Penulis: Ambi
TVRINews, Mataram
Empat putra Indonesia resmi mengantongi FIM Superlicence Commission of Circuit Racing untuk ajang MotoGP dan World Superbike. Lisensi tertinggi bagi ofisial balap motor dunia ini menjadi syarat utama memimpin serta mengendalikan jalannya perlombaan internasional.
Keempat pemegang lisensi tersebut berasal dari Mandalika Grand Prix Association (MGPA), pengelola Pertamina Mandalika International Circuit, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mereka adalah Direktur Utama MGPA Priandhi Satria, Advisor MGPA Eddy Saputra, VP Motorsport MGPA Donny Mahardjono, serta Track, Race Electronic, and Motorsport Manager Muhammad Awallutfi Andhika Putra.
Dengan FIM Superlicence, keempatnya berwenang menjalankan tugas sebagai Clerk of the Course dan Sporting Steward, termasuk mengambil keputusan krusial terkait keselamatan, regulasi, serta kendali balapan MotoGP dan World Superbike.
Pencapaian tersebut diraih setelah MGPA mengikuti FIM Commission of Circuit Racing Superlicence Seminar Meeting yang diselenggarakan Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM) di Lyon, Prancis, pada 5–8 Februari 2026. Forum ini menjadi rujukan utama pembaruan regulasi, standar keselamatan, dan tata kelola balap motor kelas dunia.
Direktur Utama MGPA, Priandhi Satria, menilai keikutsertaan Indonesia dalam forum internasional tersebut memiliki arti strategis.
“Undangan dari FIM ini menunjukkan bahwa Mandalika dan Indonesia tidak hanya dipandang sebagai tuan rumah event internasional seperti MotoGP, namun kita sudah berada di dalam lingkaran diskusi strategis motorsport dunia,” ujar Priandhi Satria, Senin, 9 Februari 2026.
Selama kegiatan di Lyon, peserta mengikuti seminar intensif, pembahasan silabus regulasi terbaru, diskusi kelompok, studi kasus, serta ujian tertulis berbasis simulasi kondisi balap. Ujian tersebut menjadi syarat perpanjangan FIM Superlicence dengan masa berlaku dua tahun.
Muhammad Awallutfi Andhika Putra menjelaskan FIM Licence merupakan sertifikasi kompetensi resmi bagi personel di bawah naungan federasi balap motor dunia dan federasi nasional, Ikatan Motor Indonesia.
“Secara garis besar, FIM Licence itu adalah sertifikasi kompetensi untuk personal-personal di bawah federasi balap motor dunia yang juga tergabung dalam federasi nasional. Dengan lisensi ini, pemegang SUPERLICENCE bisa melaksanakan balap motor yang penyelenggaraanya berada di bawah persetujuan dan izin resmi dari FIM di negara manapun,” jelas Awallutfi.
Ia juga memaparkan ragam kategori lisensi FIM.
"FIM Licence terbagi dalam berbagai kategori sesuai dengan fungsi dan komisi yang menaunginya. Ada lisensi umum (general licence), lisensi untuk medis, lisensi untuk timekeeping (pencatat waktu), hingga lisensi untuk aspek lingkungan (environment). Masing-masing kategori memiliki masa berlaku berbeda, umumnya antara dua hingga tiga tahun," tambahnya.
Berdasarkan data resmi FIM per 2 Desember 2025, Indonesia memiliki 17 pemegang FIM Licence di berbagai sektor. Empat di antaranya mengantongi Superlicence kategori Circuit Racing. Pada kategori Clerk of the Course atau Sporting Steward tercatat Eddy Saputra, Donny Mahardjono, serta Muhammad Awallutfi Andhika Putra.
