Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 52,6 pada Januari 2026 dinilai menjadi peluang strategis bagi penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di industri permesinan.
Indeks tersebut menunjukkan lonjakan aktivitas proyek domestik membuka ruang lebih besar bagi produk dan jasa rekayasa lokal. Apalagi, kenaikan PMI Manufaktur tersebut bukan didorong ekspor, melainkan oleh pergerakan pasar dalam negeri.
Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Dadang Asikin mengatakan kondisi ini justru lebih menguntungkan bagi industri permesinan nasional yang selama ini bergantung pada proyek pembangunan di sektor industri, energi, dan infrastruktur.
“Demand-nya adalah derived demand yang sangat tergantung pada kegiatan proyek pembangunan industri, infrastruktur, energi, serta manufaktur hilir,” kata Dadang kepada Bisnis, dikutip Minggu (8/2/2026).
Karakter industri permesinan yang berbasis pada kebutuhan proyek membuat setiap pergerakan investasi domestik langsung berdampak pada pesanan mesin, alat berat, komponen industri, hingga dukungan rekayasa dan fabrikasi.
Merujuk data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi Januari–Desember 2025 sebesar Rp1.931,2 triliun, atau 101,3% dari target Presiden Rp1.905,6 triliun.
Baca Juga
- Industri Permesinan Tagih Langkah Satgas P2SP Pangkas Izin Berbelit
- Ekspor Permesinan RI ke AS Bisa Melesat Usai Tarif Trump Ditunda 3 Bulan
- BPS: Impor Permesinan hingga Plastik Kompak Turun Januari 2025
Adapun, kontribusi hilirisasi mencapai 30,2% dengan dengan nilai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3% secara tahunan.
Menurut Dadang, fase ekspansi manufaktur saat ini masih bersifat bertahap. Pesanan mesin mulai naik, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi kapasitas besar atau pembukaan lapangan kerja secara luas karena industri masih mengoptimalkan fasilitas yang ada.
“Hal Ini menjelaskan kenapa produksi naik namun tenaga kerja justru statis atau turun, industri permesinan memeras memaksimalkan kapasitas yang ada dulu ketimbang melakukan recruitment,” tuturnya.
Meski demikian, situasi tersebut justru menciptakan momentum penting bagi penguatan TKDN. Ketika pasar domestik menjadi penopang utama, pemerintah dan BUMN disebut semakin konsisten mendorong penggunaan produk dan jasa dalam negeri dalam setiap proyek strategis.
“Bagaimana dampak langsung terhadap TKDN industri mesin dalam negeri, ini mendatangkan peluang TKDN justru membesar karena pasar domestik jadi penopang utama, pemerintah dan BUMN makin ketat TKDN di tengah lemahnya ekspor,” jelasnya.
Di lapangan, pelaku industri mulai menerapkan skema kombinasi antara komponen impor dan perakitan lokal. Bagian struktur, rangka, skid, piping, hingga panel dikerjakan oleh fabrikator dalam negeri sehingga nilai kontrak lokal meningkat dan rantai pasok domestik semakin hidup.
Namun, Dadang mengingatkan bahwa peningkatan TKDN secara angka belum tentu sejalan dengan kedalaman nilai tambah industri. Banyak proyek dinilai masih bertumpu pada impor komponen utama berteknologi tinggi.
“TKDN secara administratif lolos, tapi nilai tambah industrinya masih dangkal mengingat struktur cost untuk struktur part lebih kecil dibandingankan dengan main part yang mengandung unsur teknologi tinggi,” jelasnya.
Oleh karena itu, dia menilai momentum lonjakan produktivitas ini harus dimanfaatkan untuk mendorong industri permesinan naik kelas, tidak hanya sebagai perakit, tetapi juga sebagai pelaku rekayasa, integrasi sistem, dan penyedia solusi berbasis desain dalam negeri.
Dari sisi produksi, utilisasi pabrik mesin dan fabrikasi saat ini berada di kisaran 65%—80%. Artinya, industri masih memiliki ruang memenuhi lonjakan permintaan proyek dalam negeri tanpa ekspansi besar, sembari menyiapkan langkah jangka panjang untuk memperkuat kemampuan teknologi dan sumber daya manusia agar TKDN berdampak pada kemandirian industri.


