Ketika krisis iklim tak lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan pahit yang merangsek hingga ke dapur dan sumber air, para perempuan dari berbagai pelosok negeri tak tinggal diam.
Mereka bangkit, bukan hanya sebagai korban, melainkan sebagai pemimpin merajut perubahan dari tingkat tapak, bermodalkan pengetahuan lokal, resiliensi, dan kolaborasi yang tulus.
Mereka tak kenal lelah menyuarakan aspirasi perempuan akar rumput bersuara, mengajak berbagai pihak terutama negara untuk mendukung langkah mereka. Dukungan jadi amat berarti, ketika perempuan berada di garda depan menghadapi berbagai tantangan di tengah krisis iklim.
Maka ketika ada forum nasional, mereka hadir dan memberanikan diri tak hanya bersuara lantang, tetapi juga membagikan kisah perjuangan mereka untuk bangkit. Hal ini agar menjadi praktik baik bagi para perempuan di Tanah Air.
Itulah yang dilakukan Imakulata F. Jedia (Penggerak Kelompok Tani Mandiri di Manggarai Barat) dan Getrudis Rusiana Rini (Kelompok Momang Kue di Manggarai Barat) di Nusa Tenggara Timur.
Hal serupa juga disuarakan Baiq Sri Anom Padma (Ketua Sekolah Rakyat Desa Rarang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat), Haiziah (Program Officer Gema Alam), dan Suraya Kamaruzaman (Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Syiah Kuala, Aceh).
Para perempuan ini tampil dalam Temu Nasional “Lokal Bertindak, Nasional Berdampak: Membangun Kolaborasi untuk Kepemimpinan Perempuan dalam Transisi Energi dan Keadilan Iklim” di Jakarta, pada Rabu (4/2/2026). Mereka berbicara dalam panel diskusi bertajuk “Dari Pengalaman ke Data: Pengalaman Perempuan dalam Aksi Iklim”.
Forum ini merupakan bagian dari proyek regional “EmPower: Women for Climate-Resilient Societies Phase 2” yang dilaksanakan oleh UN Women (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kesetaraan Jender) bersama dengan UNEP (Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan didukung Pemerintah Jerman, Selandia Baru, Swedia, dan Swiss.
Imakulata dan Getrudis misalnya. Datang dari NTT, keduanya berkisah tentang desanya yang berjuang di tengah musim kemarau berkepanjangan, tentang gagal tanam dan debit air yang kian menipis.
“Saat gagal tanam itu kami bisa menanam kembali segala tanaman yang sudah punah,” ujar Imakulata dalam Temu Nasional yang dihelat oleh Women Research Institute (WRI) bersama UN Women.
Bagi kedua perempuan ini, solusi atas krisis bukan menunggu uluran tangan, melainkan menggerakkan tangan mereka sendiri. Alih-alih menyerah pada keadaan, kedua perempuan ini memilih untuk menggalang kekuatan komunal.
Saat melihat debit air di desanya terus berkurang, Imakulata memimpin kelompoknya untuk melakukan Konservasi Mata Air (KTA). Secara berkelompok, mereka menghijaukan kembali kawasan mata air dengan menanam pohon-pohon lokal seperti munting, beringin, hingga bambu.
Dengan tangan mereka sendiri, para perempuan di desa menanam kembali berbagai jenis pohon lokal yang memiliki kemampuan alami untuk menambah dan mengikat debit air, seperti kayu munting, bancang, lokom, dan beringin, serta menanam bambu, pinang, dan pandan berduri sebagai pelindung.
Tak hanya soal air, Imakulata menjadi garda terdepan dalam pelestarian benih dan pangan lokal. Di tengah ancaman kerawanan pangan, mereka memastikan bahwa strategi bertahan hidup keluarga adalah dengan kembali ke akar: menanam apa yang disediakan oleh alam lokal.
Di sisi lain, Getrudis Rusiana Rini, yang menjabat sebagai Sekretaris Kelompok Momang Koe, membawa misi perubahan melalui pekarangan rumah. Ia menggerakkan para ibu untuk mengembangkan pertanian sayuran organik berbasis pekarangan.
