Tragedi mengakhiri hidup seorang anak 10 tahun di Nusa Tenggara Timur baru-baru ini menyingkap rapuhnya perlindungan kesehatan mental anak di tengah tekanan hidup yang berat. Selain faktor sosial ekonomi, hal-hal mendasar seperti pola makan sehari-hari juga berperan membentuk ketahanan emosi dan perkembangan otak mereka.
Data Kepolisian dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan ratusan kasus mengakhiri hidup atau bunuh diri di kalangan pelajar dan remaja dalam satu tahun terakhir saja, dengan sebagian pelaku berada di bawah usia 17 tahun. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari tingginya masalah kesehatan mental di kalangan remaja.
Laporan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022 menunjukkan 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental dan 2,45 juta (5,5 persen) remaja mengalami gangguan mental. Dari jumlah itu, baru 2,6 persen yang mengakses layanan konseling, baik emosi maupun perilaku.
Secara global, anak-anak dan remaja saat ini kian rentan mengalami masalah kesehatan mental. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, satu dari tujuh anak usia 10-19 tahun menderita gangguan jiwa, terhitung 13 persen dari beban global penyakit pada kelompok usia tersebut.
Depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku adalah salah satu penyebab utama penyakit dan kecacatan di kalangan remaja. Adapun mengakhiri hidup merupakan penyebab utama kematian keempat pada kelompok usia 15-29 tahun.
Fenomena tersebut bukan sekadar angka dalam data statistik. Hal ini merupakan isyarat urgensi untuk mengatasi masalah kesehatan mental para remaja.
“Kita menghadapi alarm urgensi yang seharusnya menggugah kesadaran semua pihak bertindak cepat,” ujar Nurul Kusuma Hidayati, psikolog dari Center for Public Mental Health Universitas Gadjah Mada, mengenai meningkatnya angka bunuh diri pada remaja, dalam keterangan yang dirilis kampusnya, pada November 2025 lalu.
Intervensi tradisional untuk masalah kesehatan mental, misalnya, psikoterapi dan farmakoterapi, saat ini tersedia, walaupun aksesnya di Indonesia masih terbatas. Pendekatan ini juga bisa mahal, dan tetap tidak terjangkau bagi banyak orang, terutama di lingkungan dengan sumber daya terbatas.
Di tengah urgensi krisis kesehatan mental remaja, perhatian perlu diperluas pada faktor-faktor dasar yang sering terabaikan, termasuk pola makan sehari-hari yang turut memengaruhi fungsi otak, suasana hati, dan ketahanan emosional.
Masa remaja merupakan periode perkembangan kritis yang ditandai dengan perubahan sosial, psikologis, dan biologis yang pesat. Masa ini juga merupakan periode kerentanan yang tinggi, dengan gejala awal kesulitan kesehatan mental bisa muncul sejak usia 7–11 tahun.
Konsekuensi dari masalah kesehatan mental yang muncul sejak dini ini amat mendalam. Kesulitan pada masa remaja kerap berlanjut hingga dewasa, meningkatkan risiko depresi dan kecemasan berulang, prestasi akademik lebih rendah, fungsi sosial terganggu, dan kualitas hidup menurun.
Kondisi ini dapat menggagalkan tonggak perkembangan penting dan berkontribusi pada transmisi risiko antar generasi. Oleh karena itu, periode perkembangan ini merupakan peluang penting untuk pencegahan dan intervensi dini.
Jade E Tucker, peneliti kesehatan masyarakat dari Universitas Swansea dalam laporannya di jurnal Nutrients, 24 November 2025, menyebut, pola makan merupakan target potensial yang menjanjikan dan bisa diskalakan dengan relevansi langsung bagi remaja. Bukti-bukti mendukung kemungkinan kaitan diet dan kesehatan mental pada masa remaja.
Studi epidemiologi secara konsisten juga mengaitkan kualitas diet yang lebih buruk dengan gejala depresi dan kecemasan lebih besar, sedangkan pola makan yang lebih sehat dikaitkan dengan hasil lebih baik. Ini misalnya dilaporkan O’Neil, A. dan tim di American Journal of Public Health (2014).
Lane, M.M. dan tim dalam laporannya di jurnal Nutrients (2022) menjelaskan, makanan bisa mempengaruhi modulasi peradangan terkait diet, stres oksidatif, mikrobiota usus, dan faktor neurotropik, yang semuanya terlibat dalam kesehatan mental.
