Nuuk (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) Greenland Vivian Motzfeldt dan Menlu Denmark Lars Lokke Rasmussen pada Sabtu (7/2) mengatakan bahwa negosiasi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat (AS) "masih belum sesuai harapan kami," menandakan bahwa kesepakatan akhir masih jauh dari tercapai.
Berbicara dalam sebuah konferensi pers trilateral dengan Kanada untuk menandai pembukaan konsulat pertama Kanada di Nuuk, Motzfeldt mengakui bahwa situasinya telah membaik dibandingkan sebulan yang lalu, seraya menyebut terbentuknya sebuah jalur diplomatik dan dialog langsung dengan Washington.
Namun, Motzfeldt menyampaikan bahwa posisi Greenland "masih belum sesuai harapan kami" dalam negosiasi tersebut dan bahwa "jalan yang harus dilalui masih panjang, jadi masih terlalu dini untuk mengatakan posisi akhirnya."
Sementara itu, Rasmussen mengatakan, "Kami telah menyatakan dengan sangat jelas sejak awal bahwa setiap solusi harus menghormati garis merah kami." Dia juga mengatakan yakin bahwa "solusi yang menghormati garis merah kami bisa dicapai."
Namun, Rasmussen menolak untuk mengungkapkan rincian negosiasi tersebut. "Kami tidak melakukan negosiasi ini secara terbuka," ujarnya, seraya menambahkan bahwa mereka telah "berjuang untuk bertemu dalam satu ruangan" di mana pihak-pihak yang terlibat dapat saling berbicara satu sama lain secara layak.
Greenland, pulau terbesar di dunia, merupakan wilayah otonom dalam lingkup Kerajaan Denmark, dengan Kopenhagen memegang kendali atas pertahanan dan kebijakan luar negerinya. Sejak kembali menjabat pada 2025, Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyatakan keinginan untuk "mendapatkan" Greenland, sebuah langkah yang telah memicu reaksi keras di seluruh Eropa.
Kanada dan Prancis membuka konsulat-konsulat baru di Nuuk pada Jumat (6/2) sebagai bentuk solidaritas terhadap Greenland dan populasi Inuit-nya.
Berbicara dalam sebuah konferensi pers trilateral dengan Kanada untuk menandai pembukaan konsulat pertama Kanada di Nuuk, Motzfeldt mengakui bahwa situasinya telah membaik dibandingkan sebulan yang lalu, seraya menyebut terbentuknya sebuah jalur diplomatik dan dialog langsung dengan Washington.
Namun, Motzfeldt menyampaikan bahwa posisi Greenland "masih belum sesuai harapan kami" dalam negosiasi tersebut dan bahwa "jalan yang harus dilalui masih panjang, jadi masih terlalu dini untuk mengatakan posisi akhirnya."
Sementara itu, Rasmussen mengatakan, "Kami telah menyatakan dengan sangat jelas sejak awal bahwa setiap solusi harus menghormati garis merah kami." Dia juga mengatakan yakin bahwa "solusi yang menghormati garis merah kami bisa dicapai."
Namun, Rasmussen menolak untuk mengungkapkan rincian negosiasi tersebut. "Kami tidak melakukan negosiasi ini secara terbuka," ujarnya, seraya menambahkan bahwa mereka telah "berjuang untuk bertemu dalam satu ruangan" di mana pihak-pihak yang terlibat dapat saling berbicara satu sama lain secara layak.
Greenland, pulau terbesar di dunia, merupakan wilayah otonom dalam lingkup Kerajaan Denmark, dengan Kopenhagen memegang kendali atas pertahanan dan kebijakan luar negerinya. Sejak kembali menjabat pada 2025, Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyatakan keinginan untuk "mendapatkan" Greenland, sebuah langkah yang telah memicu reaksi keras di seluruh Eropa.
Kanada dan Prancis membuka konsulat-konsulat baru di Nuuk pada Jumat (6/2) sebagai bentuk solidaritas terhadap Greenland dan populasi Inuit-nya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5361668/original/083908400_1758789885-Latihan_Persija-2.jpg)