Bagi Getrudis, pengelolaan lingkungan terutama air adalah tanggung jawab mutlak perempuan karena merekalah yang paling terdampak ketika air bersih sulit didapat untuk kebutuhan memasak dan mencuci. “Kami melakukan ini untuk hidup kami yang berkelanjutan bersama anak cucu kami ke depannya nanti,” tegas Getrudis saat menceritakan motivasinya menjaga ekosistem desa.
Di Lombok, NTB, kelangkaan gas elpiji saat musim tembakau menjadi pemantik kegelisahan. Bagi para perempuan, ketiadaan gas bukan sekadar urusan perut, tapi bisa memicu ketegangan dalam rumah tangga. Mereka harus berkeliling desa, menempuh jarak berkilo-kilometer demi satu tabung gas.
“Kami perempuan yang harus mencari gas bahkan keluar desa. Karena kalau tidak ada gas bagaimana kami akan memasak,” tutur Baiq Sri Anom Padma.
Dari keresahan kolektif inilah, solusi inovatif lahir. Dengan fasilitasi program EmPower, mereka membangun instalasi biogas dari kotoran sapi. Sebuah teknologi yang tak hanya menjawab krisis energi di dapur, tetapi juga membuka cakrawala kesadaran baru.
“Kami dulunya tidak tahu apa itu energi kotor. Tetapi setelah ikut dalam program ini kami tahu, oh ternyata biogas itu energi bersih,” kata Anom.
Lebih dari itu, produk sampingan biogas berupa pupuk organik cair (POC) menjadi jawaban atas kerusakan tanah akibat pupuk kimia. “Bumi lestari, cuan mengalir,” tuturnya.
Namun jalan perubahan tak selamanya mulus. Tantangan terbesar justru datang dari norma sosial yang membatasi peran perempuan di ranah domestik yakni dapur, sumur, dan kasur. Untuk mendobraknya, Gema Alam NTB, menerapkan strategi jitu yakni “Laki-Laki Baru”.
Mereka menggandeng tokoh agama untuk menyosialisasikan pentingnya berbagi peran domestik dan mendukung kepemimpinan perempuan melalui mimbar-mimbar keagamaan. Para kepala desa bahkan diikutsertakan dalam pelatihan ini.
“Kami sangat berhati-hati ketika bicara tentang kepemimpinan perempuan. Jangan sampai kemudian kita membebani perempuan lagi dengan kegiatan, tetapi di dalam rumah tangga tidak clear soal pembagian domestiknya,” jelas Haiziah.
Hasilnya nyata, para kepala desa yang tadinya resisten, kini justru proaktif mengeluarkan surat keputusan untuk melegalkan gerakan perempuan dan bahkan mengalokasikan anggaran dari dana desa.
Di Aceh, dengan lanskap sosial dan trauma bencana yang khas, perempuan juga menemukan jalannya sendiri untuk memimpin. Suraya Kamaruzaman, Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Syiah Kuala, membagikan contoh konkret bagaimana perempuan menjadi agen perubahan yang efektif, bahkan saat berhadapan dengan pembalak liar.
Kalau rangers (penjaga hutan)-nya laki-laki, melarang pembalak hutan, itu bisa berkelahi. Tapi karena rangers-nya perempuan, dia punya strategi pendekatan yang berbeda. Dia bicara, kalau hutan ini hancur, anak ke depan bagaimana?
Ia menceritakan para “perempuan rangers” atau perempuan penjaga hutan di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, yang mengawal sumber air dari pencemaran. Ketika berhadapan dengan pembalak, mereka tak mengandalkan kekerasan, melainkan kekuatan dialog dan empati.
“Kalau rangers (penjaga hutan)-nya laki-laki, melarang pembalak hutan, itu bisa berkelahi. Tapi karena rangers-nya perempuan, dia punya strategi pendekatan yang berbeda. Dia bicara, kalau hutan ini hancur, anak ke depan bagaimana?” papar Suraya.
