Wamen Ekraf: Radio Bukan Masa Lalu, tapi Fondasi Masa Depan Ekonomi Kreatif Indonesia

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Bandung -

Di tengah mengecilnya skala bisnis radio dan merosotnya belanja iklan, industri penyiaran justru berada di persimpangan paling strategis dalam sejarahnya. Bukan persimpangan menuju senja, melainkan gerbang menuju transformasi besar ekonomi kreatif.

Hal itu ditegaskan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, dalam acara Kick Off Radio Ekraf 2026 di Bandung, Minggu (8/2/2026).

Irene mengajak insan radio dan pelaku kreatif untuk berhenti memandang tantangan sebagai kemunduran, melainkan sebagai fase konsolidasi menuju model bisnis baru yang lebih relevan dengan perubahan zaman.

“Ukuran bisnis radio memang mengecil dan belanja iklannya ikut turun. Tapi ini bukan cerita kesedihan. Ini perjuangan. Dan perjuangan justru merapatkan barisan,” ujar Irene.

Menurut Irene, perubahan global, mulai dari geopolitik hingga revolusi teknologi telah mengguncang seluruh sektor ekonomi kreatif, bukan hanya radio. Model bisnis lama tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya, sementara model baru masih terus berevolusi.Pertanyaannya kini bukan apakah perubahan itu akan datang, melainkan apakah pelaku radio akan menjadi follower atau leader.

“Apakah kita mau menunggu sampai perubahan terjadi baru ikut, atau kita mau menjadi pemain yang membentuk perubahan itu sendiri?” tegasnya.

Irene menilai radio tidak lagi bisa bergantung pada iklan semata. Masa depan radio justru terletak pada model berbasis komunitas, ekspresi, dan audiens global yang didukung teknologi digital.

“Radio hari ini bukan lagi soal siaran lokal. Dengan teknologi, user service-nya sudah global audience,” katanya.

Dalam kerangka ekonomi kreatif, radio memiliki modal fundamental yang tak tergantikan: kata-kata, bahasa, dan ekspresi. Unsur ini menjadi fondasi lintas subsektordari musik, film, konten digital, hingga ekonomi berbasis budaya.

“Ekonomi kreatif itu soal ekspresi. Dan landasannya adalah bahasa dan tutur kata. Radio adalah pondasi dari banyak subsektor kreatif,” tegas Irene.

Ia menekankan bahwa transformasi ini tidak bisa instan. Pondasi harus dibangun dengan integritas, etika, dan kejujuran informasi bukan sekadar mengejar klik.

“Indonesia tidak butuh clickbait. Kita butuh informasi faktual dan berintegritas. Itu jati diri bangsa kita,” ujarnya.

Menurut Irene dengan kekuatan budaya, komunitas, dan ekspresi, Indonesia khususnya Bandung dinilai memiliki peluang besar menjadi role model radio ekonomi kreatif dunia.

Transformasi radio bukan tentang bertahan hidup, melainkan mengambil peran baru sebagai penggerak ekonomi kreatif, pemersatu bangsa, dan medium ekspresi global Indonesia.

“Radio bukan masa lalu. Radio adalah fondasi masa depan ekonomi kreatif,” ujar Irene.

Di tengah anggapan bahwa radio sudah tak relevan, data menunjukkan sekitar 25 juta orang Indonesia masih setia mendengarkan radio. Lebih dari sekadar hiburan, radio dinilai memiliki fungsi strategis sebagai media ketahanan bangsa.

“Kalau listrik dan internet diprediksi akan mati, radio masih hidup. Dan jangan lupa, kemerdekaan Indonesia diumumkan lewat radio pada 1945,” kata Irene.

Radio juga menjadi launchpad bagi lahirnya insan kreatif nasional, dari penyiar hingga figur publik lintas sektor. Kota Bandung, yang sejak lama dikenal sebagai kota kreatif, menjadi contoh nyata ekosistem radio yang melahirkan talenta berpengaruh.

Wali Kota Bandung, M Farhan, menegaskan bahwa radio merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem kreativitas kota. Sejak era 1970-an, radio di Bandung menjadi ruang ekspresi komunitas, budaya, dan ide-ide progresif.

“Radio Bandung itu bukan hanya media, tapi ekosistem yang melahirkan penyiar, manajer, marketer, dan berbagai ekspresi kreatif lainnya,” ujarnya.

Farhan menyebut dua kunci utama masa depan radio: konvergensi digital dan resiliensi tinggi.

Baca Juga: Anggaran Terbatas, Desa Tak Boleh Mandek: Dedi Mulyadi Dorong Aparat Desa Kreatif

“Radio itu media yang tahan banting. Justru karena ditekan, ia dipaksa untuk kreatif dan menemukan solusi bersama,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan kebijakan anggaran, pengembangan SDM, serta kepatuhan regulasi agar ekosistem penyiaran tidak menyusut dan mati.

Pengalaman Pemkot Bandung bersama Polrestabes dan Forkopimda saat menangani situasi kerusuhan menjadi bukti konkret peran strategis radio.

“Radio digunakan sebagai alat komunikasi massa untuk menenangkan masyarakat dan mencegah provokasi. Itu bukti radio masih sangat relevan,” pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Inilah GAC E8, Siap Ramaikan Pasar MPV Hybrid dengan Pintu Geser
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Adji Pangestu Sampai Lakukan Ini Imbas Sang Anak Diserang Akibat Isu Hubungannya dengan Denada dan Ressa Rossano
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Tiba di Malang, Disambut Gus Yahya dan Khofifah
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Di Forum MUI, Prabowo Ajak Elemen Bangsa Bersatu Memberantas Korupsi
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
UMIMAX Pertamina, Jalan Ninja Pelaku Usaha Kecil Jadi Besar
• 22 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.