Pengusaha Tahan Buka Lowongan Kerja Baru Meski Order Melimpah, Mengapa?

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Ramainya proyek domestik di sektor industri, energi, dan infrastruktur belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi lonjakan penyerapan tenaga kerja di industri permesinan nasional. 

Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Dadang Asikin mengatakan di tengah peluang pasar yang membesar, pelaku usaha justru menerapkan strategi hati-hati dalam mengelola sumber daya manusia, termasuk dalam membuka Lowongan Kerja baru.

“Ini karena strategi wait and see proyek domestik naik, tapi durasinya pendek tender bertahap para pelaku industri sehingga perusahaan cenderung menunda hiring tetap pakai kontrak, borongan, atau subkon didalam memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya,” kata Dadang kepada Bisnis, dikutip Minggu (8/2/2026). 

Menurutnya, pola tender yang tidak berjangka panjang membuat perusahaan enggan menambah pekerja tetap. Untuk menjaga fleksibilitas biaya, kebutuhan tenaga kerja lebih banyak dipenuhi melalui skema kontrak jangka pendek, borongan, atau subkontrak.

Selain faktor durasi proyek, perubahan strategi produksi juga memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Industri permesinan mulai mengandalkan peralatan yang lebih efisien guna meningkatkan output tanpa menambah banyak pekerja baru.

“Hal lain adanya pergeseran ke mesin dan otomasi ringan bukan robot canggih, tapi pengunaan mesin mesin yang lebih efisien,” tuturnya. 

Baca Juga

  • 3 Sektor Penyerap Tenaga Kerja Terbanyak: Pertanian hingga Manufaktur
  • Badai PHK Diramal Berlanjut saat Pasar Lesu Serap Tenaga Kerja Baru
  • BI Catat Manufaktur Kuartal IV/2025 Naik, Tenaga Kerja Masih Terkontraksi

Dia mencontohkan penggunaan CNC (computer numerical control) yang disebut lebih efisien, cutting otomatis, welding semi-automatic, penggunaan software engineering dan nesting sehingga output naik tanpa menambah orang. 

Pemanfaatan CNC yang lebih efisien, pemotongan otomatis, pengelasan semi-otomatis, hingga penggunaan perangkat lunak rekayasa dan nesting membuat proses produksi lebih cepat dan presisi. Hasilnya, produktivitas meningkat meski jumlah pekerja relatif tidak bertambah.

Dadang menilai, margin usaha di industri mesin yang relatif tipis juga membuat perusahaan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan rekrutmen jangka panjang. Beban biaya tenaga kerja tetap bisa menjadi risiko ketika proyek melambat.

“Industri mesin margin tidak setebal industri konsumsisehingga strategi reqruitemnya harus penuh kehatian hatian diaman jika salah rekruit akan menjadi beban jangka panjang sehingga pilihan rasional adalah menaikkan produktivitas dulu, bukan jumlah pekerja,” jelasnya. 

Dalam konteks itu, Gamma mendorong pemerintah agar kebijakan industri tidak hanya berfokus pada capaian TKDN secara administratif, tetapi juga memperkuat kapasitas riil industri permesinan dalam negeri, terutama pada aspek rekayasa dan integrasi sistem.

“Kebijakan yang harus di sikapi pemerintah, kami menyarankan Pemerintah, Kemenperin, BUMN terlebih untuk proyek atau progam yang di biayai oleh APBN, perhitungan angka TKDN memberikan bobot lebih kepada engineering lokal, design authority, system integrator lokal,” tuturnya. 

Selain itu, pelaku industri juga mengusulkan penggabungan proyek-proyek kecil menjadi program jangka panjang agar ada kepastian permintaan. Dengan pipeline proyek yang lebih jelas, industri diyakini akan lebih berani berinvestasi pada kapasitas produksi maupun pengembangan tenaga kerja.

Gamma turut menekankan pentingnya insentif fiskal seperti tax allowance atau super deduction bagi industri mesin dan fabrikasi dalam negeri, pembatasan impor mesin yang sudah bisa diproduksi lokal, serta perbaikan regulasi bahan baku yang masih tumpang tindih. 

Langkah-langkah ini dinilai krusial agar geliat proyek domestik benar-benar berujung pada penguatan struktur industri dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Dalam laporan terbaru S&P Global, disebutkan meskipun ekspansi kapasitas makin menguat dan berpotensi memicu percepatan lapangan kerja, pertumbuhan ketenagakerjaan melambat dan laju penciptaan lapangan kerja tergolong rendah, bahkan paling lemah dalam 4 bulan terakhir. 

Berdasarkan data BPS, proporsi tenaga kerja sektor manufaktur terhadap total tenaga kerja nasional yakni 13,83% pada 2024 atau turun dari tahun 2022 yang mencapai 14,17%. 

Sementara itu, dalam laporan terbaru Kementerian Perindustrian, kontribusi tenaga kerja industri pengolahan nonmigas per Agustus 2025 masih mencapai 13,83% atau mencapai 20,26 juta orang. Pemerintah memproyeksi proporsi persentase tenaga kerja industri pengolahan nonmigas meningkat ke level 14,68% tahun ini. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Waspada, Tinggi Muka Air Pasar Ikan Masuk Siaga 3
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rayakan Tradisi Bukber, Bata Luncurkan Koleksi Baru Jelang Ramadan 2026
• 2 jam lalugenpi.co
thumb
Bank Mandiri Apresiasi Lebih dari 2.400 PMI dan Diaspora di Hong Kong Lewat Program Mandiri Sahabatku 2026
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ramalan Zodiak 9 Februari 2026: Aries hingga Virgo Perlu Introspeksi Diri
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ketua Dewan Pers: Rata-Rata 10 Pengaduan Per Hari, Media Harus Jaga Etika dan Profesionalisme
• 5 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.