Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali melontarkan peringatan keras kepada seluruh jajaran Kementerian Keuangan. Teguran ini disampaikan menyusul tindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menangkap sejumlah anak buahnya dalam lingkungan kementerian.
Mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu secara tegas menyatakan tidak akan mentolerir praktik menyimpang, terutama di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, yang kerap menjadi sorotan publik terkait kasus korupsi.
"Pokoknya akhir tahun saya enggak mau dengar kalimat itu (kebocoran) lagi dari Presiden," tegas Purbaya dengan nada tinggi.
Peringatan itu disampaikan usai ia melantik sejumlah pejabat di lingkungan Kemenkeu di Gedung Juanda I, Jakarta, Jumat (6/2) sore. Purbaya menegaskan, setiap pimpinan yang terbukti lalai mengawasi bawahannya harus siap untuk dicopot.
"Kalau di masa lalu pimpinannya gak kena kan? Kalau sampai tersangka betul sampai level 1 di bawah pimpinannya, kita akan ganti terus sampai ke atas," ujarnya.
Ia menekankan bahwa berulangnya kasus korupsi di sektor pajak dan cukai merupakan alarm serius bahwa pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak boleh setengah-setengah.
"Ini terjadi berkali-kali dan sepertinya kalau kita enggak hati-hati akan terjadi terus," kata Purbaya.
Dalam amanatnya, Purbaya meminta para pejabat yang baru dilantik untuk secara aktif mengawasi kinerja dan integritas anak buahnya. Ia menepis alasan bahwa jarak struktural bisa menjadi pembenaran untuk tidak mengetahui penyimpangan.
"Saya harap teman-teman yang baru dilantik mengawasi betul kinerja anak buahnya. Enggak bisa lagi kita bilang, 'Oh, saya enggak tahu, itu di bawah saya terlalu jauh.' Anda harus mengawasi itu. Karena pada akhirnya kalau begini terus, ya dirjen-dirjen dan saya juga kena, enggak bisa lari," paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga mengungkapkan kegelisahannya mengenai performa setoran pajak ke negara yang dinilainya belum kunjung membaik, padahal ekonomi sedang dalam masa pemulihan.
Baca Juga: Defisit APBN Nyaris 3%, Purbaya: Pegawai Kemenkeu Sampai Gak Bisa Tidur
Kekhawatiran itu didasari oleh realisasi penerimaan pajak tahun 2025 yang mencapai Rp917,6 triliun. Meski angka terlihat besar, realisasi ini ternyata meleset dari target yang telah ditetapkan pemerintah.
Purbaya mengaku kerap mendapat teguran langsung dari Presiden terkait kebocoran di sistem perpajakan. Ia mendesak jajarannya, baik di pusat maupun daerah, untuk serius mengejar target dan memberantas praktik curang seperti transfer pricing dan under-invoicing.
"Jangan sampai kita dikalahkan oleh pemain-pemain yang mengalahkan kita sampai sekarang ya," tandasnya.
Purbaya berharap kinerja penagihan pajak dapat meningkat signifikan. "Tentunya kalau prestasi kita bagus dan tax collection-nya naik misalnya ke 11-12%...nanti kita pesta makan-makan kalau itu kejadian," tutupnya dengan sedikit canda, namun tetap menyisakan tekanan yang tegas bagi seluruh jajaran di hadapannya.


