“Saya bertekad dalam empat tahun ke depan kita akan memberantas kemiskinan ekstrem dan kita akan menurunkan kemiskinan secara keseluruhan. Itulah misi saya dalam hidup.” – Prabowo Subianto.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan di pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss, 22 Janari 2026 lalu, seakan menjadi “penyataan perang” untuk kesekian kalinya terhadap kemiskinan.
Presiden Prabowo tampaknya begitu “usil” dan “nyinyir” terhadap kemiskinan.
Presiden pertama Bung Karno begitu getol menggelorakan semangat patriotisme dan persatuan.
Soeharto begitu peduli dengan pertanian dan penguatan nilai-nilai Pancasila.
Walau berkuasa dengan waktu singkat, BJ Habibie berhasil membuka kran demokratisasi. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mengokohkan pluralisasi. Megawati Soekarnoputri memberi kontribusi bagi penguatan otonomi daerah dan pembangunan infrastruktur
Era Susilo Bambang Yudhoyono ditandai peningkatan akses kesehatan dan pendidikan. Sementara Joko Widodo menguatkan konektivitas dengan pembangunan infrastruktur yang masif.
Jika dengan pola pandang “mikul nduwur mendem jero”, maka apresiasi layak disematkan kepada semua presiden. Suka atau tidak suka, mereka terpilih melalui prosedural demokrasi dan harus diakui pula telah menjadi pilihan mayoritas pemilih pascareformasi.
Baca juga: Kertas Tii Mama Reti: Menggugat Janji Kemerdekaan
Gagasan Presiden Prabowo, dalam kepemimpinannya yang masih “seumur jagung”, terus memantik pro-kontra.
Urusan makan pelajar – yang kini manfaatnya diperluas hingga ibu hamil, ibu menyusui dan kaum lanjut usia – muncul Program Makan Begizi Gratis.
Untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui akses pendidikan berkualitas secara gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, muncul Program Sekolah Rakyat.
Di masa lalu pendidikan bermutu hanya bisa dinikmati anak keluarga kaya. Kini anak kuli bangunan, tukang ojek dan pemulung bisa mendapatkan fasilitas pembelajaran yang berkualitas.
Fasilitas sekolah yang butuh perbaikan digeber dengan program revitalisasi sekolah yang melibatkan tukang dan kuli bangunan di sekitar sekolah.
Pemberian becak listrik yang ramah lingkungan diberikan untuk membantu para pengayuh becak berusial lanjut agar terus produktif dan bisa menghasilkan pendapatan.
Di tengah makin masifnya serbuan moda transportasi berbasis aplikasi, bantuan becak listrik begitu membantu penghasilan pengemudi becak konvensional yang semakin tersisih.




