Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan ke depan akan mencerminkan tekanan pada pasar keuangan domestik di tengah masih berlanjutnya sentimen ketidakpastian global.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan tekanan pada pasar keuangan domestik akan tecermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berpeluang bergerak melemah menuju level 7.750.
“Pelemahan ini tak lepas dari sentimen global yang masih rapuh,” jelasnya. Minggu (8/2/2026).
Sebagai catatan, IHSG bergerak melemah pada akhir pekan lalu, usai Moody’s memangkas outlook Indonesia dari stabil ke negatif. Data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup terkoreksi sebesar 2,08% atau 168,61 poin menuju 7.935,26 pada perdagangan Jumat (6/2/2026).
Lebih lanjut, Ibrahim memerinci bahwa salah satu faktor utama yang memicu volatilitas adalah ditundanya rilis data tenaga kerja Amerika Serikat hingga 11 Februari 2026. Data tersebut dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan moneter The Federal Reserve, apakah akan menurunkan atau mempertahankan suku bunga acuannya.
“Di sisi lain, Bank of England dan Bank Sentral Eropa juga masih memilih menahan suku bunga, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.”
Baca Juga
- Estimasi Nilai Tukar Rupiah Sepekan ke Depan
- Kisi-kisi Harga Emas di Pasar Spot dan Indonesia Sepekan Ke Depan
- Proyeksi JP Morgan soal Harga Emas usai Terkoreksi Dalam, Balik ke Level US$5.500?
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah sedikit mereda setelah adanya pertemuan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran terkait isu reaktor nuklir. Sementara di Eropa, Presiden AS Donald Trump mendesak tercapainya perdamaian antara Rusia dan Ukraina pada periode Mei–Juni mendatang.
“Namun, sentimen pasar kembali terganggu oleh tudingan Amerika Serikat terhadap China yang disebut melakukan uji coba nuklir secara diam-diam, meskipun tuduhan tersebut telah dibantah.”
Sentimen MSCI dan Penurunan RatingDari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG juga diperparah oleh isu pembekuan indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan penurunan peringkat Indonesia dari sejumlah lembaga internasional yang memicu keluarnya dana asing.
Padahal, jelasnya, kondisi tersebut terjadi meskipun ekonomi Indonesia pada 2025 mampu tumbuh sebesar 5,11%.
“Pertumbuhan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menopang stabilitas pasar keuangan,” ungkap Ibrahim.
Selain itu, narasi fiskal turut menjadi sorotan setelah muncul pernyataan Dana Moneter Internasional (IMF) yang menilai defisit fiskal Indonesia berpotensi membahayakan.
Pernyataan tersebut justru menuai penolakan dari sejumlah pejabat. Alhasil, pasar justru menilai hal itu mencerminkan belum solidnya komunikasi kebijakan fiskal pemerintah.
“Sentimen ini membuat pelaku pasar semakin pesimistis, berpotensi mendorong tekanan lanjutan pada IHSG dan rupiah hingga mendekati level Rp17.200 per dolar AS,” jelasnya.





