Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mulai menggaungkan penggunaan genteng tanah liat sebagai material atap melalui program "gentengisasi". Inisiatif ini disebut menjadi bagian dari strategi mendorong sektor pariwisata, khususnya lewat penataan lingkungan dan perbaikan tata kota.
Di sisi lain, penggunaan atap genteng di Indonesia terus mengalami penurunan seiring bergesernya tren arsitektur dan pertimbangan efisiensi biaya. Genteng tanah liat yang sebelumnya menjadi material dominan karena mudah diperoleh dan sesuai dengan iklim tropis, kini banyak ditinggalkan. Sejumlah proyek perumahan dan bangunan baru lebih memilih atap metal, seng, hingga baja ringan yang dinilai lebih praktis, ringan, cepat dipasang, serta menekan biaya konstruksi secara keseluruhan.
Perubahan selera desain ke arah modern dan minimalis juga turut mempercepat peralihan tersebut, lantaran lebih selaras dengan material atap non-genteng. Alhasil, penggunaan genteng tradisional semakin terpinggirkan, terutama di kawasan perkotaan dan perumahan baru, meski masih bertahan di wilayah tertentu serta bangunan bernuansa tradisional.
Berikut adalah perbandingan plus dan minus penggunaan atap genteng tanah liat dibanding seng, dikutip dari Construction and Civil Engineering Magazine:
Atap GentengGenteng berbahan dasar tanah liat yang dibentuk dan kemudian dibakar. Umum digunakan di rumah-rumah tradisional dan rumah-rumah bergaya klasik, pondok, atau daerah-daerah yang menginginkan tampilan yang lebih klasik.
Plus:
- Umur pakai yang panjang (50-100+ tahun) jika dibuat dan dirawat dengan baik.
- Beragam pilihan estetika: warna, glasir, bentuk yang sesuai dengan gaya arsitektur.
- Ketahanan api yang baik; tahan terhadap serangga dan pembusukan.
Minus:
- Berat; membutuhkan penyangga struktural.
- Lebih mahal daripada banyak alternatif modern (baik bahan maupun tenaga kerja).
- Glasir dapat memudar; keausan permukaan dan lumut/ganggang dapat menumpuk di iklim lembap.
Atap Logam (baja, aluminium, seng, tembaga, dll.)
Atap logam meliputi logam seperti baja berlapis, aluminium, seng, atau logam premium seperti tembaga. Digunakan pada bangunan modern, bangunan komersial, dan atap rumah tinggal.
Plus:
- Umur pakai yang panjang: banyak sistem bertahan 40-70 tahun atau lebih (tergantung pada logam dan lapisan).
- Ringan dibandingkan dengan atap genteng atau batu tulis yang berat-beban yang lebih ringan pada struktur.
- Ketahanan yang kuat terhadap cuaca ekstrem; ketahanan angin yang baik.
- Kemampuan daur ulang yang baik; potensi jejak lingkungan yang lebih rendah dengan logam daur ulang.
Minus:
- Biaya awal yang lebih tinggi, terutama untuk logam premium atau lapisan khusus.
- Berisik saat hujan deras/hujan es kecuali insulasi atau peredam dirancang dengan baik.
- Risiko korosi jika lapisan gagal atau di lingkungan pesisir/laut.
- Ekspansi/kontraksi termal dapat menyebabkan pergerakan, yang berpotensi menyebabkan kebocoran jika sambungan/celah tidak dirancang dengan baik.
(hsy/hsy)