Kekuatan dialog yang menyentuh sisi humanis ini menjadi kekuatan para perempuan. Mereka berhasil mengubah cara pandang dan melunakkan hati mereka yang tadinya berseberangan. Menurut Suraya, ini merupakan kekuatan yang jarang dilirik namun sangat efektif untuk resolusi konflik.
Di tengah narasi global yang seringkali menempatkan perempuan sebagai korban pasif perubahan iklim, cerita-cerita dari NTT, NTB, dan Aceh justru membuktikan hal sebaliknya. Mereka merupakan aktor kunci, inovator ulung, dan penjaga ketahanan komunitas yang sesungguhnya.
“Perempuan bukan hanya kelompok yang paling terdampak. Perempuan adalah aktor kunci perubahan,” tegas Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia, seraya mengutip pemikir feminis Vandana Shiva, “mereka adalah pemegang pengetahuan ekologi, dan penjaga biodiversitas.”
Maka, jika kita ingin solusi iklim yang transformatif, perempuan harus diberdayakan sebagai pemimpin komunitas, pengelola pengetahuan, dan berada di meja pengambilan keputusan.
Kisah-kisah aksi perempuan dari tiga provinsi ini mengafirmasi pernyataan Sita Aripurnami, Direktur Eksekutif Women Research Institute. “Pengetahuan aksi nyata perempuan yang selama ini dilakukan kerap tak terdengar dan tak tampak. Melalui Program Empower II terlihat bahwa perempuan bertindak dan menghadirkan hasil yang nyata,” ujarnya.
Program EmPower II menjawab tantangan tersebut dan sekaligus menunjukkan hasil bahwa kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim mampu menciptakan perubahan yang nyata.
Pengetahuan dan aksi perempuan yang selama ini kerap tidak terdengar dan tidak tampak, melalui program ini menjadi terlihat dan diakui. Kita menyaksikan langsung bahwa perempuan tidak hanya bertahan menghadapi krisis iklim, tetapi bertindak—dan menghadirkan hasil yang konkret bagi komunitasnya.
Namun ia mengingatkan, keberhasilan di tingkat lokal ini harus ditopang oleh sebuah ekosistem kolaborasi yang kokoh agar berkelanjutan dan dapat direplikasi. Krisis iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi atau satu sektor.
“Diperlukan kolaborasi strategis yang melibatkan organisasi masyarakat sipil, akademisi, filantropi, sektor privat, pemerintah dan organisasi internasional untuk membangun ekosistem dukungan yang kokoh bagi kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim,” ujar Sita Aripurnami, pada Minggu (8/2/2026).
Komitmen ini disambut baik oleh pemerintah. Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Amurwani Dwi Lestariningsih, yang hadir dalam forum tersebut, menyoroti rendahnya partisipasi perempuan di sektor energi yang masih di bawah 32 persen.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi untuk mendorong kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan. “Kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan menjadi amat penting, tidak hanya dalam terlibat dalam penyusunan kebijakan, tetapi juga bagaimana meningkatkan implementasi kebijakan dilaksanakan,” kata Amurwani.
Dukungan internasional pun mengalir. Perwakilan Kedutaan Besar Selandia Baru, Katherine Halliburton, menekankan bahwa untuk mencapai transisi energi global dan keadilan iklim, semua talenta diperlukan, termasuk pemanfaatan penuh potensi perempuan.
Aksi nyata Imakulata, Getrudis, Baiq Sri Anom, Haiziah, dan penelitian Suraya adalah satu dari sekian banyak potret kepemimpinan perempuan di tingkat akar rumput yang selama ini kerap sunyi dari panggung nasional.
Kisah mereka juga menjadi penegas bahwa ketika perempuan diberi ruang, kapasitas, dan kepercayaan, mereka tidak hanya mampu beradaptasi terhadap krisis iklim, tetapi juga memimpin jalan menuju solusi yang lebih adil dan berkelanjutan.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5494259/original/062067300_1770282451-Semen_Padang_Vs_Persita_Tangerang.jpg)