Pemegang lisensi lain meliputi M. Joel Mastana dan Abimanju Lestarijono sebagai Tourism Steward; Rulianto Katam, Abimanju Lestarijono, Frans Tanujaya, Marie Ashley Lestarijono, serta Dina Pramita Kesuma pada Sustainability Steward. Di sektor medis, Hamzah Zainy mengantongi Chief Medical Officer Licence, sementara Superlicence Chief Medical Officer dipegang Mokhammad Rakhmad Abadi dan Eko Widya Nugroho. Robert Cong tercatat sebagai Technical Steward All Disciplines, sedangkan lisensi Timekeeper dimiliki Heryantoro Pamungkas, Fernandy Maulana, dan Sulham.
Keberadaan empat pemegang Superlicence berdampak langsung pada penyelenggaraan MotoGP Mandalika. Pada periode awal, Clerk of the Course masih didatangkan dari luar negeri. Kini, perangkat kontrol perlombaan di luar steward permanen FIM telah ditangani sepenuhnya oleh tenaga nasional.
“Perangkat kontrol kita di luar steward permanen FIM sudah 100 persen Indonesia, bahkan sudah lokal NTB,” tegas Awallutfi.
Ia juga menggambarkan tingkat kesulitan ujian perpanjangan lisensi yang menyerupai kondisi nyata lintasan.
“Walaupun ujian tulis, waktunya sangat singkat. Kita harus bisa menyelesaikan suatu case seperti kondisi di lapangan, jadi memang menguji ketepatan dan kecepatan pengambilan keputusan,” ungkapnya.
Menurut Awallutfi, pencapaian ini membawa kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar.
“Ini tentu kebanggaan, karena Indonesia baru memiliki empat orang pemegang Superlicence. Tapi ini juga tanggung jawab besar untuk memastikan balapan berjalan aman dan lancar sesuai standar dunia,” jelasnya.
Untuk musim balap mendatang, kesiapan perangkat kontrol dinilai sudah solid.
“Untuk 2026 dan 2027, perangkat kontrol kita sudah aman karena sudah ada dari Indonesia semuanya,” paparnya.
Selain mengikuti seminar, MGPA memanfaatkan momentum di Lyon untuk memperkenalkan Pertamina Mandalika International Circuit, mempromosikan Mandalika dan Lombok, serta membagikan kalender kegiatan 2025 dan 2026 kepada delegasi internasional, termasuk perwakilan Dorna Sports, Race Director MotoGP Mike Webb, dan FIM MotoGP Permanent Steward Simon Crafar.
Priandhi Satria menegaskan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang membangun kemandirian motorsport nasional.
“Kami tidak ingin Mandalika hanya menjadi tuan rumah semata. Kami ingin Indonesia menjadi bagian dari sistem, dari pengambil keputusan, dan dari penentu standar balap dunia. Ketika perangkat kontrol balapan sudah dipegang oleh SDM Indonesia, itu berarti kita bisa dan dipercaya. Dan kepercayaan itu harus dijaga dengan profesionalisme dan standar tertinggi. Jelas ini sangat membanggakan dan bukti Indonesia mampu,” jelasnya.
Ia menambahkan komitmen pengembangan berkelanjutan di dalam negeri.
“Ini bukan soal satu event. Ini soal masa depan motorsport Indonesia. Target kami jelas, Sirkuit Mandalika harus menjadi penyelenggara event motorsport dunia yang berkelanjutan. Ilmu yang kami dapatkan, juga dapat kami terapkan di berbagai balap lokal maupun nasional di Pertamina Mandalika International Circuit, untuk lebih mendekatkan diri dengan standard balap international. Mandalika Racing Series (MRS) adalah salah satu balap Kejuaraan Nasional (KejurNas) yang terus menerus diperbaiki sehingga penyelenggaraan balapnya sangat dekat dengan standard FIM,” pungkasnya.
Dengan empat Superlicence aktif dan sumber daya manusia yang semakin kompeten, Indonesia kini tidak hanya berperan sebagai penyelenggara, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pengambilan keputusan dalam ekosistem balap motor dunia.
Editor: Redaksi TVRINews