Namun sebagian besar bukti langsung untuk jalur spesifik ini berasal dari model dewasa atau praklinis, dan peran tepatnya dalam konteks perkembangan unik masa remaja tetap menjadi area penting untuk penyelidikan.
Studi terbaru dari Tucker dan tim menunjukkan pola makan mungkin berperan dalam kesehatan mental remaja, dan menetapkan peta jalan penelitian terperinci untuk lebih memahami hubungan ini. Tinjauan ini meneliti bukti dari 19 studi yang mengeksplorasi hubungan antara diet dan hasil kesehatan mental pada remaja.
Di seluruh studi, pola makan yang lebih sehat secara keseluruhan sering dikaitkan dengan gejala depresi yang lebih sedikit, sementara kualitas diet yang lebih buruk dikaitkan dengan tekanan psikologis yang lebih besar.
Para peneliti menganalisis enam uji coba terkontrol secara acak dan 13 studi kohort prospektif. Mereka menemukan bukti yang mendukung bahwa suplementasi nutrisi individu beragam, dengan temuan muncul tapi tak konsisten bahwa suplementasi vitamin D bisa mengurangi gejala depresi pada remaja.
Sebaliknya, pola makan secara keseluruhan dan indeks kualitas diet menunjukkan hubungan yang lebih konsisten dengan hasil kesehatan mental yang menguntungkan.
Menurut Tucker, masa remaja merupakan periode kritis untuk perkembangan otak dan kesehatan mental. Penelitian ini menawarkan peluang untuk pencegahan dan intervensi dini terhadap kesehatan mental remaja.
Penulis utama, Profesor Hayley Young dari Sekolah Psikologi Universitas Swansea, mengatakan, "Temuan kami menunjukkan strategi kesehatan masyarakat dan klinis harus memprioritaskan pendekatan diet holistik daripada suplementasi terisolasi ketika mempertimbangkan kesehatan mental remaja.”
Namun, menurut Hayley Young, penelitian berkualitas tinggi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan pola diet mana yang paling efektif dan untuk siapa.
Meski jalur biologis yang tepat masih membutuhkan riset lanjutan, bukti konsisten bahwa kualitas diet secara keseluruhan, bukan hanya suplemen tertentu, merupakan penentu kuat dalam mendukung kesehatan mental yang lebih baik bagi anak dan remaja.
Tak ada resep khusus yang disiapkan peneliti, namun ada beberapa prinsip yang penting ditekankan dalam kajian ini mengenai pola diet yang bisa mendukung kesehatan mental remaja yakni makan beragam seperti sayur, buah, kacang, umbi-umbian, biji-bijian.
Pendekatan diet yang menyeluruh lebih menjanjikan bagi kesehatan mental remaja dibanding mengandalkan suplemen tunggal.
Karbohidrat kompleks, misalnya dari umbi-umbian membantu pelepasan serotonin secara bertahap, sementara kacang memberi protein dan lemak sehat untuk kestabilan energi.
Selain itu, disarankan untuk mengurangi gula olahan, lemak berlebih, dan makanan ultra-proses yang bisa memperburuk suasana mental. Peneliti juga menekankan untuk memperhatikan pola makan keseluruhan, bukan hanya makanan tertentu.
“Pendekatan diet yang menyeluruh lebih menjanjikan bagi kesehatan mental remaja dibanding mengandalkan suplemen tunggal,” kata Hayley Young.
Tak ada “makanan anti-depresi” instan. Tapi ada pola makan yang terbukti mendukung otak remaja bekerja lebih stabil. Pola makan sehat ini bukan pengganti terapi psikologis. Namun ia adalah fondasi biologis yang membuat otak remaja lebih siap menghadapi tekanan hidup.
Dikombinasikan dengan tidur cukup, aktivitas fisik, dan dukungan emosional, makanan menjadi bagian dari strategi kesehatan mental yang utuh. Karena pada masa remaja, ketika emosi sering naik turun dan dunia terasa menekan, apa yang ada di piring mereka bisa ikut menentukan seberapa kuat mereka berdiri menghadapi hari esok.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5496111/original/056029000_1770471920-1000764651.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5446812/original/032244600_1765942364-marcos.jpg)