenti. Pada menit kesembilan, ia kembali mencatatkan namanya di papan skor. Memanfaatkan umpan dari kiper Ahmad Habiebie, Israr menuntaskan peluang dengan presisi tinggi. Indonesia memimpin 3-1. Dua gol dalam rentang dua menit menjadi bukti efektivitas transisi cepat skuad asuhan Hector Souto.

Iran mencoba meredam euforia itu dengan mengambil time out. Namun permainan Indonesia tetap terjaga. Bahkan Firman Adriansyah nyaris menambah keunggulan pada menit ke-13 melalui solo run tanpa kawalan, meski tembakannya ditepis Mohammadi. Semenit berselang, bola hasil sepakan Firman sudah melewati kiper, tetapi hanya membentur tiang.

Di tengah asyik menyerang, celah pertahanan Indonesia sempat dimanfaatkan Iran pada menit ke-16. Saeid Ahmad Abbasi mencetak gol, tetapi dianulir wasit setelah tinjauan video menunjukkan bola telah keluar lapangan sebelum proses gol terjadi. Keputusan itu menjadi titik krusial yang menjaga keunggulan Indonesia.

Tekanan Iran belum usai. Pada menit yang sama, mereka mendapat second penalty setelah Indonesia melakukan enam pelanggaran. Namun Ahmad Habiebie tampil sebagai tembok terakhir. Ia menggagalkan eksekusi Salar Aghapour dengan refleks cepat, menyelamatkan Indonesia dari kebobolan.

Akan tetapi, Iran akhirnya benar-benar memperkecil ketertinggalan pada menit ke-18. Tendangan bebas tidak langsung yang diperoleh akibat kelalaian di area pertahanan Indonesia dimaksimalkan Mahdi Karimi. Skor berubah menjadi 3-2.

Babak pertama pun ditutup dengan keunggulan tipis Indonesia.

Memasuki babak kedua, tempo tak juga menurun. Iran langsung tampil agresif, mencoba mengembalikan dominasi. Tekanan mereka akhirnya membuahkan hasil ketika skor kembali imbang 3-3. Gol itu seperti menguji mental skuad Garuda: apakah mereka akan goyah, atau justru bangkit?

Jawabannya datang kurang dari satu menit kemudian.

Indonesia merespons dengan cepat. Melalui skema serangan terorganisasi dan keberanian mengambil risiko, Garuda kembali mencetak gol untuk mengubah skor menjadi 4-3. Indonesia Arena kembali bergemuruh, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Sorakan tak lagi sekadar dukungan, melainkan luapan harapan.

Pertandingan berubah menjadi duel mental. Iran terus mencoba memaksakan tempo cepat, sementara Indonesia bermain lebih disiplin dalam transisi bertahan dan menyerang. Habiebie kembali beberapa kali melakukan penyelamatan penting, menjaga keunggulan tipis tersebut.

Final ini bukan hanya tentang teknik dan taktik. Ia adalah ujian ketahanan emosi. Indonesia menunjukkan bahwa mereka tak lagi sekadar tim yang bertahan dari gempuran Iran. Mereka berani melawan, berani membalas, dan berani memimpin.

Dengan skor sementara 4-3, laga masih menyisakan waktu yang cukup untuk drama berikutnya. Iran dikenal sebagai tim dengan pengalaman dan mental juara di level Asia. Namun malam ini, Indonesia memperlihatkan bahwa mereka pantas berdiri sejajar.

Di Indonesia Arena, ketegangan belum menemukan titik akhir. Satu gol bisa mengubah segalanya. Tetapi untuk saat ini, Garuda terbang sedikit lebih tinggi—unggul tipis, namun penuh keyakinan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kasus Demensia Dini Meningkat, Pakar Serukan Tindakan Darurat
• 15 jam lalugenpi.co
thumb
Prajurit Kopassus Ini Tak Mau Bocorkan Lokasi Pasukannya Meski Kaki Ditembak hingga Diamputasi
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
OJK Terbitkan Aturan Perkuat Aset Keuangan Digital
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Mariah Carey Tampil Membawakan Lagu Italia untuk Pertama Kalinya di Pembukaan Olimpiade Milano-Cortina 2026
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Pakai Baju Koko Putih, Prabowo Hadiri Acara Munajat Bangsa-Pengukuhan Pengurus MUI di Istiqlal
• 23 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.