Prabowo di Harlah 1 Abad NU: Tak Ada Bangsa yang Kuat Kalau Pemimpin Tidak Rukun

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan peran NU yang selalu memberikan contoh persatuan dan toleransi. Ia menegaskan, bangsa yang kuat hanya bisa terjadi bila pemimpinnya rukun.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam acara Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Malang, Minggu (8/2).

"NU selalu memberi contoh, selalu berusaha untuk menjaga persatuan dan memang itulah pelajaran sejarah tidak ada bangsa yang kuat dan bisa maju kalau pemimpin-pemimpinnya tidak rukun," kata Prabowo.

Prabowo mengatakan, pemimpin harus selalu mengabdikan diri untuk bangsa dan rakyat Indonesia. Ia menyebut pemimpin tidak boleh punya dendam.

"Tidak boleh pemimpin punya dendam tidak boleh pemimpin punya rasa benci tidak boleh pemimpin punya rasa dengki tidak boleh pemimpin selalu mencari-cari kesalahan pihak lain," tegasnya.

Karenanya, Prabowo mengajak semua pemimpin Indonesia untuk rukun menjaga persatuan bangsa Indonesia setelah bertanding.

"Oleh karena itu saya selalu mengajak semua unsur selalu mari kita bersatu, boleh kita bertanding, boleh kita bersaing, boleh kita berbeda, boleh kita berdebat, tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia semua pemimpin masyarakat harus rukun harus menjaga persatuan dan kesatuan," ujarnya.

Prabowo menjelaskan, dalam sejarah kehidupan manusia, tidak ada kemakmuran di suatu bangsa apabila pemimpinnya tidak bersatu.

"Sejarah manusia mengajarkan kepada kita tidak mungkin ada kemakmuran tanpa perdamaian tidak mungkin ada perdamaian kalau pemimpin-pemimpinnya tidak bersatu tidak rukun tidak kompak pemimpin di setiap eselon pemimpin pemimpin politik pemimpin ekonomi pemimpin intelektual semuanya harus berpikir berpikir berpikir berjuang," ujarnya.

Lebih jauh, Prabowo menegaskan tidak ada kemakmuran di suatu bangsa apabila para pemimpin saling ribut dan terpecah belah.

Prabowo lalu mengutip pepatah jawa Mikul duwur mendhem jeru yang berarti menjunjung tinggi kebaikan dan mengubur dalam-dalam kekurangan.

"Guru-guru kita kiai-kiai kita leluhur kita mengajarkan selalu mikudur mendem ceruh tidak boleh ada rasa benci tidak boleh ada rasa dendam. Berbeda tidak masalah sesudah berbeda cari persatuan cari kesamaan, musyawarah untuk mufakat, itu kepribadian bangsa Indonesia," tutupnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Serba-serbi Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains 2026
• 30 menit laludetik.com
thumb
Satu Tahun Pramono-Rano: Integrasi Transportasi Jadi Kunci Atasi Kemacetan Jakarta
• 4 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kronologi Gajah di Riau Ditemukan Mati Tanpa Kepala, Berawal dari Bau Busuk hingga Polisi Temukan Proyektil Peluru
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Gerakkan Ekonomi lokal, Saan Mustopa Dorong Pemberhentian KA di Stasiun Rajapolah
• 4 jam lalumediaindonesia.com
thumb
BNN: Posbankum pelindung para korban narkoba dapatkan rehabilitasi
• 30 menit laluantaranews.com
Berhasil disimpan.