VIVA – Industri fashion di Indonesia terus bergerak mengikuti perubahan gaya hidup masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, fesyen syar’i atau modest fashion menunjukkan perkembangan yang signifikan dan semakin mendapat tempat di ruang publik.
Tren ini menandai pergeseran cara pandang, bahwa busana tertutup bukan sekadar simbol religius, tetapi juga bagian dari ekspresi diri, nilai, dan kesadaran berkelanjutan. Salah satu yang menjadi contoh bagaimana fesyen syar’i kini diposisikan lebih luas dari sekadar produk adalah dengan kehadiran pemain baru di dunia modest fashion.
Kehadiran brand modest fashion, Haadiya Syari, ternyata berangkat dari pengalaman pribadi sang founder dalam mencari busana syar’i yang tidak hanya patuh pada syariat, tetapi juga nyaman dan relevan dengan kehidupan modern.
“Saya ingin sama-sama belajar bersama dengan muslimah lain agar tetap istikamah berpakaian syar’i sesuai syariat Islam. Juga, untuk mengubah persepsi negatif atas perempuan berpakaian syar’i bahwa syar’i bukan sesuatu yang tertinggal, melainkan pilihan sadar dengan penuh kekuatan berlandaskan ketakwaan dan penghambaan kepada Allah Azza Wa Jalla,” kata Alia Karenina, Founder Haadiya Syari dalam peluncuran di Bandung pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Tema In Return yang diusung dalam peluncuran ini mengajak audiens melihat fesyen syar’i sebagai pilihan hidup yang membawa dampak jangka panjang. Dalam pandangan ini, memilih berpakaian modest tidak berarti kehilangan ruang berekspresi, melainkan memperoleh ketenangan, kejernihan, dan kekuatan batin.
Pada koleksi kapsul perdananya, brand ini juga menggandeng desainer Adrie Basuki melalui penggunaan batik Sadabhumi, yang terinspirasi dari kisah perjuangan para pejuang kanker.
“Saya memahami perjuangan ini karena pengalaman personal. Saya harap dengan kolaborasi ini, semakin banyak brand terinspirasi berkolaborasi dengan pejuang hebat yang sedang menghadapi ujian dalam hidupnya,” ujarnya.
Meski tidak berlatar belakang sebagai desainer fesyen, Alia menekankan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan industri modest fashion yang inklusif.
“Saya rasa kini sudah bukan waktunya tampil sendiri. Saya justru ingin lebih mengedepankan kolaborasi dengan banyak pihak mempererat ukhuwah dan silaturahmi,” ujarnya lagi.





