Penulis: Fityan
TVRINews - Jakarta
Pemerintah fokus pada manufaktur, teknologi digital, dan penguatan SDM untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Pemerintah Indonesia mempertegas peta jalan transformasi ekonomi nasional dengan mengandalkan strategi "Tiga Mesin Pertumbuhan" (Three Engines of Growth).
Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga di tengah upaya akselerasi daya saing di pasar global yang semakin dinamis.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa pendekatan pembangunan saat ini dirancang untuk menyeimbangkan antara kecepatan pertumbuhan dan ketahanan ekonomi.
Ia mengibaratkan pengelolaan ekonomi layaknya mengoperasikan mesin yang membutuhkan presisi tinggi.
"Bagaimana mengatur akselerasi tanpa mengorbankan stabilitas," ujar Airlangga dalam keterangan resminya yang dikutip Minggu 8 Februari 2026.
Ia menambahkan bahwa model kebijakan ini serupa dengan prinsip 'gas dan rem' yang terbukti efektif menjaga ritme ekonomi saat menghadapi krisis pandemi lalu.
Struktur Tiga Mesin Pertumbuhan
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan lonjakan pertumbuhan yang signifikan melalui tiga pilar utama:
- Revitalisasi Manufaktur: Fokus pada industri padat karya seperti tekstil, otomotif, dan furnitur. Sektor ini dianggap krusial karena kapasitasnya dalam menyerap jutaan tenaga kerja serta relevansinya terhadap permintaan global yang terus meningkat.
- Inovasi dan Teknologi: Mendorong ekonomi berbasis digital, kecerdasan buatan (AI), hingga industri semikonduktor. Pemerintah menekankan pentingnya investasi pada Riset dan Pengembangan (R&D) agar ekonomi tidak lagi sekadar bergantung pada sumber daya alam.
- Produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM): Menyiapkan tenaga kerja terampil untuk mengisi ekosistem ekonomi baru, termasuk gig economy dan sektor kreatif yang menjadi motor penggerak bagi generasi muda.
Hingga pengujung 2025, indikator ekonomi Indonesia menunjukkan performa yang cukup tangguh.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 tercatat sebagai pencapaian tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, dengan angka rata-rata berada di kisaran 5 persen.
Kondisi fundamental ini didukung oleh tingkat inflasi yang terkendali pada level 3,55 persen secara tahunan (year-on-year).
Selain itu, ketahanan eksternal Indonesia diperkuat oleh surplus neraca perdagangan yang konsisten serta cadangan devisa yang menyentuh angka 156 miliar dolar AS.
Airlangga menekankan bahwa masa depan ekonomi Indonesia harus berpijak pada kurva inovasi (S-Curve), di mana keberlanjutan ekonomi sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi.
"Saya mendorong ekonomi Indonesia berbasis pada S-Curve. Harus selalu ada riset untuk menentukan produk apa yang akan membuat kita kuat di masa depan," pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews




